Seputar Kaltim

    Bupati Kutim Tegaskan Pariwisata Pesisir Tak Boleh Korbankan Hutan Mangrove

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    05 Agustus 2026 pukul 19:16 WITA

    Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bersama peserta Gerakan Penanaman Mangrove di Pantai Teluk Lingga, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Pengembangan kawasan wisata pesisir di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak boleh mengorbankan keberadaan hutan mangrove. Bupati Kutim Ardiansyah, Sulaiman menegaskan, mangrove menjadi ekosistem penting yang harus dijaga karena mampu melindungi kawasan pesisir sekaligus menyerap karbon.

    Pernyataan itu disampaikan Ardiansyah saat menghadiri Gerakan Penanaman Mangrove di Pantai Teluk Lingga, Sangatta Utara, Rabu (5/8/2026).

    Menurutnya, Kutim memiliki salah satu kawasan hutan mangrove terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim) yang hingga kini masih terjaga di sepanjang kawasan pesisir.

    "Kita bersyukur salah satu hutan mangrove terbesar di Kalimantan Timur ada di Kutim. Kita memiliki garis pantai yang cukup panjang dan sampai saat ini hutan mangrovenya masih terjaga," ujar Ardiansyah.

    Ia menegaskan pengembangan sektor pariwisata tetap dapat berjalan berdampingan dengan upaya pelestarian lingkungan. Karena itu, pembukaan kawasan wisata tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan hutan mangrove.

    "Meskipun di satu sisi kita memanfaatkan wilayah tersebut sebagai pusat pariwisata, tapi tetap kita tidak akan membabat hutan mangrove secara membabi buta untuk kegiatan lainnya. Hutan mangrove tetap menjadi salah satu tolok ukur lingkungan hidup yang bisa berdampingan dengan pariwisata," tegasnya.

    Selain melindungi kawasan pesisir dari abrasi, Ardiansyah mengatakan hutan mangrove juga memiliki banyak manfaat lain. Beberapa jenis mangrove bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan dan produk kesehatan, sehingga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

    Ia menilai hutan mangrove juga menjadi penyangga kualitas lingkungan dengan memberikan kontribusi besar terhadap ketersediaan oksigen sekaligus menyerap karbon dioksida sehingga berperan penting dalam menghadapi perubahan iklim. 

    "Kita berharap meskipun pantai dimanfaatkan sebagai kawasan wisata, keasrian lingkungan tetap terjaga karena hutan mangrove memberikan kontribusi besar menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida," katanya.

    Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan kelestarian lingkungan di Kutim. Keberadaan kawasan hijau menjadi penyangga kualitas udara sehingga harus terus dipelihara.

    "Di satu sisi kita memiliki aktivitas industri yang berpotensi menghasilkan debu, tetapi di sisi lain kita juga memiliki hutan yang menghasilkan oksigen. Keduanya harus kita jaga agar lingkungan tetap sehat," jelasnya.

    Ia menambahkan, peran hutan Kaltim dalam menyimpan karbon bahkan telah mendapat perhatian dunia.

    "Terbukti pada 2022 Bank Dunia sudah memberikan nilai yang cukup tinggi kepada Kalimantan Timur di dalam karbon. Karena itu kita berharap kondisi lingkungan dan keasrian Pantai Teluk Lingga tetap terjaga," pungkasnya.
     
    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Bupati Kutim Tegaskan Pariwisata Pesisir Tak Boleh Korbankan Hutan Mangrove

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    05 Agustus 2026 pukul 19:16 WITA

    Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bersama peserta Gerakan Penanaman Mangrove di Pantai Teluk Lingga, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Pengembangan kawasan wisata pesisir di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak boleh mengorbankan keberadaan hutan mangrove. Bupati Kutim Ardiansyah, Sulaiman menegaskan, mangrove menjadi ekosistem penting yang harus dijaga karena mampu melindungi kawasan pesisir sekaligus menyerap karbon.

    Pernyataan itu disampaikan Ardiansyah saat menghadiri Gerakan Penanaman Mangrove di Pantai Teluk Lingga, Sangatta Utara, Rabu (5/8/2026).

    Menurutnya, Kutim memiliki salah satu kawasan hutan mangrove terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim) yang hingga kini masih terjaga di sepanjang kawasan pesisir.

    "Kita bersyukur salah satu hutan mangrove terbesar di Kalimantan Timur ada di Kutim. Kita memiliki garis pantai yang cukup panjang dan sampai saat ini hutan mangrovenya masih terjaga," ujar Ardiansyah.

    Ia menegaskan pengembangan sektor pariwisata tetap dapat berjalan berdampingan dengan upaya pelestarian lingkungan. Karena itu, pembukaan kawasan wisata tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan hutan mangrove.

    "Meskipun di satu sisi kita memanfaatkan wilayah tersebut sebagai pusat pariwisata, tapi tetap kita tidak akan membabat hutan mangrove secara membabi buta untuk kegiatan lainnya. Hutan mangrove tetap menjadi salah satu tolok ukur lingkungan hidup yang bisa berdampingan dengan pariwisata," tegasnya.

    Selain melindungi kawasan pesisir dari abrasi, Ardiansyah mengatakan hutan mangrove juga memiliki banyak manfaat lain. Beberapa jenis mangrove bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan dan produk kesehatan, sehingga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

    Ia menilai hutan mangrove juga menjadi penyangga kualitas lingkungan dengan memberikan kontribusi besar terhadap ketersediaan oksigen sekaligus menyerap karbon dioksida sehingga berperan penting dalam menghadapi perubahan iklim. 

    "Kita berharap meskipun pantai dimanfaatkan sebagai kawasan wisata, keasrian lingkungan tetap terjaga karena hutan mangrove memberikan kontribusi besar menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida," katanya.

    Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan kelestarian lingkungan di Kutim. Keberadaan kawasan hijau menjadi penyangga kualitas udara sehingga harus terus dipelihara.

    "Di satu sisi kita memiliki aktivitas industri yang berpotensi menghasilkan debu, tetapi di sisi lain kita juga memiliki hutan yang menghasilkan oksigen. Keduanya harus kita jaga agar lingkungan tetap sehat," jelasnya.

    Ia menambahkan, peran hutan Kaltim dalam menyimpan karbon bahkan telah mendapat perhatian dunia.

    "Terbukti pada 2022 Bank Dunia sudah memberikan nilai yang cukup tinggi kepada Kalimantan Timur di dalam karbon. Karena itu kita berharap kondisi lingkungan dan keasrian Pantai Teluk Lingga tetap terjaga," pungkasnya.
     
    (Sf/Lo)