Seputar Kaltim

    Dana Desa Swarga Bara Turun Jadi Rp373 Juta, 10 Posyandu Tetap Dibiayai

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    16 September 2026 pukul 13:28 WITA

    Sekretaris Desa Swarga Bara, Kutim, Rulliyanti. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Dana Desa (DD) yang diterima Pemerintah Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), turun drastis pada 2026. Dari sekitar Rp1,9 miliar pada 2025, anggaran yang diterima tahun ini menjadi sekitar Rp373 juta.

    Sekretaris Desa Swarga Bara, Rulliyanti, mengatakan penurunan tersebut terjadi seiring adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat pada 2026.

    “Dana desa tahun kemarin 2025 itu Rp1,9 miliar sekian. Cuman memang karena 2026 ini memang dari pemerintah pusat ada pengurangan efisiensi anggaran, jadi hanya menerima Rp373 juta,” ujar Rulliyanti.

    Dengan anggaran yang lebih terbatas, pemerintah desa melakukan penyesuaian terhadap penggunaan DD. Salah satu fokus pembiayaan tahun ini berkaitan dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

    “Jadi memang fokusnya adalah untuk Koperasi Desa Merah Putih. Makanya tahun ini kami hanya mendapatkan Rp373 juta,” katanya.

    Meski ruang anggaran berkurang, pemerintah desa masih mempertahankan pembiayaan untuk pelayanan dasar masyarakat, khususnya kegiatan posyandu.

    Rully mengatakan operasional posyandu dan transportasi kader tetap dianggarkan pada 2026. Namun, nominalnya disesuaikan dengan kemampuan anggaran desa dan tidak lagi sebesar tahun sebelumnya.

    “Kalau fokusnya untuk kesehatan seperti posyandu, karena kami merasa bahwa kader posyandu ataupun posyandu itu adalah ujung tombak daripada pelayanan kesehatan di bawah,” jelasnya.

    Desa Swarga Bara memiliki 10 posyandu. Selain pembiayaan operasional, dukungan transportasi bagi kader juga tetap diberikan.

    Menurut Rully, keputusan mempertahankan dukungan terhadap posyandu berkaitan dengan peran kader dalam pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.

    “Tahun ini tetap diadakan pembiayaan operasional dan juga transport untuk kader posyandu,” tuturnya.

    Selain posyandu, operasional Desa Siaga juga tetap diberikan. Namun, besaran dukungan anggarannya kembali disesuaikan dengan kondisi keuangan desa.

    “Terus ada beberapa kegiatan yang menurut kami untuk lembaga seperti Desa Siaga tetap dibiayai. Namun, mungkin nominalnya sudah tidak tinggi seperti yang tahun sebelumnya. Jadi, hanya menyesuaikan anggaran saja,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Dana Desa Swarga Bara Turun Jadi Rp373 Juta, 10 Posyandu Tetap Dibiayai

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    16 September 2026 pukul 13:28 WITA

    Sekretaris Desa Swarga Bara, Kutim, Rulliyanti. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Dana Desa (DD) yang diterima Pemerintah Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), turun drastis pada 2026. Dari sekitar Rp1,9 miliar pada 2025, anggaran yang diterima tahun ini menjadi sekitar Rp373 juta.

    Sekretaris Desa Swarga Bara, Rulliyanti, mengatakan penurunan tersebut terjadi seiring adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat pada 2026.

    “Dana desa tahun kemarin 2025 itu Rp1,9 miliar sekian. Cuman memang karena 2026 ini memang dari pemerintah pusat ada pengurangan efisiensi anggaran, jadi hanya menerima Rp373 juta,” ujar Rulliyanti.

    Dengan anggaran yang lebih terbatas, pemerintah desa melakukan penyesuaian terhadap penggunaan DD. Salah satu fokus pembiayaan tahun ini berkaitan dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

    “Jadi memang fokusnya adalah untuk Koperasi Desa Merah Putih. Makanya tahun ini kami hanya mendapatkan Rp373 juta,” katanya.

    Meski ruang anggaran berkurang, pemerintah desa masih mempertahankan pembiayaan untuk pelayanan dasar masyarakat, khususnya kegiatan posyandu.

    Rully mengatakan operasional posyandu dan transportasi kader tetap dianggarkan pada 2026. Namun, nominalnya disesuaikan dengan kemampuan anggaran desa dan tidak lagi sebesar tahun sebelumnya.

    “Kalau fokusnya untuk kesehatan seperti posyandu, karena kami merasa bahwa kader posyandu ataupun posyandu itu adalah ujung tombak daripada pelayanan kesehatan di bawah,” jelasnya.

    Desa Swarga Bara memiliki 10 posyandu. Selain pembiayaan operasional, dukungan transportasi bagi kader juga tetap diberikan.

    Menurut Rully, keputusan mempertahankan dukungan terhadap posyandu berkaitan dengan peran kader dalam pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.

    “Tahun ini tetap diadakan pembiayaan operasional dan juga transport untuk kader posyandu,” tuturnya.

    Selain posyandu, operasional Desa Siaga juga tetap diberikan. Namun, besaran dukungan anggarannya kembali disesuaikan dengan kondisi keuangan desa.

    “Terus ada beberapa kegiatan yang menurut kami untuk lembaga seperti Desa Siaga tetap dibiayai. Namun, mungkin nominalnya sudah tidak tinggi seperti yang tahun sebelumnya. Jadi, hanya menyesuaikan anggaran saja,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)