Cari disini...
Seputar Kaltim
Pertandingan Basket di tingkat mahasiswa yang baru diadakan di Samarinda. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Kabar gembira bagi para pebasket tingkat mahasiswa di Kalimantan Timur (Kaltim).
Kompetisi basket bergengsi antarkampus, Campus League, akhirnya resmi digelar di Samarinda.
Ajang ini tidak sekadar menjadi panggung adu gengsi almamater, tetapi secara nyata membuka peluang emas bagi talenta lokal untuk menembus pemusatan latihan Tim Nasional (Timnas) Indonesia.
Samarinda mencatatkan sejarah sebagai kota pertama di luar Pulau Jawa yang menjadi tuan rumah kompetisi ini.
Head of Competition and Talent Development Campus League, Dave Leopold, menegaskan bahwa muara dari kompetisi ini adalah mencari dan mencetak student athlete berkualitas.
"Tujuan utamanya adalah menghasilkan student athlete yang layak dipanggil Timnas. Di region lain, ada tujuh pemain putri Campus League yang dapat panggilan seleksi Timnas. Kami dari tim kompetisi selalu memberikan laporan statistik pemain kepada federasi sebagai bahan talent scouting," jelas Dave usai pertandingan, Sabtu (9/5/2026).
Untuk memastikan kualitas kompetisi sesuai standar federasi, Campus League menetapkan batasan umur pemain maksimal kelahiran 2003.
Menariknya, ajang ini mengizinkan pemain berstatus profesional hingga mahasiswa asing untuk turun bertanding, dengan syarat mutlak berstatus mahasiswa aktif yang terdaftar di Dikti.
Pemilihan Kota Tepian sebagai tuan rumah pertama di luar Jawa didasari oleh potensi ekosistem basketnya yang berkembang pesat.
Dave menilai, kompetisi antar-SMA yang berjalan ketat di Kaltim menjadi modal kuat yang sayang jika tidak diwadahi di level kampus.
Meski animo di musim perdana ini masih dalam tahap penjajakan dengan keikutsertaan empat tim putra, tensi pertandingan tetap berjalan kompetitif.
Menggunakan format setengah kompetisi (round robin), juara ditentukan murni dari hasil klasemen akhir.
Sang jawara nantinya berhak mewakili Samarinda terbang ke seri Nasional untuk bersaing dengan juara dari Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.
Melihat antusiasme yang ada, Dave menargetkan peserta di Samarinda bisa meningkat hingga 8 atau 12 tim pada tahun depan dan menggaransi Campus League akan terus eksis minimal hingga 10 tahun ke depan.
Hadirnya Campus League langsung disambut euforia oleh para peserta. Pelatih tim basket Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), Sandi Indra Cahya, menyebut turnamen ini sebagai wadah yang sudah lama dirindukan oleh mahasiswa.
"Ini pestanya mahasiswa di universitas! Sangat saya tunggu-tunggu dari dulu. Jadi anak basket itu mimpinya tidak berhenti hanya di DBL saat SMA saja, tapi saat kuliah pun mereka tetap punya panggung," tegas Sandi.
Sementara itu, Kapten Tim Polnes, Muhammad Rizki, mengakui timnya harus beradaptasi cepat dengan tingginya atmosfer Campus League.
Meski sempat terkendala lapangan dan cuaca dingin di hari pertama, mahasiswa Teknik Sipil yang bermain di posisi Point Guard ini mengaku puas dengan performa timnya yang berhasil memetik kemenangan di gim kedua.
"Kalau dari saya adaptasinya sudah lumayan. Memang di gim pertama itu masih kaget-kagetnya karena baru merasakan event Campus League ini. Tapi untungnya masih bisa dapat hasil maksimal," ujar Rizki.
Menghadapi partai penentuan selanjutnya, Rizki mengaku tidak ada strategi yang terlalu rumit.
"Harapannya besok mainnya sudah lebih enak. Persiapan buat besok istirahat yang cukup saja untuk teman-teman, makan yang banyak, dan selebihnya mengikuti strategi dari pelatih," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pertandingan Basket di tingkat mahasiswa yang baru diadakan di Samarinda. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Kabar gembira bagi para pebasket tingkat mahasiswa di Kalimantan Timur (Kaltim).
Kompetisi basket bergengsi antarkampus, Campus League, akhirnya resmi digelar di Samarinda.
Ajang ini tidak sekadar menjadi panggung adu gengsi almamater, tetapi secara nyata membuka peluang emas bagi talenta lokal untuk menembus pemusatan latihan Tim Nasional (Timnas) Indonesia.
Samarinda mencatatkan sejarah sebagai kota pertama di luar Pulau Jawa yang menjadi tuan rumah kompetisi ini.
Head of Competition and Talent Development Campus League, Dave Leopold, menegaskan bahwa muara dari kompetisi ini adalah mencari dan mencetak student athlete berkualitas.
"Tujuan utamanya adalah menghasilkan student athlete yang layak dipanggil Timnas. Di region lain, ada tujuh pemain putri Campus League yang dapat panggilan seleksi Timnas. Kami dari tim kompetisi selalu memberikan laporan statistik pemain kepada federasi sebagai bahan talent scouting," jelas Dave usai pertandingan, Sabtu (9/5/2026).
Untuk memastikan kualitas kompetisi sesuai standar federasi, Campus League menetapkan batasan umur pemain maksimal kelahiran 2003.
Menariknya, ajang ini mengizinkan pemain berstatus profesional hingga mahasiswa asing untuk turun bertanding, dengan syarat mutlak berstatus mahasiswa aktif yang terdaftar di Dikti.
Pemilihan Kota Tepian sebagai tuan rumah pertama di luar Jawa didasari oleh potensi ekosistem basketnya yang berkembang pesat.
Dave menilai, kompetisi antar-SMA yang berjalan ketat di Kaltim menjadi modal kuat yang sayang jika tidak diwadahi di level kampus.
Meski animo di musim perdana ini masih dalam tahap penjajakan dengan keikutsertaan empat tim putra, tensi pertandingan tetap berjalan kompetitif.
Menggunakan format setengah kompetisi (round robin), juara ditentukan murni dari hasil klasemen akhir.
Sang jawara nantinya berhak mewakili Samarinda terbang ke seri Nasional untuk bersaing dengan juara dari Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.
Melihat antusiasme yang ada, Dave menargetkan peserta di Samarinda bisa meningkat hingga 8 atau 12 tim pada tahun depan dan menggaransi Campus League akan terus eksis minimal hingga 10 tahun ke depan.
Hadirnya Campus League langsung disambut euforia oleh para peserta. Pelatih tim basket Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), Sandi Indra Cahya, menyebut turnamen ini sebagai wadah yang sudah lama dirindukan oleh mahasiswa.
"Ini pestanya mahasiswa di universitas! Sangat saya tunggu-tunggu dari dulu. Jadi anak basket itu mimpinya tidak berhenti hanya di DBL saat SMA saja, tapi saat kuliah pun mereka tetap punya panggung," tegas Sandi.
Sementara itu, Kapten Tim Polnes, Muhammad Rizki, mengakui timnya harus beradaptasi cepat dengan tingginya atmosfer Campus League.
Meski sempat terkendala lapangan dan cuaca dingin di hari pertama, mahasiswa Teknik Sipil yang bermain di posisi Point Guard ini mengaku puas dengan performa timnya yang berhasil memetik kemenangan di gim kedua.
"Kalau dari saya adaptasinya sudah lumayan. Memang di gim pertama itu masih kaget-kagetnya karena baru merasakan event Campus League ini. Tapi untungnya masih bisa dapat hasil maksimal," ujar Rizki.
Menghadapi partai penentuan selanjutnya, Rizki mengaku tidak ada strategi yang terlalu rumit.
"Harapannya besok mainnya sudah lebih enak. Persiapan buat besok istirahat yang cukup saja untuk teman-teman, makan yang banyak, dan selebihnya mengikuti strategi dari pelatih," tutupnya.
(Sf/Rs)