Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala DP3AKB Balikpapan Alwiati (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan menyoroti maraknya kasus eksploitasi pada anak di Kota Minyak.
Berdasarkan fakta di lapangan, masih banyak ditemui anak-anak yang berjualan tisu, koran, mengamen hingga mengemis di pusat keramaian. Salah satunya di kawasan Balikpapan Permai (BP) dan kawasan lapangan merdeka Kota Balikpapan.
Kepala DP3AKB Balikpapan Alwiati mengatakan bentuk kolaborasi menjadi poin penting dalam menghadapi kasus eksploitasi anak. Ini juga sebagai bentuk intervensi terhadap orang tua dan DP3AKB melibatkan pihak Kepolisian, Satpol PP, DP3AKB, Psikolog, Dinas Sosial, RT dan lainnya.
"Tidak hanya anak yang dirawat, melainkan orang tua juga harus diedukasi untuk mencegah praktik kasus eksploitasi anak meluas,” ucap Bu Alwi, sapaan akrabnya, Senin (8/1/2024).
DP3AKB juga akan turun bersama dengan psikolog untuk melakukan sosialisasi sekaligus konsultasi memberikan tips pola asuh terhadap anak. “Eksploitasi anak berawal dari pola asuh yang salah, sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," jelasnya.
DP3AKB, kata dia, berperan sebagai instansi edukasi dengan mendampingi anak korban eksploitasi orang tuanya. Dengan treatment dan perawatan yang bekerjasama dengan psikolog.
"Jadi psikolog lah yang mengedukasi setiap hari, untuk melihat perkembangan dari perilaku anak seperti apa, kami rawat dulu, di treatment dulu dari unsur pelaksana teknis dinas, kemudian kami serahkan ke panti asuhan atau pesantren. Jika anak kondisinya sudah aman, baru diperbolehkan untuk sekolah,” imbuhnya.
Apalagi, lanjut Bu Alwi, Dinas sosial belum memiliki wadah khusus untuk tempat edukasi dan DP3AKB melibatkan panti asuhan dan pesantren untuk proses mengedukasi. Ini untuk mencegah adanya kasus eksploitasi anak di Balikpapan.
“Kami akan titipkan sesuai regulasi, tidak bisa sembarangan menitipkan anak di pesantren atau panti asuhan. Dinas Sosial juga bersedia membiayai anak-anak mulai dari makan hingga pendidikannya,” paparnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala DP3AKB Balikpapan Alwiati (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan menyoroti maraknya kasus eksploitasi pada anak di Kota Minyak.
Berdasarkan fakta di lapangan, masih banyak ditemui anak-anak yang berjualan tisu, koran, mengamen hingga mengemis di pusat keramaian. Salah satunya di kawasan Balikpapan Permai (BP) dan kawasan lapangan merdeka Kota Balikpapan.
Kepala DP3AKB Balikpapan Alwiati mengatakan bentuk kolaborasi menjadi poin penting dalam menghadapi kasus eksploitasi anak. Ini juga sebagai bentuk intervensi terhadap orang tua dan DP3AKB melibatkan pihak Kepolisian, Satpol PP, DP3AKB, Psikolog, Dinas Sosial, RT dan lainnya.
"Tidak hanya anak yang dirawat, melainkan orang tua juga harus diedukasi untuk mencegah praktik kasus eksploitasi anak meluas,” ucap Bu Alwi, sapaan akrabnya, Senin (8/1/2024).
DP3AKB juga akan turun bersama dengan psikolog untuk melakukan sosialisasi sekaligus konsultasi memberikan tips pola asuh terhadap anak. “Eksploitasi anak berawal dari pola asuh yang salah, sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," jelasnya.
DP3AKB, kata dia, berperan sebagai instansi edukasi dengan mendampingi anak korban eksploitasi orang tuanya. Dengan treatment dan perawatan yang bekerjasama dengan psikolog.
"Jadi psikolog lah yang mengedukasi setiap hari, untuk melihat perkembangan dari perilaku anak seperti apa, kami rawat dulu, di treatment dulu dari unsur pelaksana teknis dinas, kemudian kami serahkan ke panti asuhan atau pesantren. Jika anak kondisinya sudah aman, baru diperbolehkan untuk sekolah,” imbuhnya.
Apalagi, lanjut Bu Alwi, Dinas sosial belum memiliki wadah khusus untuk tempat edukasi dan DP3AKB melibatkan panti asuhan dan pesantren untuk proses mengedukasi. Ini untuk mencegah adanya kasus eksploitasi anak di Balikpapan.
“Kami akan titipkan sesuai regulasi, tidak bisa sembarangan menitipkan anak di pesantren atau panti asuhan. Dinas Sosial juga bersedia membiayai anak-anak mulai dari makan hingga pendidikannya,” paparnya.
(Sf/By)