Seputar Kaltim

    Bupati Kutim Tegaskan Lansia Bukan Beban

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    30 Juni 2026 pukul 10:23 WITA

    Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan sambutan saat peluncuran Sekolah Lansia di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap lanjut usia (lansia). Menurutnya, lansia bukan beban keluarga maupun pembangunan, melainkan sosok yang patut dihormati karena telah berjasa membesarkan generasi penerus.

    Menurut Ardiansyah, Sekolah Lansia menjadi wadah bagi para lansia untuk menambah pengetahuan, keterampilan, serta tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif.

    "Yang perlu kita pahami, lansia bukan beban. Justru mereka adalah cara kita mendapatkan keberkahan hidup. Selama orang tua, kakek, atau nenek masih bersama kita, itulah kesempatan untuk berbakti dan merawat mereka," ujar Ardiansyah saat peluncuran Sekolah Lansia di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Senin (29/6/2026).

    Ia mengatakan, ketika masih muda para orang tua telah berjuang membesarkan anak-anaknya. Karena itu, saat memasuki usia lanjut sudah sepatutnya keluarga memberikan perhatian dan pendampingan.

    Meski demikian, Ardiansyah mengakui tidak sedikit lansia yang memilih hidup mandiri dan enggan merepotkan anak maupun cucunya. Menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi dengan membangun pemahaman yang sama antara generasi muda dan para lansia.

    "Tujuan Sekolah Lansia adalah menyatukan persepsi antara generasi muda dan para lansia agar saling memahami dan saling mendukung dalam kehidupan keluarga," katanya.

    Ia menjelaskan, Sekolah Lansia dilaksanakan selama satu tahun dengan 12 kali pertemuan. Menurutnya, meski para lansia selama ini telah rutin berkumpul melalui Posyandu Lansia, pemerintah menghadirkan Sekolah Lansia sebagai program pembelajaran yang lebih terstruktur.

    Kurikulum Sekolah Lansia tidak berfokus pada pembelajaran akademik, melainkan peningkatan kualitas hidup melalui edukasi kesehatan, menjaga kebugaran, membangun interaksi sosial yang baik, hingga mendorong para lansia tetap produktif sesuai kemampuan masing-masing.

    "Kita ingin para lansia tetap percaya diri, tetap sehat, dan tetap bisa berkarya sesuai potensi yang dimiliki," ucapnya.

    Ardiansyah juga mengajak masyarakat untuk memberikan penghargaan kepada para lansia atas pengabdian mereka selama membangun keluarga. Ia menilai, perhatian dan kasih sayang dari anak serta cucu menjadi bagian penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis.

    Ia berharap Sekolah Lansia menjadi wadah bagi para lansia untuk tetap percaya diri, terus berkarya, serta meningkatkan kualitas hidup melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Bupati Kutim Tegaskan Lansia Bukan Beban

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    30 Juni 2026 pukul 10:23 WITA

    Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan sambutan saat peluncuran Sekolah Lansia di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap lanjut usia (lansia). Menurutnya, lansia bukan beban keluarga maupun pembangunan, melainkan sosok yang patut dihormati karena telah berjasa membesarkan generasi penerus.

    Menurut Ardiansyah, Sekolah Lansia menjadi wadah bagi para lansia untuk menambah pengetahuan, keterampilan, serta tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif.

    "Yang perlu kita pahami, lansia bukan beban. Justru mereka adalah cara kita mendapatkan keberkahan hidup. Selama orang tua, kakek, atau nenek masih bersama kita, itulah kesempatan untuk berbakti dan merawat mereka," ujar Ardiansyah saat peluncuran Sekolah Lansia di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Senin (29/6/2026).

    Ia mengatakan, ketika masih muda para orang tua telah berjuang membesarkan anak-anaknya. Karena itu, saat memasuki usia lanjut sudah sepatutnya keluarga memberikan perhatian dan pendampingan.

    Meski demikian, Ardiansyah mengakui tidak sedikit lansia yang memilih hidup mandiri dan enggan merepotkan anak maupun cucunya. Menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi dengan membangun pemahaman yang sama antara generasi muda dan para lansia.

    "Tujuan Sekolah Lansia adalah menyatukan persepsi antara generasi muda dan para lansia agar saling memahami dan saling mendukung dalam kehidupan keluarga," katanya.

    Ia menjelaskan, Sekolah Lansia dilaksanakan selama satu tahun dengan 12 kali pertemuan. Menurutnya, meski para lansia selama ini telah rutin berkumpul melalui Posyandu Lansia, pemerintah menghadirkan Sekolah Lansia sebagai program pembelajaran yang lebih terstruktur.

    Kurikulum Sekolah Lansia tidak berfokus pada pembelajaran akademik, melainkan peningkatan kualitas hidup melalui edukasi kesehatan, menjaga kebugaran, membangun interaksi sosial yang baik, hingga mendorong para lansia tetap produktif sesuai kemampuan masing-masing.

    "Kita ingin para lansia tetap percaya diri, tetap sehat, dan tetap bisa berkarya sesuai potensi yang dimiliki," ucapnya.

    Ardiansyah juga mengajak masyarakat untuk memberikan penghargaan kepada para lansia atas pengabdian mereka selama membangun keluarga. Ia menilai, perhatian dan kasih sayang dari anak serta cucu menjadi bagian penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis.

    Ia berharap Sekolah Lansia menjadi wadah bagi para lansia untuk tetap percaya diri, terus berkarya, serta meningkatkan kualitas hidup melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat.

    (Sf/Lo)