Cari disini...
Seputar Kaltim
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman mengingatkan potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Cuaca panas berkepanjangan berpotensi memicu gagal panen, mengganggu pasokan air, hingga berdampak pada pelaku integrated farming di Kutim.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim akan menggelar rapat mitigasi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pada 13 Juli mendatang.
Ardiansyah menilai ancaman cuaca panas ekstrem tidak boleh dianggap sepele. Ia mencontohkan sejumlah negara di Eropa yang dilaporkan mengalami korban jiwa akibat gelombang panas.
"Kalau kita lihat di beberapa negara, seperti di Jerman dan kawasan Eropa, sudah banyak korban akibat panas ekstrem. Nah, ini yang kita khawatirkan. Jangan sampai dampaknya juga dirasakan di Indonesia, khususnya Kutim," ujar Ardiansyah.
Ia mengatakan, rapat tersebut akan membahas langkah mitigasi terkait informasi dari BMKG mengenai potensi kemunculan El Nino dalam beberapa bulan ke depan.
"Ada informasi dari BMKG terkait El Nino yang diperkirakan muncul pada bulan Juni, Juli ini dan beberapa bulan ke depan," katanya.
Ardiansyah menjelaskan, musim panas berkepanjangan berpotensi memengaruhi berbagai sektor, terutama pertanian. Ketersediaan air, kualitas lahan, hingga produktivitas tanaman dan peternakan dikhawatirkan ikut terdampak apabila tidak dilakukan langkah antisipasi.
"Yang kita khawatirkan adalah pasokan air, kemudian kondisi lahan. Ini juga bisa berdampak kepada para petani maupun pelaku integrated farming, sehingga harus mulai disiapkan dari sekarang," jelasnya.
Ardiansyah menambahkan, pemerintah selama ini telah memiliki program asuransi gagal panen untuk komoditas padi. Namun, ia mengingatkan El Nino juga berpotensi memicu gagal panen pada komoditas hortikultura, seperti sayuran, sementara asuransi gagal panen saat ini hanya berlaku untuk padi.
"Kalau program pertanian sudah ada asuransi gagal panen, tetapi itu hanya untuk padi. Sekarang yang kita khawatirkan adalah musim panas ini bisa menyebabkan gagal panen sayur dan komoditas lainnya," tambahnya.
Karena itu, dalam rapat yang akan digelar nanti, Ardiansyah meminta seluruh OPD terkait menyiapkan paparan mengenai kondisi di lapangan serta langkah mitigasi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak El Nino terhadap sektor pertanian di Kutim.
"Nanti akan kita bahas secara menyeluruh di Ruang Damar. Dinas-dinas terkait diminta memaparkan kondisi dan mitigasi apa yang harus kita lakukan," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman mengingatkan potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Cuaca panas berkepanjangan berpotensi memicu gagal panen, mengganggu pasokan air, hingga berdampak pada pelaku integrated farming di Kutim.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim akan menggelar rapat mitigasi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pada 13 Juli mendatang.
Ardiansyah menilai ancaman cuaca panas ekstrem tidak boleh dianggap sepele. Ia mencontohkan sejumlah negara di Eropa yang dilaporkan mengalami korban jiwa akibat gelombang panas.
"Kalau kita lihat di beberapa negara, seperti di Jerman dan kawasan Eropa, sudah banyak korban akibat panas ekstrem. Nah, ini yang kita khawatirkan. Jangan sampai dampaknya juga dirasakan di Indonesia, khususnya Kutim," ujar Ardiansyah.
Ia mengatakan, rapat tersebut akan membahas langkah mitigasi terkait informasi dari BMKG mengenai potensi kemunculan El Nino dalam beberapa bulan ke depan.
"Ada informasi dari BMKG terkait El Nino yang diperkirakan muncul pada bulan Juni, Juli ini dan beberapa bulan ke depan," katanya.
Ardiansyah menjelaskan, musim panas berkepanjangan berpotensi memengaruhi berbagai sektor, terutama pertanian. Ketersediaan air, kualitas lahan, hingga produktivitas tanaman dan peternakan dikhawatirkan ikut terdampak apabila tidak dilakukan langkah antisipasi.
"Yang kita khawatirkan adalah pasokan air, kemudian kondisi lahan. Ini juga bisa berdampak kepada para petani maupun pelaku integrated farming, sehingga harus mulai disiapkan dari sekarang," jelasnya.
Ardiansyah menambahkan, pemerintah selama ini telah memiliki program asuransi gagal panen untuk komoditas padi. Namun, ia mengingatkan El Nino juga berpotensi memicu gagal panen pada komoditas hortikultura, seperti sayuran, sementara asuransi gagal panen saat ini hanya berlaku untuk padi.
"Kalau program pertanian sudah ada asuransi gagal panen, tetapi itu hanya untuk padi. Sekarang yang kita khawatirkan adalah musim panas ini bisa menyebabkan gagal panen sayur dan komoditas lainnya," tambahnya.
Karena itu, dalam rapat yang akan digelar nanti, Ardiansyah meminta seluruh OPD terkait menyiapkan paparan mengenai kondisi di lapangan serta langkah mitigasi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak El Nino terhadap sektor pertanian di Kutim.
"Nanti akan kita bahas secara menyeluruh di Ruang Damar. Dinas-dinas terkait diminta memaparkan kondisi dan mitigasi apa yang harus kita lakukan," pungkasnya.
(Sf/Lo)