Seputar Kaltim

    Bukan Sekadar Tradisi, Bupati Kutim Sebut Adat dan Budaya Punya Potensi Ekonomi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    12 Oktober 2026 pukul 12:33 WITA

    Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Adat dan budaya di Kutai Timur (Kutim) dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi peluang usaha bagi masyarakat. Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyebut kerajinan tradisional, pertunjukan seni, dan produk kreatif sebagai bagian dari kebudayaan yang dapat memberikan manfaat ekonomi.

    Ia mengatakan, pengembangan budaya dapat membuka peluang bagi pelaku seni, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta generasi muda.

    “Kegiatan adat dan seni, pertunjukan, kerajinan tradisional serta berbagai produk kreatif masyarakat memiliki peluang untuk dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi yang cukup berarti,” ujar Ardiansyah saat kegiatan pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026.

    Namun, Ardiansyah mengingatkan agar pengembangan tersebut tidak hanya mengejar keuntungan. Nilai dan makna yang terkandung dalam tradisi harus tetap dihormati.

    “Kita perlu memastikan bahwa budaya tidak sekadar menjadi tontonan dan atau komoditas, melainkan dihormati nilai, makna, dan keasliannya,” katanya.

    Ia menilai, pemahaman terhadap adat dan budaya merupakan modal pembangunan karena di dalamnya terkandung nilai sosial dan ekonomi.

    “Dengan memahami adat dan budaya sesungguhnya kita menyiapkan modal utama pembangunan. Karena dari adat dan budaya itu akan terus mengalir nilai-nilai ekonomi di dalamnya, nilai-nilai sosial, nilai-nilai yang bertumbuh dan mengacu kepada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya. 

    Selain melalui kegiatan seni dan kerajinan, budaya juga dapat diperkenalkan dengan memanfaatkan teknologi. Ardiansyah menyebut teknologi bisa digunakan untuk mendokumentasikan tradisi, mengenalkan kesenian, serta memperluas pengetahuan masyarakat tentang sejarah daerah tanpa menghilangkan nilai dan keaslian adat.

    Namun, pelestarian budaya bukan hanya soal mempertahankan ritual dan pertunjukan. Nilai kebersamaan, gotong royong, saling menghormati, serta kepedulian terhadap lingkungan juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Sehingga budaya tidak hanya hadir ketika sebuah perayaan diselenggarakan, tetapi benar-benar menjadi pedoman di dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis,” tuturnya.

    Ardiansyah juga menyinggung keberagaman masyarakat Kutim yang terdiri atas berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya. Ia menilai, keberagaman tersebut perlu dijaga melalui sikap saling menghormati agar kehidupan masyarakat tetap rukun.

    “Keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang harus kita rawat bersama. Melalui penghormatan terhadap adat dan budaya, kita dapat memperkuat rasa saling menghargai serta membangun kehidupan yang rukun dan harmonis,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Bukan Sekadar Tradisi, Bupati Kutim Sebut Adat dan Budaya Punya Potensi Ekonomi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    12 Oktober 2026 pukul 12:33 WITA

    Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Adat dan budaya di Kutai Timur (Kutim) dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi peluang usaha bagi masyarakat. Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyebut kerajinan tradisional, pertunjukan seni, dan produk kreatif sebagai bagian dari kebudayaan yang dapat memberikan manfaat ekonomi.

    Ia mengatakan, pengembangan budaya dapat membuka peluang bagi pelaku seni, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta generasi muda.

    “Kegiatan adat dan seni, pertunjukan, kerajinan tradisional serta berbagai produk kreatif masyarakat memiliki peluang untuk dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi yang cukup berarti,” ujar Ardiansyah saat kegiatan pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026.

    Namun, Ardiansyah mengingatkan agar pengembangan tersebut tidak hanya mengejar keuntungan. Nilai dan makna yang terkandung dalam tradisi harus tetap dihormati.

    “Kita perlu memastikan bahwa budaya tidak sekadar menjadi tontonan dan atau komoditas, melainkan dihormati nilai, makna, dan keasliannya,” katanya.

    Ia menilai, pemahaman terhadap adat dan budaya merupakan modal pembangunan karena di dalamnya terkandung nilai sosial dan ekonomi.

    “Dengan memahami adat dan budaya sesungguhnya kita menyiapkan modal utama pembangunan. Karena dari adat dan budaya itu akan terus mengalir nilai-nilai ekonomi di dalamnya, nilai-nilai sosial, nilai-nilai yang bertumbuh dan mengacu kepada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya. 

    Selain melalui kegiatan seni dan kerajinan, budaya juga dapat diperkenalkan dengan memanfaatkan teknologi. Ardiansyah menyebut teknologi bisa digunakan untuk mendokumentasikan tradisi, mengenalkan kesenian, serta memperluas pengetahuan masyarakat tentang sejarah daerah tanpa menghilangkan nilai dan keaslian adat.

    Namun, pelestarian budaya bukan hanya soal mempertahankan ritual dan pertunjukan. Nilai kebersamaan, gotong royong, saling menghormati, serta kepedulian terhadap lingkungan juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Sehingga budaya tidak hanya hadir ketika sebuah perayaan diselenggarakan, tetapi benar-benar menjadi pedoman di dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis,” tuturnya.

    Ardiansyah juga menyinggung keberagaman masyarakat Kutim yang terdiri atas berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya. Ia menilai, keberagaman tersebut perlu dijaga melalui sikap saling menghormati agar kehidupan masyarakat tetap rukun.

    “Keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang harus kita rawat bersama. Melalui penghormatan terhadap adat dan budaya, kita dapat memperkuat rasa saling menghargai serta membangun kehidupan yang rukun dan harmonis,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)