Cari disini...
Seputar Kaltim
Debat kandidat pertama Pilgub Kaltim yang disiarkan di Saluran You Tube. (Foto: Tangkapan Layar)
Samarinda - Menjadi momentum adu gagasan para pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), debat publik pertama yang hanya dapat disaksikan masyarakat melalui daring ini juga terasa euforianya.
Walaupun para pendukung menyaksikan di rumah masing-masing, antusias masyarakat juga terdengar oleh seluruh pasang mata melalui kolom komentar yang disiarkan dari saluran You Tube KPU Kaltim.
Namun bukan hanya masyarakat yang ikut berkomentar, tapi para buzzer dari masing-masing para Paslon juga ikut membanjiri kolom komentar. Detik demi detik kolom komentar terus bergerak.
Sosial Media Specialist, Nuril Hafizh Wardah menilai pergerakan yang ada di kolom komentar tersebut bukanlah hanya masyarakat biasa, namun ini merupakan gerakan dari para pendukung yang telah diberi tugas untuk berkomentar, salah satunya tugas buzzer.
Dugaan ini ia ungkapkan setelah melihat komentar dari buzzer yang memiliki irama dan narasi yang sama. "Bahkan mereka dengan akun yang sama dan narasi yang template (dengan format yang sudah ada sebelumnya) juga berkali-kali berkomentar. Tapi mereka melakukan ini dengan jeda, karena apabila tidak ada jeda, secara otomatis You Tube akan anggap itu sebuah pelanggaran, dan pengguna bisa dihapus oleh admin pemilik akun yang menyiarkan," paparnya.
Para buzzer, kata dia, sama sekali tidak mengganggu masyarakat dalam menyaksikan siaran langsung debat publik pertama ini. Menurutnya dengan kehadiran para buzzer membuat acara ini meriah dan memantik jumlah partisipan pemilih di Pilkada ini.
"Tak semuanya dianggap negatif, ini langkah positif untuk membuat seru debat ini. Namun yang harus diperhatikan adalah komentar negatif yang bernada mencela salah satu paslon," paparnya.
Untuk menghindari kolom komentar yang bernarasi negatif, penyelenggara harus menyediakan admin untuk menghapus dan membatasi akun yang dinilai dapat membuat suasana semakin genting dan memicu pertikaian. Bahkan yang lebih parahnya narasi tersebut dapat membuat di kehidupan nyata antarpendukung saling menghujat.
"Untuk mengelola komentar, kreator dan moderator YouTube dapat menggunakan fitur Jeda untuk menyaring komentar negatif atau troll. Fitur Jeda dapat diaktifkan di pengaturan video-level comment, tepatnya di sudut kanan atas panel komentar," tukasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Debat kandidat pertama Pilgub Kaltim yang disiarkan di Saluran You Tube. (Foto: Tangkapan Layar)
Samarinda - Menjadi momentum adu gagasan para pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), debat publik pertama yang hanya dapat disaksikan masyarakat melalui daring ini juga terasa euforianya.
Walaupun para pendukung menyaksikan di rumah masing-masing, antusias masyarakat juga terdengar oleh seluruh pasang mata melalui kolom komentar yang disiarkan dari saluran You Tube KPU Kaltim.
Namun bukan hanya masyarakat yang ikut berkomentar, tapi para buzzer dari masing-masing para Paslon juga ikut membanjiri kolom komentar. Detik demi detik kolom komentar terus bergerak.
Sosial Media Specialist, Nuril Hafizh Wardah menilai pergerakan yang ada di kolom komentar tersebut bukanlah hanya masyarakat biasa, namun ini merupakan gerakan dari para pendukung yang telah diberi tugas untuk berkomentar, salah satunya tugas buzzer.
Dugaan ini ia ungkapkan setelah melihat komentar dari buzzer yang memiliki irama dan narasi yang sama. "Bahkan mereka dengan akun yang sama dan narasi yang template (dengan format yang sudah ada sebelumnya) juga berkali-kali berkomentar. Tapi mereka melakukan ini dengan jeda, karena apabila tidak ada jeda, secara otomatis You Tube akan anggap itu sebuah pelanggaran, dan pengguna bisa dihapus oleh admin pemilik akun yang menyiarkan," paparnya.
Para buzzer, kata dia, sama sekali tidak mengganggu masyarakat dalam menyaksikan siaran langsung debat publik pertama ini. Menurutnya dengan kehadiran para buzzer membuat acara ini meriah dan memantik jumlah partisipan pemilih di Pilkada ini.
"Tak semuanya dianggap negatif, ini langkah positif untuk membuat seru debat ini. Namun yang harus diperhatikan adalah komentar negatif yang bernada mencela salah satu paslon," paparnya.
Untuk menghindari kolom komentar yang bernarasi negatif, penyelenggara harus menyediakan admin untuk menghapus dan membatasi akun yang dinilai dapat membuat suasana semakin genting dan memicu pertikaian. Bahkan yang lebih parahnya narasi tersebut dapat membuat di kehidupan nyata antarpendukung saling menghujat.
"Untuk mengelola komentar, kreator dan moderator YouTube dapat menggunakan fitur Jeda untuk menyaring komentar negatif atau troll. Fitur Jeda dapat diaktifkan di pengaturan video-level comment, tepatnya di sudut kanan atas panel komentar," tukasnya.
(Sf/Rs)