Seputar Kaltim

    Dapat Anggaran Tambahan Rp100 Juta, Festival Nondoi PPU Digelar November

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    22 September 2026 pukul 22:50 WITA

    Gelaran Festival Belian Adat Paser Nondoi Tahun 2025 di Kabupaten PPU. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Pelaksanaan Festival Belian Adat Paser Nondoi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) bergeser dari Oktober menjadi pekan kedua November 2026.

    Perubahan jadwal itu berkaitan dengan tambahan anggaran Rp100 juta yang masih menunggu pengesahan APBD Perubahan.

    Pamong Budaya Ahli Muda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Budi Setyo, mengatakan anggaran awal festival sebesar Rp200 juta ditambah Rp100 juta dari pemerintah daerah.

    "Tambahan anggaran Rp100 juta ini masih menunggu APBD Perubahan. Kalau sudah tersedia, pelaksanaan Festival Nondoi ditargetkan pada pekan kedua November," kata Budi, Selasa (22/9/2026).

    Tambahan anggaran turut membuka ruang perubahan durasi kegiatan. Dari rencana awal tiga hari, festival kini disiapkan selama empat hari empat malam.

    Budi menegaskan ritual Belian tetap menjadi agenda utama dan tidak akan dihilangkan. Rincian durasi ritual nantinya ditentukan pihak adat melalui ketua mulung.

    "Tahun ini informasi sementara empat hari empat malam. Yang jelas ritual Belian sampai larung jangkit tetap harus terlaksana. Untuk perhitungan harinya nanti dibahas bersama pihak adat," ujarnya.

    Pemkab PPU juga berencana melibatkan empat kecamatan dalam rangkaian festival, termasuk menampilkan seni dan budaya dari masing-masing wilayah.

    Konsep kegiatan lain masih akan dimatangkan setelah anggaran perubahan tersedia. Disbudpar juga membuka peluang pelibatan pelaku ekonomi kreatif untuk mengisi aktivitas pada siang hingga sore hari, seperti yang dilakukan pada pelaksanaan tahun lalu.

    "Keinginan kami festival ini tetap hidup dari siang sampai malam. Tahun lalu ada pelaku ekraf dan permainan tradisional yang mengisi waktu siang, kemudian malamnya seni budaya dan ritual adat," jelas Budi.

    Konsep tersebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama pihak terkait dan event organizer yang nantinya menangani pelaksanaan festival.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Dapat Anggaran Tambahan Rp100 Juta, Festival Nondoi PPU Digelar November

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    22 September 2026 pukul 22:50 WITA

    Gelaran Festival Belian Adat Paser Nondoi Tahun 2025 di Kabupaten PPU. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Pelaksanaan Festival Belian Adat Paser Nondoi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) bergeser dari Oktober menjadi pekan kedua November 2026.

    Perubahan jadwal itu berkaitan dengan tambahan anggaran Rp100 juta yang masih menunggu pengesahan APBD Perubahan.

    Pamong Budaya Ahli Muda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Budi Setyo, mengatakan anggaran awal festival sebesar Rp200 juta ditambah Rp100 juta dari pemerintah daerah.

    "Tambahan anggaran Rp100 juta ini masih menunggu APBD Perubahan. Kalau sudah tersedia, pelaksanaan Festival Nondoi ditargetkan pada pekan kedua November," kata Budi, Selasa (22/9/2026).

    Tambahan anggaran turut membuka ruang perubahan durasi kegiatan. Dari rencana awal tiga hari, festival kini disiapkan selama empat hari empat malam.

    Budi menegaskan ritual Belian tetap menjadi agenda utama dan tidak akan dihilangkan. Rincian durasi ritual nantinya ditentukan pihak adat melalui ketua mulung.

    "Tahun ini informasi sementara empat hari empat malam. Yang jelas ritual Belian sampai larung jangkit tetap harus terlaksana. Untuk perhitungan harinya nanti dibahas bersama pihak adat," ujarnya.

    Pemkab PPU juga berencana melibatkan empat kecamatan dalam rangkaian festival, termasuk menampilkan seni dan budaya dari masing-masing wilayah.

    Konsep kegiatan lain masih akan dimatangkan setelah anggaran perubahan tersedia. Disbudpar juga membuka peluang pelibatan pelaku ekonomi kreatif untuk mengisi aktivitas pada siang hingga sore hari, seperti yang dilakukan pada pelaksanaan tahun lalu.

    "Keinginan kami festival ini tetap hidup dari siang sampai malam. Tahun lalu ada pelaku ekraf dan permainan tradisional yang mengisi waktu siang, kemudian malamnya seni budaya dan ritual adat," jelas Budi.

    Konsep tersebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama pihak terkait dan event organizer yang nantinya menangani pelaksanaan festival.

    (Sf/Lo)