Cari disini...
Seputar Kaltim
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan PPU, Ristu Pramula.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Dinas Pertanian (Distan) Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan 2 ribu dosis vaksin Lumpy Skin Disease (LSD) yang diterima dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) untuk mencegah penyakit lato-lato pada sapi dan kerbau.
Meski gejala pada penyakit lato-lato ini hanya ditandai dengan munculnya benjolan pada bagian leher, punggung dan perut, tapi jika dibiarkan atau tidak ditangani, maka gejalanya berpotensi membuat sapi dan kerbau yang terjangkit berakhir mati.
“Gejalanya tidak berbahaya jika dibandingkan dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), tapi tetap harus ada penanganan karena jika dibiarkan dapat mengganggu kondisi kesehatannya,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan PPU, Ristu Pramula, Rabu (29/1/2025).
Gejalanya juga turut mempengaruhi produksi susu pada sapi ternak, sehingga langkah pencegahan sangat penting untuk dilakukan.
Ristu mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyakit ini dengan cara membersihkan kandang secara rutin, memberantas serangga seperti nyamuk, caplak dan lalat karena berpotensi menularkan wabah ini ke hewan ternak yang lain.
“Meski penyakit lato-lato belum ditemukan di PPU, tapi kita harus melakukan pencegahan penyakit lato-lato ini supaya tidak ada sapi dan kerbau yang terjangkit. Tapi hewan yang terjangkit masih bisa untuk dikonsumsi, jadi aman saja,” tandasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan PPU, Ristu Pramula.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Dinas Pertanian (Distan) Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan 2 ribu dosis vaksin Lumpy Skin Disease (LSD) yang diterima dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) untuk mencegah penyakit lato-lato pada sapi dan kerbau.
Meski gejala pada penyakit lato-lato ini hanya ditandai dengan munculnya benjolan pada bagian leher, punggung dan perut, tapi jika dibiarkan atau tidak ditangani, maka gejalanya berpotensi membuat sapi dan kerbau yang terjangkit berakhir mati.
“Gejalanya tidak berbahaya jika dibandingkan dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), tapi tetap harus ada penanganan karena jika dibiarkan dapat mengganggu kondisi kesehatannya,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan PPU, Ristu Pramula, Rabu (29/1/2025).
Gejalanya juga turut mempengaruhi produksi susu pada sapi ternak, sehingga langkah pencegahan sangat penting untuk dilakukan.
Ristu mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyakit ini dengan cara membersihkan kandang secara rutin, memberantas serangga seperti nyamuk, caplak dan lalat karena berpotensi menularkan wabah ini ke hewan ternak yang lain.
“Meski penyakit lato-lato belum ditemukan di PPU, tapi kita harus melakukan pencegahan penyakit lato-lato ini supaya tidak ada sapi dan kerbau yang terjangkit. Tapi hewan yang terjangkit masih bisa untuk dikonsumsi, jadi aman saja,” tandasnya.
(Sf/By)