Seputar Kaltim

    Cuma Pakai Anggaran Tak Sampai Rp100 Juta, Gebyar Literasi Kutim Catat 3.692 Kunjungan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    05 Oktober 2026 pukul 16:31 WITA

    Pameran buku Out of the Books Gebyar Literasi Kutai Timur 2026, di Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB, Sangatta Utara. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Gebyar Literasi Kutai Timur (Kutim) 2026 mencatat 3.692 kunjungan ke pameran buku Out of the Books dengan total estimasi realisasi anggaran dan dukungan teknis sekitar Rp95,6 juta. Pameran tersebut berlangsung selama 10 hari dan mencatat 2.840 transaksi pembelian buku.

    Ketua Panitia Pameran Buku Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026, Deden Lukman, menyebut jumlah kunjungan tersebut setara rata-rata 369 orang per hari.

    “Kunjungan dan transaksi pameran tercatat sebanyak 3.692 kunjungan, dengan rata-rata 369 orang per hari. Serta dibukukan sebanyak 2.840 transaksi belanja buku,” ujar Deden saat penutupan rangkaian kegiatan pameran buku Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026.

    Deden menjelaskan total estimasi realisasi anggaran dan dukungan teknis untuk kegiatan tersebut mencapai sekitar Rp95,6 juta.

    Dari jumlah tersebut, sekitar Rp79 juta bersumber dari dana Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara (YPPSB), sedangkan sekitar Rp15,7 juta berasal dari dana kolaborasi yang melibatkan diskusi, Mizan dan sponsor.

    Seluruh dana tersebut dialokasikan untuk berbagai kebutuhan kegiatan. Ia berharap dukungan terhadap kegiatan literasi dapat ditingkatkan pada pelaksanaan berikutnya.

    “Tidak sampai Rp100 juta saja kita bisa berbuat seperti ini. Apalagi nanti kalau lebih dari itu,” katanya.

    Dari sisi penjualan, capaian tersebut mencapai 175 persen dari target penerbit selama pameran yang berlangsung 10 hari.

    Menurutnya, mayoritas pembeli berasal dari kalangan keluarga. Buku anak-anak menjadi jenis buku yang paling diminati selama pameran.

    Sekitar 30 persen dari total buku yang terjual berada pada kisaran harga Rp3.800 hingga Rp15.000. Harga tersebut memberi pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan buku dengan harga terjangkau.

    Selain pameran buku, lebih dari 2.500 pegiat literasi, masyarakat umum dan anak sekolah mengikuti 15 rangkaian kegiatan selama 10 hari.

    Kegiatan tersebut meliputi mendongeng bersama Bunda Literasi, talk show tentang kecerdasan buatan (AI) dan keuangan, workshop penulisan, serta berbagai perlombaan seni dan literasi tingkat kabupaten.

    “2.500 orang pegiat literasi, masyarakat umum, anak sekolah kumpul di aula ini selama 10 hari. Itu bukan hal yang mudah tentunya,” jelasnya.

    Ia menilai tingginya kunjungan dan keterlibatan masyarakat menunjukkan kebutuhan terhadap ruang literasi yang edukatif dan inklusif.

    “Masyarakat Kutim haus akan ruang-ruang literasi yang edukatif dan inklusif. Perlu lagi banyak-banyak ruang-ruang seperti ini ke depannya,” ucapnya.

    Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang menghadiri kegiatan tersebut menilai literasi tidak cukup hanya dengan membaca. Kemampuan menulis, bercerita, memahami kehidupan dan berkomunikasi juga menjadi bagian dari literasi yang perlu dibangun.

    “Literasi itu hukumnya wajib di dalam kehidupan. Baik kehidupan secara pribadi, keluarga, masyarakat, kita berbangsa,” kata Ardiansyah.

    Ia juga mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan teknologi informasi. Menurutnya, kemampuan menyebarkan informasi kepada banyak orang harus diikuti tanggung jawab dalam menyampaikan sesuatu.

    “Kalau mau berkisah, mau berkesah cukup dituturkan langsung, jangan pakai ini ketikan,” tuturnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Cuma Pakai Anggaran Tak Sampai Rp100 Juta, Gebyar Literasi Kutim Catat 3.692 Kunjungan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    05 Oktober 2026 pukul 16:31 WITA

    Pameran buku Out of the Books Gebyar Literasi Kutai Timur 2026, di Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB, Sangatta Utara. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Gebyar Literasi Kutai Timur (Kutim) 2026 mencatat 3.692 kunjungan ke pameran buku Out of the Books dengan total estimasi realisasi anggaran dan dukungan teknis sekitar Rp95,6 juta. Pameran tersebut berlangsung selama 10 hari dan mencatat 2.840 transaksi pembelian buku.

    Ketua Panitia Pameran Buku Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026, Deden Lukman, menyebut jumlah kunjungan tersebut setara rata-rata 369 orang per hari.

    “Kunjungan dan transaksi pameran tercatat sebanyak 3.692 kunjungan, dengan rata-rata 369 orang per hari. Serta dibukukan sebanyak 2.840 transaksi belanja buku,” ujar Deden saat penutupan rangkaian kegiatan pameran buku Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026.

    Deden menjelaskan total estimasi realisasi anggaran dan dukungan teknis untuk kegiatan tersebut mencapai sekitar Rp95,6 juta.

    Dari jumlah tersebut, sekitar Rp79 juta bersumber dari dana Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara (YPPSB), sedangkan sekitar Rp15,7 juta berasal dari dana kolaborasi yang melibatkan diskusi, Mizan dan sponsor.

    Seluruh dana tersebut dialokasikan untuk berbagai kebutuhan kegiatan. Ia berharap dukungan terhadap kegiatan literasi dapat ditingkatkan pada pelaksanaan berikutnya.

    “Tidak sampai Rp100 juta saja kita bisa berbuat seperti ini. Apalagi nanti kalau lebih dari itu,” katanya.

    Dari sisi penjualan, capaian tersebut mencapai 175 persen dari target penerbit selama pameran yang berlangsung 10 hari.

    Menurutnya, mayoritas pembeli berasal dari kalangan keluarga. Buku anak-anak menjadi jenis buku yang paling diminati selama pameran.

    Sekitar 30 persen dari total buku yang terjual berada pada kisaran harga Rp3.800 hingga Rp15.000. Harga tersebut memberi pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan buku dengan harga terjangkau.

    Selain pameran buku, lebih dari 2.500 pegiat literasi, masyarakat umum dan anak sekolah mengikuti 15 rangkaian kegiatan selama 10 hari.

    Kegiatan tersebut meliputi mendongeng bersama Bunda Literasi, talk show tentang kecerdasan buatan (AI) dan keuangan, workshop penulisan, serta berbagai perlombaan seni dan literasi tingkat kabupaten.

    “2.500 orang pegiat literasi, masyarakat umum, anak sekolah kumpul di aula ini selama 10 hari. Itu bukan hal yang mudah tentunya,” jelasnya.

    Ia menilai tingginya kunjungan dan keterlibatan masyarakat menunjukkan kebutuhan terhadap ruang literasi yang edukatif dan inklusif.

    “Masyarakat Kutim haus akan ruang-ruang literasi yang edukatif dan inklusif. Perlu lagi banyak-banyak ruang-ruang seperti ini ke depannya,” ucapnya.

    Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang menghadiri kegiatan tersebut menilai literasi tidak cukup hanya dengan membaca. Kemampuan menulis, bercerita, memahami kehidupan dan berkomunikasi juga menjadi bagian dari literasi yang perlu dibangun.

    “Literasi itu hukumnya wajib di dalam kehidupan. Baik kehidupan secara pribadi, keluarga, masyarakat, kita berbangsa,” kata Ardiansyah.

    Ia juga mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan teknologi informasi. Menurutnya, kemampuan menyebarkan informasi kepada banyak orang harus diikuti tanggung jawab dalam menyampaikan sesuatu.

    “Kalau mau berkisah, mau berkesah cukup dituturkan langsung, jangan pakai ini ketikan,” tuturnya.

    (Sf/Rs)