Seputar Kaltim

    Cuaca Buruk Bikin Inflasi Kaltim Naik 

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    01 Maret 2024 pukul 19:11 WITA

    Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur, Yusniar Juliana dalam menyampaikan rilis inflasi bulan Februari 2023. (Foto: HO/BPS Kaltim)

    Samarinda - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terkini yang menunjukkan dampak signifikan cuaca terhadap ekonomi lokal, khususnya pada pasokan komoditas di Kalimantan Timur (Kaltim). Pada bulan Februari 2024, Bumi Etam mengalami inflasi bulanan sebesar 0,27 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,28 persen, dengan cuaca buruk sebagai faktor utama pemicu inflasi.

    Musim kemarau yang berkepanjangan pada tahun 2023 telah menyebabkan penundaan masa panen, menurut Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana. "Dampak musim kemarau panjang tahun 2023 yang menyebabkan masa panen mengalami kemunduran," ujar Yusniar. 

    Inflasi bulanan di Kaltim didorong oleh kelompok transportasi, yang memberikan kontribusi sebesar 0,14 persen. Komoditas utama yang mempengaruhi inflasi di sektor ini meliputi angkutan udara, sepeda motor, sepeda, ban luar motor, dan pelumas/oli mesin.

    Sementara itu, inflasi tahunan dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi sebesar 1,98 persen. Beras, sigaret kretek mesin (SKM), tomat, bawang putih, dan ikan layang/ikan benggol merupakan komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi di kelompok ini.

    Inflasi antar wilayah yang tercakup dalam indeks harga konsumen (IHK) Februari 2024 juga menunjukkan variasi, dengan Kabupaten Berau mencatat IHK tertinggi sebesar 106.32 dan inflasi bulanan sebesar 0,64 persen.

    Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni menghadiri rilis tersebut dan memberikan sambutannya. Ia mengatakan bahwa data ini menegaskan pentingnya faktor cuaca dalam ekonomi lokal dan bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi harga-harga di pasar.

    "Pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak negatif dari perubahan cuaca terhadap pasokan komoditas dan stabilitas harga," bubuhnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Cuaca Buruk Bikin Inflasi Kaltim Naik 

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    01 Maret 2024 pukul 19:11 WITA

    Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur, Yusniar Juliana dalam menyampaikan rilis inflasi bulan Februari 2023. (Foto: HO/BPS Kaltim)

    Samarinda - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terkini yang menunjukkan dampak signifikan cuaca terhadap ekonomi lokal, khususnya pada pasokan komoditas di Kalimantan Timur (Kaltim). Pada bulan Februari 2024, Bumi Etam mengalami inflasi bulanan sebesar 0,27 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,28 persen, dengan cuaca buruk sebagai faktor utama pemicu inflasi.

    Musim kemarau yang berkepanjangan pada tahun 2023 telah menyebabkan penundaan masa panen, menurut Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana. "Dampak musim kemarau panjang tahun 2023 yang menyebabkan masa panen mengalami kemunduran," ujar Yusniar. 

    Inflasi bulanan di Kaltim didorong oleh kelompok transportasi, yang memberikan kontribusi sebesar 0,14 persen. Komoditas utama yang mempengaruhi inflasi di sektor ini meliputi angkutan udara, sepeda motor, sepeda, ban luar motor, dan pelumas/oli mesin.

    Sementara itu, inflasi tahunan dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi sebesar 1,98 persen. Beras, sigaret kretek mesin (SKM), tomat, bawang putih, dan ikan layang/ikan benggol merupakan komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi di kelompok ini.

    Inflasi antar wilayah yang tercakup dalam indeks harga konsumen (IHK) Februari 2024 juga menunjukkan variasi, dengan Kabupaten Berau mencatat IHK tertinggi sebesar 106.32 dan inflasi bulanan sebesar 0,64 persen.

    Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni menghadiri rilis tersebut dan memberikan sambutannya. Ia mengatakan bahwa data ini menegaskan pentingnya faktor cuaca dalam ekonomi lokal dan bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi harga-harga di pasar.

    "Pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak negatif dari perubahan cuaca terhadap pasokan komoditas dan stabilitas harga," bubuhnya.

    (Sf/Rs)