Seputar Kaltim

    Cara Unik Warga Gunung Samarinda Balikpapan Kumpulkan Iuran hingga Bisa Gelar Beragam Lomba dan Jalan Santai untuk Meriahkan HUT ke-81 RI 

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    12 Agustus 2026 pukul 13:35 WITA

    Suasana dilingkungan RT 11 Gunung Samarinda, Balikpapan Utara. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan - Warga RT 11 Kelurahan Gunung Samarinda (GSM), Balikpapan Utara, punya cara unik untuk mendapatkan sumber pendanaan, untuk menggelar berbagai kegiatan memeriahkan perayaan kemerdekaan, atau  Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. 

    Ketua RT 11 GSM, Sri Harningsih menyampaikan, pihaknya tak ingin membebani warga apalagi peserta lomba, terkait sumber dana penyelenggaraan acara. 

    “Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, warga RT 11 memiliki iuran rutin sebesar Rp12.500 per kepala keluarga (KK) setiap bulan. Dalam setahun, iuran tersebut terkumpul sebesar Rp150.000 per KK,” jelas Harningsih.

    Wanita yang karib disapa Sri menjelaskan, dana iuran warga digunakan untuk berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan kegiatan lingkungan, termasuk penyediaan souvenir berupa minyak goreng sebanyak dua liter, serta mendukung pelaksanaan sejumlah kegiatan dan perlombaan dalam rangka HUT RI.

    Selain iuran warga, kegiatan juga mendapat dukungan dari sejumlah donatur yang berasal dari warga setempat.

    “Ini sudah menjadi bagian dari tradisi tahunan warga untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI,” terangnya.

    Sri menegaskan, nilai utama dari kegiatan peringatan HUT RI bukan terletak pada besar kecilnya hadiah yang diberikan kepada para pemenang lomba. Menurutnya, yang lebih penting adalah terciptanya kebersamaan dan semangat gotong royong di lingkungan masyarakat.

    “Yang paling penting bukan besar kecilnya hadiah, tetapi bagaimana warga bisa berkumpul, saling membantu, bergembira bersama, serta mempererat silaturahmi, kebersamaan dan gotong royong seluruh warga,” ungkapnya.

     

    Dari duit yang terkumpul itu lah, sejumlah kegiatan bisa disiapkan dan melibatkan berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak hingga ibu-ibu.

    “Kami mengadakan beberapa kegiatan, terutama berbagai perlombaan untuk anak-anak, remaja, bapak-bapak, dan ibu-ibu. Selain itu, ada juga kegiatan syukuran dan jalan santai,” ucap Sri. 

    Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga. Berbagai perlombaan diharapkan dapat membuat warga berkumpul dan berinteraksi dalam suasana penuh kegembiraan.

    Namun, terkait adanya pandangan mengenai penggunaan uang iuran warga sebagai sumber hadiah perlombaan, dia memilih menyikapinya secara bijak.

    Ia mengatakan tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri mengenai persoalan halal atau haram, dan menyerahkan hal tersebut pada pandangan serta ketentuan pihak yang berkompeten.

    “Sebagai Ketua RT, saya akan menyikapinya secara bijak dan tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri soal halal-haram. Sebaiknya kami menghormati pandangan MUI dan mencari jalan yang paling aman bagi semua warga,” ujarnya.

    Dirinya menambahkan, apabila terdapat ketentuan atau pandangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai hadiah perlombaan yang bersumber dari uang iuran warga, hal tersebut akan dihormati dan menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan berikutnya.

    “Kalau memang ada ketentuan atau pandangan MUI mengenai hadiah lomba yang bersumber dari uang iuran warga, tentu akan kami hormati dan kami jadikan bahan evaluasi,” tambahnya.

    Sebagai langkah ke depan, Sri membuka kemungkinan agar hadiah perlombaan dapat berasal dari donatur, sponsor, maupun sumber dana lain yang tidak menimbulkan keraguan bagi warga. Sementara itu, iuran warga akan tetap digunakan sesuai kesepakatan dan kebutuhan kegiatan lingkungan.

    Kata dia, perbedaan pandangan mengenai sumber dana kegiatan tidak seharusnya mengurangi semangat warga dalam menjaga kerukunan.

    “Yang terpenting, jangan sampai perbedaan pandangan ini menimbulkan perpecahan. Semangat kami tetap kebersamaan, gotong royong, dan menjaga kenyamanan seluruh warga,” pungkasnya.

    Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di RT 11 GSM pun diharapkan menjadi momentum bagi warga untuk terus memperkuat rasa persatuan, kepedulian, dan kebersamaan di lingkungan tempat tinggal.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Cara Unik Warga Gunung Samarinda Balikpapan Kumpulkan Iuran hingga Bisa Gelar Beragam Lomba dan Jalan Santai untuk Meriahkan HUT ke-81 RI 

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    12 Agustus 2026 pukul 13:35 WITA

    Suasana dilingkungan RT 11 Gunung Samarinda, Balikpapan Utara. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan - Warga RT 11 Kelurahan Gunung Samarinda (GSM), Balikpapan Utara, punya cara unik untuk mendapatkan sumber pendanaan, untuk menggelar berbagai kegiatan memeriahkan perayaan kemerdekaan, atau  Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. 

    Ketua RT 11 GSM, Sri Harningsih menyampaikan, pihaknya tak ingin membebani warga apalagi peserta lomba, terkait sumber dana penyelenggaraan acara. 

    “Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, warga RT 11 memiliki iuran rutin sebesar Rp12.500 per kepala keluarga (KK) setiap bulan. Dalam setahun, iuran tersebut terkumpul sebesar Rp150.000 per KK,” jelas Harningsih.

    Wanita yang karib disapa Sri menjelaskan, dana iuran warga digunakan untuk berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan kegiatan lingkungan, termasuk penyediaan souvenir berupa minyak goreng sebanyak dua liter, serta mendukung pelaksanaan sejumlah kegiatan dan perlombaan dalam rangka HUT RI.

    Selain iuran warga, kegiatan juga mendapat dukungan dari sejumlah donatur yang berasal dari warga setempat.

    “Ini sudah menjadi bagian dari tradisi tahunan warga untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI,” terangnya.

    Sri menegaskan, nilai utama dari kegiatan peringatan HUT RI bukan terletak pada besar kecilnya hadiah yang diberikan kepada para pemenang lomba. Menurutnya, yang lebih penting adalah terciptanya kebersamaan dan semangat gotong royong di lingkungan masyarakat.

    “Yang paling penting bukan besar kecilnya hadiah, tetapi bagaimana warga bisa berkumpul, saling membantu, bergembira bersama, serta mempererat silaturahmi, kebersamaan dan gotong royong seluruh warga,” ungkapnya.

     

    Dari duit yang terkumpul itu lah, sejumlah kegiatan bisa disiapkan dan melibatkan berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak hingga ibu-ibu.

    “Kami mengadakan beberapa kegiatan, terutama berbagai perlombaan untuk anak-anak, remaja, bapak-bapak, dan ibu-ibu. Selain itu, ada juga kegiatan syukuran dan jalan santai,” ucap Sri. 

    Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga. Berbagai perlombaan diharapkan dapat membuat warga berkumpul dan berinteraksi dalam suasana penuh kegembiraan.

    Namun, terkait adanya pandangan mengenai penggunaan uang iuran warga sebagai sumber hadiah perlombaan, dia memilih menyikapinya secara bijak.

    Ia mengatakan tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri mengenai persoalan halal atau haram, dan menyerahkan hal tersebut pada pandangan serta ketentuan pihak yang berkompeten.

    “Sebagai Ketua RT, saya akan menyikapinya secara bijak dan tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri soal halal-haram. Sebaiknya kami menghormati pandangan MUI dan mencari jalan yang paling aman bagi semua warga,” ujarnya.

    Dirinya menambahkan, apabila terdapat ketentuan atau pandangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai hadiah perlombaan yang bersumber dari uang iuran warga, hal tersebut akan dihormati dan menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan berikutnya.

    “Kalau memang ada ketentuan atau pandangan MUI mengenai hadiah lomba yang bersumber dari uang iuran warga, tentu akan kami hormati dan kami jadikan bahan evaluasi,” tambahnya.

    Sebagai langkah ke depan, Sri membuka kemungkinan agar hadiah perlombaan dapat berasal dari donatur, sponsor, maupun sumber dana lain yang tidak menimbulkan keraguan bagi warga. Sementara itu, iuran warga akan tetap digunakan sesuai kesepakatan dan kebutuhan kegiatan lingkungan.

    Kata dia, perbedaan pandangan mengenai sumber dana kegiatan tidak seharusnya mengurangi semangat warga dalam menjaga kerukunan.

    “Yang terpenting, jangan sampai perbedaan pandangan ini menimbulkan perpecahan. Semangat kami tetap kebersamaan, gotong royong, dan menjaga kenyamanan seluruh warga,” pungkasnya.

    Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di RT 11 GSM pun diharapkan menjadi momentum bagi warga untuk terus memperkuat rasa persatuan, kepedulian, dan kebersamaan di lingkungan tempat tinggal.

    (Sf/Rs)