Seputar Kaltim

    Bupati Kutim Sebut Membaca Tak Hanya dari Buku, Lingkungan Juga Bisa Jadi Bacaan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    26 September 2026 pukul 11:16 WITA
    3

    Koleksi buku dalam Gebyar Literasi Kutim 2026 di Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB Munthe, Sangatta Utara. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta – Bagi Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, membaca tidak hanya dilakukan melalui buku. Lingkungan sekitar, berbagai hal yang ditemui dalam kehidupan, hingga bacaan digital juga dapat menjadi bagian dari proses literasi.

    Hal itu disampaikan Ardiansyah saat menghadiri pelantikan pengurus Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kutim periode 2026-2030 dalam rangkaian pembukaan Gebyar Literasi Kutim 2026, Jumat (25/9/2026), di Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB Munthe, Sangatta Utara.

    Menurut Ardiansyah, membaca tidak semestinya dibatasi pada lembaran kertas atau buku. Berbagai hal yang ada di sekitar juga dapat dibaca dan dipelajari.

    “Apapun yang terjadi, membaca tidak pernah ada batu sandungan. Saya mengatakan bahwa membaca tidak pernah ada batu sandungan. Semua yang ada ini kita baca. Baik yang ada di buku, di lapangan, di depan, di belakang, samping kiri, kanan, di atas, di bawah, itu semua bacaan,” ujar Ardiansyah.

    Ia menyebut berbagai bacaan tersebut dapat dikolaborasikan untuk melihat masa depan. “Yang apabila bacaan itu memang sanggup kita kolaborasikan di dalam sebuah fragmen untuk masa depan, insyaallah itu akan jadi,” katanya.

    Bagi Ardiansyah, literasi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang melihat dan memahami hal-hal di luar lingkungan yang selama ini dikenalnya. Ia mengibaratkan orang yang tidak bisa berliterasi seperti katak dalam tempurung.

    “Jadi literasi pengembangan literasi itu adalah sesuatu hal yang menjadi keniscayaan dalam kehidupan kita. Mereka yang tidak bisa berliterasi, itu bisa diibaratkan mereka yang kalau di dalam pepatah Indonesia bagaikan katak dalam tempurung. Dia hanya tinggal hidup di sebuah tempat dan dia bangga dengan tempat itu, tapi begitu melihat situasi yang berbeda, ya dia tidak mampu untuk berinteraksi dan sebagainya,” jelasnya.

    Ardiansyah juga menyinggung perubahan cara masyarakat mendapatkan bahan bacaan. Menurutnya, membaca tidak lagi hanya melalui lembaran kertas yang dicetak, tetapi juga dapat dilakukan melalui media digital.

    “Minat baca itu kadang-kala kita tidak punya fokus kepada sebuah lembar-lembar kertas yang tertulis, ya lembar-lembar kertas yang dicetak hasil dari tulisan siapapun, tetapi sekarang lembaran baca itu bisa melalui digital dan sebagainya,” ungkapnya.

    Ardiansyah berharap minat baca masyarakat Kutim terus berkembang, baik pada generasi saat ini maupun generasi yang akan datang. Buku-buku yang tersedia juga diharapkannya menjadi pengayaan bagi pribadi dan keluarga.

    “Ya, pengayaan berikutnya untuk pribadi, untuk keluarga dan seterusnya,” tuturnya.

    Dalam rangkaian festival literasi tersebut, tersedia 550 kardus berisi 300.000 eksemplar buku, mulai dari literatur ilmiah, buku pelajaran hingga karya sastra.

    Rangkaian kegiatan berlangsung selama 10 hari, mulai 25 September hingga 4 Oktober 2026, dengan sejumlah agenda seperti talkshow literasi, pelatihan public speaking, sesi read aloud, bedah buku karya penulis lokal Kutim hingga lomba kreasi siswa.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Bupati Kutim Sebut Membaca Tak Hanya dari Buku, Lingkungan Juga Bisa Jadi Bacaan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    26 September 2026 pukul 11:16 WITA
    3

    Koleksi buku dalam Gebyar Literasi Kutim 2026 di Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB Munthe, Sangatta Utara. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta – Bagi Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, membaca tidak hanya dilakukan melalui buku. Lingkungan sekitar, berbagai hal yang ditemui dalam kehidupan, hingga bacaan digital juga dapat menjadi bagian dari proses literasi.

    Hal itu disampaikan Ardiansyah saat menghadiri pelantikan pengurus Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kutim periode 2026-2030 dalam rangkaian pembukaan Gebyar Literasi Kutim 2026, Jumat (25/9/2026), di Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB Munthe, Sangatta Utara.

    Menurut Ardiansyah, membaca tidak semestinya dibatasi pada lembaran kertas atau buku. Berbagai hal yang ada di sekitar juga dapat dibaca dan dipelajari.

    “Apapun yang terjadi, membaca tidak pernah ada batu sandungan. Saya mengatakan bahwa membaca tidak pernah ada batu sandungan. Semua yang ada ini kita baca. Baik yang ada di buku, di lapangan, di depan, di belakang, samping kiri, kanan, di atas, di bawah, itu semua bacaan,” ujar Ardiansyah.

    Ia menyebut berbagai bacaan tersebut dapat dikolaborasikan untuk melihat masa depan. “Yang apabila bacaan itu memang sanggup kita kolaborasikan di dalam sebuah fragmen untuk masa depan, insyaallah itu akan jadi,” katanya.

    Bagi Ardiansyah, literasi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang melihat dan memahami hal-hal di luar lingkungan yang selama ini dikenalnya. Ia mengibaratkan orang yang tidak bisa berliterasi seperti katak dalam tempurung.

    “Jadi literasi pengembangan literasi itu adalah sesuatu hal yang menjadi keniscayaan dalam kehidupan kita. Mereka yang tidak bisa berliterasi, itu bisa diibaratkan mereka yang kalau di dalam pepatah Indonesia bagaikan katak dalam tempurung. Dia hanya tinggal hidup di sebuah tempat dan dia bangga dengan tempat itu, tapi begitu melihat situasi yang berbeda, ya dia tidak mampu untuk berinteraksi dan sebagainya,” jelasnya.

    Ardiansyah juga menyinggung perubahan cara masyarakat mendapatkan bahan bacaan. Menurutnya, membaca tidak lagi hanya melalui lembaran kertas yang dicetak, tetapi juga dapat dilakukan melalui media digital.

    “Minat baca itu kadang-kala kita tidak punya fokus kepada sebuah lembar-lembar kertas yang tertulis, ya lembar-lembar kertas yang dicetak hasil dari tulisan siapapun, tetapi sekarang lembaran baca itu bisa melalui digital dan sebagainya,” ungkapnya.

    Ardiansyah berharap minat baca masyarakat Kutim terus berkembang, baik pada generasi saat ini maupun generasi yang akan datang. Buku-buku yang tersedia juga diharapkannya menjadi pengayaan bagi pribadi dan keluarga.

    “Ya, pengayaan berikutnya untuk pribadi, untuk keluarga dan seterusnya,” tuturnya.

    Dalam rangkaian festival literasi tersebut, tersedia 550 kardus berisi 300.000 eksemplar buku, mulai dari literatur ilmiah, buku pelajaran hingga karya sastra.

    Rangkaian kegiatan berlangsung selama 10 hari, mulai 25 September hingga 4 Oktober 2026, dengan sejumlah agenda seperti talkshow literasi, pelatihan public speaking, sesi read aloud, bedah buku karya penulis lokal Kutim hingga lomba kreasi siswa.

    (Sf/Lo)