Seputar Kaltim

    Curahan Hati Kepala Sekolah di Samarinda Utara Soal Makan Bergizi Gratis, Katanya Bikin Beban Kerja Guru Bertambah

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    07 Maret 2025 pukul 14:37 WITA

    Pelaksanaan MBG di Bulan Suci Ramadan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Program Makan Bergizi Gratis yang diinisiasi oleh masa pemerintahan Prabowo-Gibran telah berjalan di Kota Samarinda dalam beberapa bulan terakhir. 

    Program ini, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. 

    Di tengah antusiasme sebagian pihak, muncul keluhan dari beberapa sekolah terkait pelaksanaan program ini.

    Salah satu suara yang muncul adalah dari Kepala SDN 003 Samarinda Utara, Utami. 

    Utami mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi sekolahnya sejak program ini berjalan. Salah satu keluhan utama adalah beban kerja guru yang bertambah.

    "Banyak sisi yang perlu dikaji ulang. Yang pertama, merepotkan guru, perasaan saya, karena harus meluangkan waktu dan menyisihkan waktu untuk membagi (makanan)," ujar Utami saat didatangi di sekolahnya, Jum’at (7/3/2025).

    Utami menjelaskan bahwa para guru harus mengalokasikan waktu khusus untuk mendistribusikan makanan kepada siswa. 

    Hal ini menambah beban kerja mereka di luar tugas mengajar. Selain itu, Utami juga menyoroti aspek pemerataan program ini.

    "Kedua, baik orang kaya atau orang miskin, sama mendapatkan dari pemerintah," tambahnya.

    Menurutnya, program ini memberikan makanan gratis kepada semua siswa, tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarga. 

    Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas program dalam menyasar siswa yang benar-benar membutuhkan.

    Dampak lain yang disoroti Utami adalah penurunan konsentrasi siswa selama jam pelajaran. 

    "Kalau di tingkat SD, sepertinya mereka kurang konsentrasi ya, karena mereka pengen cepat pulang atau cepat selesai, karena pengen cepat dapat bagian (makanan)," jelasnya.

    Antusiasme siswa terhadap makanan gratis justru mengalihkan perhatian mereka dari pelajaran. 

    Mereka menjadi tidak sabar dan terus-menerus bertanya kapan makanan akan dibagikan. Hal ini berdampak pada efektivitas jam belajar.

    “Karena di bulan Ramadan ini masih takjil aja ya, kalau makanan berat itu agak lama ya, karena mereka harus makan dan mereka sepertinya kurang fokus, mereka (murid) selalu bertanya-tanya kapan dibagi makanannya," tuturnya.

    Selain itu, program ini juga berdampak pada kantin sekolah. Dengan adanya makanan gratis, siswa cenderung mengurangi pembelian makanan di kantin. Hal ini berdampak pada pendapatan para pedagang kantin yang juga memiliki tanggungan biaya sewa dan pajak.

    "Kalau saya kurang mendukung sih, karena saya menghadapi kendala juga di lapangan, terutama kantin sekolah," pungkas Utami. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Curahan Hati Kepala Sekolah di Samarinda Utara Soal Makan Bergizi Gratis, Katanya Bikin Beban Kerja Guru Bertambah

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    07 Maret 2025 pukul 14:37 WITA

    Pelaksanaan MBG di Bulan Suci Ramadan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Program Makan Bergizi Gratis yang diinisiasi oleh masa pemerintahan Prabowo-Gibran telah berjalan di Kota Samarinda dalam beberapa bulan terakhir. 

    Program ini, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. 

    Di tengah antusiasme sebagian pihak, muncul keluhan dari beberapa sekolah terkait pelaksanaan program ini.

    Salah satu suara yang muncul adalah dari Kepala SDN 003 Samarinda Utara, Utami. 

    Utami mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi sekolahnya sejak program ini berjalan. Salah satu keluhan utama adalah beban kerja guru yang bertambah.

    "Banyak sisi yang perlu dikaji ulang. Yang pertama, merepotkan guru, perasaan saya, karena harus meluangkan waktu dan menyisihkan waktu untuk membagi (makanan)," ujar Utami saat didatangi di sekolahnya, Jum’at (7/3/2025).

    Utami menjelaskan bahwa para guru harus mengalokasikan waktu khusus untuk mendistribusikan makanan kepada siswa. 

    Hal ini menambah beban kerja mereka di luar tugas mengajar. Selain itu, Utami juga menyoroti aspek pemerataan program ini.

    "Kedua, baik orang kaya atau orang miskin, sama mendapatkan dari pemerintah," tambahnya.

    Menurutnya, program ini memberikan makanan gratis kepada semua siswa, tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarga. 

    Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas program dalam menyasar siswa yang benar-benar membutuhkan.

    Dampak lain yang disoroti Utami adalah penurunan konsentrasi siswa selama jam pelajaran. 

    "Kalau di tingkat SD, sepertinya mereka kurang konsentrasi ya, karena mereka pengen cepat pulang atau cepat selesai, karena pengen cepat dapat bagian (makanan)," jelasnya.

    Antusiasme siswa terhadap makanan gratis justru mengalihkan perhatian mereka dari pelajaran. 

    Mereka menjadi tidak sabar dan terus-menerus bertanya kapan makanan akan dibagikan. Hal ini berdampak pada efektivitas jam belajar.

    “Karena di bulan Ramadan ini masih takjil aja ya, kalau makanan berat itu agak lama ya, karena mereka harus makan dan mereka sepertinya kurang fokus, mereka (murid) selalu bertanya-tanya kapan dibagi makanannya," tuturnya.

    Selain itu, program ini juga berdampak pada kantin sekolah. Dengan adanya makanan gratis, siswa cenderung mengurangi pembelian makanan di kantin. Hal ini berdampak pada pendapatan para pedagang kantin yang juga memiliki tanggungan biaya sewa dan pajak.

    "Kalau saya kurang mendukung sih, karena saya menghadapi kendala juga di lapangan, terutama kantin sekolah," pungkas Utami. 

    (Sf/Rs)