Cari disini...
Seputar Kaltim
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi perhatian Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman. Ia mengingatkan para kreator agar berhati-hati karena karya yang sudah dibuat dapat dengan mudah dimodifikasi menggunakan teknologi tersebut.
Ardiansyah menyoroti kemampuan AI yang kini semakin mudah digunakan untuk mengubah atau menyamarkan wajah seseorang maupun memodifikasi karya yang sudah dibuat. Ia meminta para pencipta karya ikut memperhatikan perkembangan tersebut.
Ardiansyah mengaku prihatin ketika karya yang dibuat seseorang dapat diubah atau ditutupi menggunakan teknologi AI.
“Sekarang era AI. Dengan AI ini gampang sekali wajah orang kita ubah, kita samarkan, kita tutup. Saya kasihan kepada pencipta-pencipta yang karyanya kemudian bisa diubah dengan AI,” ujar Ardiansyah.
Meski mengingatkan soal risikonya, Ardiansyah tidak melarang penggunaan AI. Teknologi tersebut tetap dapat digunakan ketika seseorang memanfaatkannya untuk membuat sesuatu yang baru.
“Kalau AI itu untuk membuat sesuatu yang baru, tidak apa-apa,” katanya.
Menurut Ardiansyah, kreativitas tidak hanya datang dari pelaku usaha. Inovasi juga bisa muncul dari kreator, inovator maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui pekerjaan dan gagasan yang mereka buat.
Ia juga menyinggung drama Cina atau Korea sebagai contoh perkembangan industri kreatif. Menurutnya, cerita sederhana pun bisa dikembangkan menjadi karya di bidang industri maupun intelektual.
“Saya melihat membuat karya-karyanya. Luar biasa. Bagaimana lomba kampus, lomba sekolah menjadi sebuah cerita. Itu luar biasa,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi perhatian Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman. Ia mengingatkan para kreator agar berhati-hati karena karya yang sudah dibuat dapat dengan mudah dimodifikasi menggunakan teknologi tersebut.
Ardiansyah menyoroti kemampuan AI yang kini semakin mudah digunakan untuk mengubah atau menyamarkan wajah seseorang maupun memodifikasi karya yang sudah dibuat. Ia meminta para pencipta karya ikut memperhatikan perkembangan tersebut.
Ardiansyah mengaku prihatin ketika karya yang dibuat seseorang dapat diubah atau ditutupi menggunakan teknologi AI.
“Sekarang era AI. Dengan AI ini gampang sekali wajah orang kita ubah, kita samarkan, kita tutup. Saya kasihan kepada pencipta-pencipta yang karyanya kemudian bisa diubah dengan AI,” ujar Ardiansyah.
Meski mengingatkan soal risikonya, Ardiansyah tidak melarang penggunaan AI. Teknologi tersebut tetap dapat digunakan ketika seseorang memanfaatkannya untuk membuat sesuatu yang baru.
“Kalau AI itu untuk membuat sesuatu yang baru, tidak apa-apa,” katanya.
Menurut Ardiansyah, kreativitas tidak hanya datang dari pelaku usaha. Inovasi juga bisa muncul dari kreator, inovator maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui pekerjaan dan gagasan yang mereka buat.
Ia juga menyinggung drama Cina atau Korea sebagai contoh perkembangan industri kreatif. Menurutnya, cerita sederhana pun bisa dikembangkan menjadi karya di bidang industri maupun intelektual.
“Saya melihat membuat karya-karyanya. Luar biasa. Bagaimana lomba kampus, lomba sekolah menjadi sebuah cerita. Itu luar biasa,” pungkasnya.
(Sf/Lo)