Seputar Kaltim

    Bupati Kutim Soroti Hasil Laut Daerah Dijual ke Luar, Nelayan Lokal Diminta Naik Kelas

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    06 Agustus 2026 pukul 14:54 WITA

    Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan sambutan pada Sosialisasi Pengembangan Kapasitas Nelayan Kecil di Hotel Royal Victoria, Sangatta, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

     

    Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman menilai potensi kelautan di daerahnya belum dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, sebagian hasil laut dari perairan Kutim justru dipasarkan ke luar daerah sehingga manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan nelayan lokal.

    Hal itu disampaikan Ardiansyah saat menghadiri Sosialisasi Pengembangan Kapasitas Nelayan Kecil, di Hotel Royal Victoria, Sangatta. 

    Ia mengungkapkan, masyarakat Kutim kerap membeli oleh-oleh hasil laut dari daerah lain. Namun, saat ditelusuri, hasil tangkapan tersebut ternyata berasal dari wilayah perairan Kutim, seperti Sandaran dan Pulau Miang.

    "Kalau ditanya pedagangnya, hasil laut itu dari mana? Mereka bilang dari Sandaran, dari Pulau Miang. Artinya hasil lautnya ada di perairan Kutim. Pertanyaannya, mana nelayan Kutim?" ujar Ardiansyah.

    Ia mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) nelayan melalui berbagai program pembinaan, termasuk penerbitan e-Pas Kecil sebagai legalitas kapal.

    "Hari ini kita meng-upgrade kemampuan SDM di bidang kelautan, terutama saudara-saudara kita para nelayan," katanya. 

    Ardiansyah berharap nelayan yang saat ini masih menggunakan kapal berukuran kecil dapat berkembang menjadi nelayan yang memiliki armada lebih besar sehingga mampu bersaing memanfaatkan sumber daya laut di wilayahnya sendiri.

    "Saya berharap ke depan nelayan kecil berubah menjadi nelayan besar. Jangan lagi kita bangga pulang dari luar membawa oleh-oleh hasil laut. Justru orang dari luar yang datang ke Kutim untuk membeli hasil laut dari daerah kita," tegasnya.

    Ia menambahkan, hampir setiap pagi kapal-kapal tersebut singgah di Pulau Miang untuk mengisi kebutuhan air bersih dan menjual hasil tangkapan sebelum kembali melaut. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan nelayan dari luar daerah masih mendominasi penggunaan kapal berukuran besar di perairan Kutim.

    "Ini menjadi tantangan kita agar nelayan Kutim juga bisa berkembang dan menikmati potensi laut yang kita miliki," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Bupati Kutim Soroti Hasil Laut Daerah Dijual ke Luar, Nelayan Lokal Diminta Naik Kelas

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    06 Agustus 2026 pukul 14:54 WITA

    Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan sambutan pada Sosialisasi Pengembangan Kapasitas Nelayan Kecil di Hotel Royal Victoria, Sangatta, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

     

    Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman menilai potensi kelautan di daerahnya belum dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, sebagian hasil laut dari perairan Kutim justru dipasarkan ke luar daerah sehingga manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan nelayan lokal.

    Hal itu disampaikan Ardiansyah saat menghadiri Sosialisasi Pengembangan Kapasitas Nelayan Kecil, di Hotel Royal Victoria, Sangatta. 

    Ia mengungkapkan, masyarakat Kutim kerap membeli oleh-oleh hasil laut dari daerah lain. Namun, saat ditelusuri, hasil tangkapan tersebut ternyata berasal dari wilayah perairan Kutim, seperti Sandaran dan Pulau Miang.

    "Kalau ditanya pedagangnya, hasil laut itu dari mana? Mereka bilang dari Sandaran, dari Pulau Miang. Artinya hasil lautnya ada di perairan Kutim. Pertanyaannya, mana nelayan Kutim?" ujar Ardiansyah.

    Ia mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) nelayan melalui berbagai program pembinaan, termasuk penerbitan e-Pas Kecil sebagai legalitas kapal.

    "Hari ini kita meng-upgrade kemampuan SDM di bidang kelautan, terutama saudara-saudara kita para nelayan," katanya. 

    Ardiansyah berharap nelayan yang saat ini masih menggunakan kapal berukuran kecil dapat berkembang menjadi nelayan yang memiliki armada lebih besar sehingga mampu bersaing memanfaatkan sumber daya laut di wilayahnya sendiri.

    "Saya berharap ke depan nelayan kecil berubah menjadi nelayan besar. Jangan lagi kita bangga pulang dari luar membawa oleh-oleh hasil laut. Justru orang dari luar yang datang ke Kutim untuk membeli hasil laut dari daerah kita," tegasnya.

    Ia menambahkan, hampir setiap pagi kapal-kapal tersebut singgah di Pulau Miang untuk mengisi kebutuhan air bersih dan menjual hasil tangkapan sebelum kembali melaut. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan nelayan dari luar daerah masih mendominasi penggunaan kapal berukuran besar di perairan Kutim.

    "Ini menjadi tantangan kita agar nelayan Kutim juga bisa berkembang dan menikmati potensi laut yang kita miliki," pungkasnya.

    (Sf/Lo)