Cari disini...
Seputar Kaltim
Truk pengangkut sampah milik DLH Samarinda yang semakin hemat. (Foto: aset milik seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mulai menerapkan langkah cerdas berbasis teknologi digital untuk memantau operasional armada pengangkut sampahnya.
Melalui pemasangan GPS tracker, sensor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan kartu Radio Frequency Identification (RFID), pergerakan truk dan konsumsi bahan bakar kini dapat dipantau secara lebih transparan dan terukur.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan program digitalisasi ini terus dimatangkan bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda.
Sambil menunggu sistem mandiri milik pemerintah rampung, DLH mengambil langkah taktis dengan menggandeng pihak ketiga.
"Untuk sementara sambil menunggu teman-teman diskominfo persiapan, kami juga bekerjasama dengan pihak ketiga kontrak untuk jangka pendek dalam artian memonitor pergerakan kendaraan pengangkutan sampah kita," ujarnya usai mengikuti rapat evaluasi bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Diskominfo, Jumat (12/6/2026).
Penerapan teknologi ini membawa perubahan, terutama dalam metode pengisian bahan bakar. Sopir truk tak lagi memegang uang tunai, melainkan cukup menempelkan kartu RFID pada SPBU yang telah ditentukan. Hal ini terbukti menekan kebocoran anggaran dan membuahkan penghematan.
"Alhamdulillah per Januari sampai bulan April ini, kalau kita bandingkan dengan tahun lalu, kami sudah berhasil mengefisiensikan BBM itu di angka delapan persen," katanya.
Capaian efisiensi tersebut terbilang luar biasa mengingat jumlah armada pengangkut sampah DLH Samarinda justru bertambah dari 61 unit menjadi 71 unit pada tahun ini.
Penghitungan efisiensi ini juga didasarkan pada volume liter BBM yang dihemat, bukan nilai rupiah, mengingat adanya fluktuasi kenaikan harga Dexlite.
Saat ini, pemasangan perangkat digital pemantau tersebut memang belum dilakukan secara menyeluruh dan baru diterapkan sebagai proyek percontohan.
"Perangkat ini baru kita uji coba di 30 truck yang ada. Nah kita punya 71 truck artinya masih 50 persen lebih sebelum kita pasang," ungkapnya.
Menariknya, dari segi pembiayaan, sistem ini dinilai sangat terjangkau dibandingkan dengan manfaat efisiensi yang diterima pemerintah daerah.
"Jadi untuk satu unit itu di angka Rp300.000 sebulan, ya lebih dari Rp9.000.000, totalnya Rp9.000.000 sebulan untuk 30 unit tadi," jelas Taufiq merinci biaya operasional uji coba tersebut.
Ke depannya, DLH Samarinda menargetkan tidak lagi bergantung pada vendor penyedia layanan. Pada 2027, sistem pengelolaan persampahan digital ini ditargetkan sudah siap digunakan dan dikelola sendiri oleh pemerintah kota.
"Jadi targetnya sebenarnya untuk tahun depan kita sudah mandiri, sudah punya sendiri. Makanya teman-teman diskominfo juga sedang berproses," tuturnya.
Nantinya, sistem mandiri yang dibangun bersama Diskominfo diharapkan memiliki kemampuan yang lebih komprehensif.
Tidak sekadar melacak kendaraan, sistem tersebut akan dilengkapi fitur untuk mendeteksi kondisi kontainer sampah apakah penuh atau kosong, hingga mengatur rute pengangkutan yang paling efektif di lapangan.
"Untuk jangka pendek ini hanya 30 saja kami pasang gps sampai akhir tahun ini. Tahun depan melihat situasi perkembangan dan koordinasi kami dengan sama teman-teman Diskominfo, karena sudah buat tim juga untuk bersama-sama mempersiapkan aplikasi ini," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Truk pengangkut sampah milik DLH Samarinda yang semakin hemat. (Foto: aset milik seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mulai menerapkan langkah cerdas berbasis teknologi digital untuk memantau operasional armada pengangkut sampahnya.
Melalui pemasangan GPS tracker, sensor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan kartu Radio Frequency Identification (RFID), pergerakan truk dan konsumsi bahan bakar kini dapat dipantau secara lebih transparan dan terukur.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan program digitalisasi ini terus dimatangkan bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda.
Sambil menunggu sistem mandiri milik pemerintah rampung, DLH mengambil langkah taktis dengan menggandeng pihak ketiga.
"Untuk sementara sambil menunggu teman-teman diskominfo persiapan, kami juga bekerjasama dengan pihak ketiga kontrak untuk jangka pendek dalam artian memonitor pergerakan kendaraan pengangkutan sampah kita," ujarnya usai mengikuti rapat evaluasi bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Diskominfo, Jumat (12/6/2026).
Penerapan teknologi ini membawa perubahan, terutama dalam metode pengisian bahan bakar. Sopir truk tak lagi memegang uang tunai, melainkan cukup menempelkan kartu RFID pada SPBU yang telah ditentukan. Hal ini terbukti menekan kebocoran anggaran dan membuahkan penghematan.
"Alhamdulillah per Januari sampai bulan April ini, kalau kita bandingkan dengan tahun lalu, kami sudah berhasil mengefisiensikan BBM itu di angka delapan persen," katanya.
Capaian efisiensi tersebut terbilang luar biasa mengingat jumlah armada pengangkut sampah DLH Samarinda justru bertambah dari 61 unit menjadi 71 unit pada tahun ini.
Penghitungan efisiensi ini juga didasarkan pada volume liter BBM yang dihemat, bukan nilai rupiah, mengingat adanya fluktuasi kenaikan harga Dexlite.
Saat ini, pemasangan perangkat digital pemantau tersebut memang belum dilakukan secara menyeluruh dan baru diterapkan sebagai proyek percontohan.
"Perangkat ini baru kita uji coba di 30 truck yang ada. Nah kita punya 71 truck artinya masih 50 persen lebih sebelum kita pasang," ungkapnya.
Menariknya, dari segi pembiayaan, sistem ini dinilai sangat terjangkau dibandingkan dengan manfaat efisiensi yang diterima pemerintah daerah.
"Jadi untuk satu unit itu di angka Rp300.000 sebulan, ya lebih dari Rp9.000.000, totalnya Rp9.000.000 sebulan untuk 30 unit tadi," jelas Taufiq merinci biaya operasional uji coba tersebut.
Ke depannya, DLH Samarinda menargetkan tidak lagi bergantung pada vendor penyedia layanan. Pada 2027, sistem pengelolaan persampahan digital ini ditargetkan sudah siap digunakan dan dikelola sendiri oleh pemerintah kota.
"Jadi targetnya sebenarnya untuk tahun depan kita sudah mandiri, sudah punya sendiri. Makanya teman-teman diskominfo juga sedang berproses," tuturnya.
Nantinya, sistem mandiri yang dibangun bersama Diskominfo diharapkan memiliki kemampuan yang lebih komprehensif.
Tidak sekadar melacak kendaraan, sistem tersebut akan dilengkapi fitur untuk mendeteksi kondisi kontainer sampah apakah penuh atau kosong, hingga mengatur rute pengangkutan yang paling efektif di lapangan.
"Untuk jangka pendek ini hanya 30 saja kami pasang gps sampai akhir tahun ini. Tahun depan melihat situasi perkembangan dan koordinasi kami dengan sama teman-teman Diskominfo, karena sudah buat tim juga untuk bersama-sama mempersiapkan aplikasi ini," pungkasnya.
(Sf/Lo)