Cari disini...
Seputar Kaltim
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, meminta perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Berau agar tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
"Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan keasrian alam melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), terutama dengan melakukan penghijauan di lahan bekas tambang dan perkebunan," ujar Sri pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, di Hotel Mercure, Tanjung Redeb, Kamis (6/8/2026).
Ia mengatakan, keterbatasan anggaran daerah akibat kebijakan efisiensi membuat kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi semakin penting. Dukungan perusahaan dinilai dapat mempercepat upaya rehabilitasi lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam di Berau.
"Perusahaan yang ada di sini bukan hanya mencari rezeki, tetapi punya tanggung jawab untuk mengembalikan keasrian Berau. Kolaborasi dengan dinas terkait untuk menanam kembali bekas lahan tambang maupun kebun sangat dinantikan," tuturnya.
Selain itu, dirinya menekankan bahwa persoalan kebersihan juga harus menjadi perhatian bersama. Ia menyebut Kabupaten Berau kini tengah bertransformasi menjadi daerah tujuan wisata, sehingga kebersihan dan keindahan lingkungan menjadi faktor penting dalam memberikan kenyamanan bagi wisatawan.
Namun, upaya menjaga kebersihan tidak dapat hanya mengandalkan sekitar 40 petugas kebersihan dan pertamanan yang saat ini bertugas di seluruh wilayah Kabupaten Berau. Dibutuhkan kesadaran masyarakat dan sinergi seluruh perangkat daerah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
"Tentu tidak bisa semuanya dibebankan kepada petugas kebersihan yang jumlahnya terbatas. Kunjungan wisata ke Berau makin tinggi, sehingga dibutuhkan kesadaran bersama. DLHK dan OPD terkait harus saling bersinergi memaksimalkan masalah kebersihan ini," katanya.
Selain itu, Sri Juniarsih juga mengapresiasi dukungan WWF yang telah membantu penyediaan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Pulau Derawan. Meski demikian, ia menilai infrastruktur tersebut harus dibarengi dengan edukasi pemilahan sampah sejak dini melalui sekolah-sekolah.
"Penghijauan itu wajib karena Berau menjual program karbon yang dibayar Bank Dunia. Namun, penanganan sampah juga tidak boleh diabaikan. Sekolah Adiwiyata dari tingkat SD, SMP hingga SMA harus menjadi garda terdepan dalam mengedukasi anak-anak memilah sampah organik, plastik dan kaleng, serta memanfaatkan biopori dan kompos secara praktis," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, meminta perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Berau agar tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
"Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan keasrian alam melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), terutama dengan melakukan penghijauan di lahan bekas tambang dan perkebunan," ujar Sri pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, di Hotel Mercure, Tanjung Redeb, Kamis (6/8/2026).
Ia mengatakan, keterbatasan anggaran daerah akibat kebijakan efisiensi membuat kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi semakin penting. Dukungan perusahaan dinilai dapat mempercepat upaya rehabilitasi lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam di Berau.
"Perusahaan yang ada di sini bukan hanya mencari rezeki, tetapi punya tanggung jawab untuk mengembalikan keasrian Berau. Kolaborasi dengan dinas terkait untuk menanam kembali bekas lahan tambang maupun kebun sangat dinantikan," tuturnya.
Selain itu, dirinya menekankan bahwa persoalan kebersihan juga harus menjadi perhatian bersama. Ia menyebut Kabupaten Berau kini tengah bertransformasi menjadi daerah tujuan wisata, sehingga kebersihan dan keindahan lingkungan menjadi faktor penting dalam memberikan kenyamanan bagi wisatawan.
Namun, upaya menjaga kebersihan tidak dapat hanya mengandalkan sekitar 40 petugas kebersihan dan pertamanan yang saat ini bertugas di seluruh wilayah Kabupaten Berau. Dibutuhkan kesadaran masyarakat dan sinergi seluruh perangkat daerah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
"Tentu tidak bisa semuanya dibebankan kepada petugas kebersihan yang jumlahnya terbatas. Kunjungan wisata ke Berau makin tinggi, sehingga dibutuhkan kesadaran bersama. DLHK dan OPD terkait harus saling bersinergi memaksimalkan masalah kebersihan ini," katanya.
Selain itu, Sri Juniarsih juga mengapresiasi dukungan WWF yang telah membantu penyediaan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Pulau Derawan. Meski demikian, ia menilai infrastruktur tersebut harus dibarengi dengan edukasi pemilahan sampah sejak dini melalui sekolah-sekolah.
"Penghijauan itu wajib karena Berau menjual program karbon yang dibayar Bank Dunia. Namun, penanganan sampah juga tidak boleh diabaikan. Sekolah Adiwiyata dari tingkat SD, SMP hingga SMA harus menjadi garda terdepan dalam mengedukasi anak-anak memilah sampah organik, plastik dan kaleng, serta memanfaatkan biopori dan kompos secara praktis," pungkasnya.
(Sf/Lo)