Seputar Kaltim

    Butuh Dana Besar untuk Hadirkan Kereta Api di Samarinda, Rp8 Triliun dapat Relnya Saja 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    11 Desember 2024 pukul 13:31 WITA

    Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu, Senin (10/12/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Keterbatasan anggaran menjadi kendala besar dalam pengadaan transportasi kereta api di Samarinda. Kepala Dinas Perhubungan Samarinda, Hotmarulitua Manalu mengatakan, kebutuhan anggaran untuk proyek ini sangat besar. Hanya untuk pembangunan rel saja, dana yang diperlukan mencapai Rp8 triliun. Itu belum termasuk biaya pengadaan gerbong dan fasilitas pendukung lainnya. Sedangkan, APBD yang dimiliki Samarinda belum sampai menyentuh angka Rp6 Triliun. 

    “APBD Kota Samarinda tidak cukup untuk menanggung beban ini. Jadi, realisasinya masih tergantung pada sumber dana lain, seperti dukungan pemerintah pusat atau skema kerja sama dengan swasta,” ungkap Manalu, saat diwawancara saat acara pemaparan studi kelayakan kereta api di Hotel Fugo Samarinda, Senin (10/12/2024). 

    Meski secara finansial dikatakan belum layak, tapi menurutnya dilihat dari sisi ekonomi, kereta api bisa mendorong perkembangan wilayah secara signifikan. 

    Mewujudkan pengadaan transportasi ini bukan hanya soal membangun rel dan membeli gerbong, tetapi juga memastikan keberlanjutan finansial proyek. Menurut Manalu, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada potensi ekonomi di jalur yang dilalui. Jika hanya melayani 520 penumpang per hari, proyek ini dianggap tidak layak secara finansial.  

    “Kalau di jalur tersebut ada pusat ekonomi atau kawasan wisata, mungkin lebih menguntungkan. Tapi untuk kebutuhan seperti sekolah, masyarakat cenderung enggan menggunakan kereta jika tarifnya mahal,” jelasnya.  

    Baginya, kereta api bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol kemajuan dan modernitas sebuah daerah. Di tengah segala keterbatasan, harapan itu tetap hidup. Seperti mimpi-mimpi besar lainnya, pengadaan kereta api di Samarinda menurutnya sangat memerlukan kerja keras, kolaborasi, dan ketekunan agar suatu hari nanti, kereta api benar-benar bisa melintasi kota ini. 

    Desain jalur juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan ruang jalan yang terbatas, ia mengatakan rencananya rel akan dibangun secara layang di atas jalan raya, sehingga tidak sebidang dengan lalu lintas kendaraan. Ini bertujuan untuk mengurangi dampak kemacetan dan memaksimalkan efisiensi ruang di kota.  

    Rencana pengadaan kereta api sebenarnya sudah dibahas sejak tahap pra-feasibility study (fs) beberapa waktu lalu. Namun, tanpa dukungan dana yang cukup, disebutkan pembahasan ini untuk sementara dihentikan. “Kita cukupkan dulu sampai di sini sebagai dasar rencana ke depan. Kalau nanti ada anggaran, baru kita lanjutkan,” pungkasnya. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Butuh Dana Besar untuk Hadirkan Kereta Api di Samarinda, Rp8 Triliun dapat Relnya Saja 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    11 Desember 2024 pukul 13:31 WITA

    Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu, Senin (10/12/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Keterbatasan anggaran menjadi kendala besar dalam pengadaan transportasi kereta api di Samarinda. Kepala Dinas Perhubungan Samarinda, Hotmarulitua Manalu mengatakan, kebutuhan anggaran untuk proyek ini sangat besar. Hanya untuk pembangunan rel saja, dana yang diperlukan mencapai Rp8 triliun. Itu belum termasuk biaya pengadaan gerbong dan fasilitas pendukung lainnya. Sedangkan, APBD yang dimiliki Samarinda belum sampai menyentuh angka Rp6 Triliun. 

    “APBD Kota Samarinda tidak cukup untuk menanggung beban ini. Jadi, realisasinya masih tergantung pada sumber dana lain, seperti dukungan pemerintah pusat atau skema kerja sama dengan swasta,” ungkap Manalu, saat diwawancara saat acara pemaparan studi kelayakan kereta api di Hotel Fugo Samarinda, Senin (10/12/2024). 

    Meski secara finansial dikatakan belum layak, tapi menurutnya dilihat dari sisi ekonomi, kereta api bisa mendorong perkembangan wilayah secara signifikan. 

    Mewujudkan pengadaan transportasi ini bukan hanya soal membangun rel dan membeli gerbong, tetapi juga memastikan keberlanjutan finansial proyek. Menurut Manalu, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada potensi ekonomi di jalur yang dilalui. Jika hanya melayani 520 penumpang per hari, proyek ini dianggap tidak layak secara finansial.  

    “Kalau di jalur tersebut ada pusat ekonomi atau kawasan wisata, mungkin lebih menguntungkan. Tapi untuk kebutuhan seperti sekolah, masyarakat cenderung enggan menggunakan kereta jika tarifnya mahal,” jelasnya.  

    Baginya, kereta api bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol kemajuan dan modernitas sebuah daerah. Di tengah segala keterbatasan, harapan itu tetap hidup. Seperti mimpi-mimpi besar lainnya, pengadaan kereta api di Samarinda menurutnya sangat memerlukan kerja keras, kolaborasi, dan ketekunan agar suatu hari nanti, kereta api benar-benar bisa melintasi kota ini. 

    Desain jalur juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan ruang jalan yang terbatas, ia mengatakan rencananya rel akan dibangun secara layang di atas jalan raya, sehingga tidak sebidang dengan lalu lintas kendaraan. Ini bertujuan untuk mengurangi dampak kemacetan dan memaksimalkan efisiensi ruang di kota.  

    Rencana pengadaan kereta api sebenarnya sudah dibahas sejak tahap pra-feasibility study (fs) beberapa waktu lalu. Namun, tanpa dukungan dana yang cukup, disebutkan pembahasan ini untuk sementara dihentikan. “Kita cukupkan dulu sampai di sini sebagai dasar rencana ke depan. Kalau nanti ada anggaran, baru kita lanjutkan,” pungkasnya. 

    (Sf/Rs)