Seputar Kaltim

    Cuaca Panas saat Musim Kemarau Bisa Picu Heat Stroke, Warga Kukar Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    11 Agustus 2026 pukul 18:54 WITA

    Ilustrasi heat stroke (Dok: Freepik)

    Tenggarong - Cuaca panas yang terjadi selama musim kemarau perlu diwaspadai masyarakat di Kutai Kartanegara (Kukar).

    Paparan suhu panas dalam waktu lama, terutama saat melakukan aktivitas fisik di luar ruangan berpotensi dapat meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke atau serangan panas.

    Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinkes Kukar, Budy Setiawan mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di bawah terik matahari apabila tidak memiliki kepentingan mendesak.

    “Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya masyarakat menahan diri untuk tidak keluar rumah. Tetapi kalau memang ada aktivitas yang harus dilakukan, silahkan saja, dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan kesehatan,” ujar Budy, Selasa (11/8/2026).

    Menurutnya, menjaga kondisi tubuh selama musim kemarau tidak hanya dilakukan dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. Asupan makanan dan cairan juga perlu menjadi perhatian agar tubuh tetap terjaga.

    Budy juga mengingatkan masyarakat tidak menganggap sepele ketika mulai mengalami gangguan kesehatan.

    Ia menganjurkan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila muncul keluhan yang cukup berat atau berlangsung terus-menerus.

    “Kalau ada keluhan seperti muntah atau diare yang berlebihan, jangan dibiarkan. Segera datang ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat supaya bisa mendapatkan penanganan,” sarannya.

    Di sisi lain, Dinkes Kukar mencatat kondisi kasus ISPA hingga kini masih relatif terkendali dan belum terlihat adanya lonjakan kasus yang signifikan selama periode musim kemarau.

    “Untuk ISPA trennya masih stagnan, belum ada peningkatan yang signifikan,” paparnya.

    Namun, kondisi tersebut masih akan dipantau seiring dengan kemungkinan musim kemarau berlangsung lebih panjang.

    Ia mengungkapkan ancaman terhadap kesehatan saluran pernapasan dapat meningkat, apabila selama musim kemarau kerap terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

    Sebab, asap maupun debu yang memenuhi udara akibat kebakaran dapat menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi pernapasan masyarakat.

    “Kalau ada peningkatan ISPA, biasanya berkaitan dengan Karhutla. Asap serta debu yang berada di udara bisa memicu bertambahnya kasus ISPA,” terang Budy.

    Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diminta tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

    “Mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan air putih serta memastikan kebersihan makanan menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan,” tandasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Cuaca Panas saat Musim Kemarau Bisa Picu Heat Stroke, Warga Kukar Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    11 Agustus 2026 pukul 18:54 WITA

    Ilustrasi heat stroke (Dok: Freepik)

    Tenggarong - Cuaca panas yang terjadi selama musim kemarau perlu diwaspadai masyarakat di Kutai Kartanegara (Kukar).

    Paparan suhu panas dalam waktu lama, terutama saat melakukan aktivitas fisik di luar ruangan berpotensi dapat meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke atau serangan panas.

    Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinkes Kukar, Budy Setiawan mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di bawah terik matahari apabila tidak memiliki kepentingan mendesak.

    “Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya masyarakat menahan diri untuk tidak keluar rumah. Tetapi kalau memang ada aktivitas yang harus dilakukan, silahkan saja, dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan kesehatan,” ujar Budy, Selasa (11/8/2026).

    Menurutnya, menjaga kondisi tubuh selama musim kemarau tidak hanya dilakukan dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. Asupan makanan dan cairan juga perlu menjadi perhatian agar tubuh tetap terjaga.

    Budy juga mengingatkan masyarakat tidak menganggap sepele ketika mulai mengalami gangguan kesehatan.

    Ia menganjurkan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila muncul keluhan yang cukup berat atau berlangsung terus-menerus.

    “Kalau ada keluhan seperti muntah atau diare yang berlebihan, jangan dibiarkan. Segera datang ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat supaya bisa mendapatkan penanganan,” sarannya.

    Di sisi lain, Dinkes Kukar mencatat kondisi kasus ISPA hingga kini masih relatif terkendali dan belum terlihat adanya lonjakan kasus yang signifikan selama periode musim kemarau.

    “Untuk ISPA trennya masih stagnan, belum ada peningkatan yang signifikan,” paparnya.

    Namun, kondisi tersebut masih akan dipantau seiring dengan kemungkinan musim kemarau berlangsung lebih panjang.

    Ia mengungkapkan ancaman terhadap kesehatan saluran pernapasan dapat meningkat, apabila selama musim kemarau kerap terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

    Sebab, asap maupun debu yang memenuhi udara akibat kebakaran dapat menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi pernapasan masyarakat.

    “Kalau ada peningkatan ISPA, biasanya berkaitan dengan Karhutla. Asap serta debu yang berada di udara bisa memicu bertambahnya kasus ISPA,” terang Budy.

    Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diminta tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

    “Mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan air putih serta memastikan kebersihan makanan menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan,” tandasnya.

    (Sf/Lo)