Seputar Kaltim

    Bukan Manual, Begini Cara BPS Kaltim Potret 1 Juta Pergerakan Wisnus Lewat Sinyal HP

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    13 Agustus 2026 pukul 21:44 WITA

    Gedung Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dalam mengolah data pergerakan Wisatawan Nusantara (Wisnus) yang menembus angka jutaan tersebut dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengundang tanda tanya.

    Berdasarkan data BPS pada Mei 2026, jumlah perjalanan Wisnus asal Kalimantan Timur (Kaltim) tercatat mencapai 1.283.879 perjalanan.

    Samarinda menjadi daerah asal penyumbang terbesar dengan persentase 26,02 persen, disusul Kutai Kartanegara (Kukar) 20,14 persen dan Balikpapan 19,31 persen.

    Dari sisi daerah yang didatangi, total pergerakan Wisnus dengan tujuan ke kabupaten/kota di wilayah Kaltim pada Juli menyentuh angka 1.259.540 perjalanan.

    Samarinda kembali mendominasi sebagai tujuan utama perjalanan dengan persentase 25,81 persen, diikuti Kutai Kartanegara sebesar 21,56 persen, dan Balikpapan sebesar 19,54 persen.

    Tingginya angka pergerakan ini merujuk pada definisi resmi yang digunakan. Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, menjelaskan batasan siapa saja yang masuk dalam kategori pencatatan ini.

    "Jadi penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan wisatawan di dalam negeri, kurang dari satu tahun. Kemudian tujuannya itu tidak untuk memperoleh penghasilan," terang Mas’ud.

    Untuk mencatat pergerakan massal tersebut secara cepat tanpa harus melakukan sensus pintu ke pintu, BPS mengimplementasikan metode mutakhir.

    Pengukuran ini dilakukan dengan cara melacak mobilitas perangkat seluler pintar atau handphone milik masyarakat yang disebut Mobile Positioning Data (MPD).

    "Nah, ini yang kita hitung melalui pergerakan mobile positioning-nya," ungkapnya.

    Sistem akan secara otomatis memotret dan merekam perpindahan penduduk ketika pergerakan tersebut melewati batas wilayah administrasi suatu kabupaten.

    Teknologi big data ini memungkinkan BPS mendeteksi mobilitas penduduk secara presisi dan efisien. Dengan penerapan algoritma khusus terkait durasi dan jarak tempuh, sistem MPD mampu menyaring secara akurat mana pergerakan yang sekadar aktivitas komuter harian, dan mana yang benar-benar sah tercatat sebagai pergerakan wisata.

    Meskipun ada fluktuasi karena faktor musim liburan, penggunaan teknologi ini berhasil memotret tren pergerakan masyarakat secara real-time.

    "Kalau dari metodologi yang kita pakai itu kecenderungannya orang itu jalannya masih gitu (stabil), masih bergerak," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Bukan Manual, Begini Cara BPS Kaltim Potret 1 Juta Pergerakan Wisnus Lewat Sinyal HP

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    13 Agustus 2026 pukul 21:44 WITA

    Gedung Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dalam mengolah data pergerakan Wisatawan Nusantara (Wisnus) yang menembus angka jutaan tersebut dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengundang tanda tanya.

    Berdasarkan data BPS pada Mei 2026, jumlah perjalanan Wisnus asal Kalimantan Timur (Kaltim) tercatat mencapai 1.283.879 perjalanan.

    Samarinda menjadi daerah asal penyumbang terbesar dengan persentase 26,02 persen, disusul Kutai Kartanegara (Kukar) 20,14 persen dan Balikpapan 19,31 persen.

    Dari sisi daerah yang didatangi, total pergerakan Wisnus dengan tujuan ke kabupaten/kota di wilayah Kaltim pada Juli menyentuh angka 1.259.540 perjalanan.

    Samarinda kembali mendominasi sebagai tujuan utama perjalanan dengan persentase 25,81 persen, diikuti Kutai Kartanegara sebesar 21,56 persen, dan Balikpapan sebesar 19,54 persen.

    Tingginya angka pergerakan ini merujuk pada definisi resmi yang digunakan. Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, menjelaskan batasan siapa saja yang masuk dalam kategori pencatatan ini.

    "Jadi penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan wisatawan di dalam negeri, kurang dari satu tahun. Kemudian tujuannya itu tidak untuk memperoleh penghasilan," terang Mas’ud.

    Untuk mencatat pergerakan massal tersebut secara cepat tanpa harus melakukan sensus pintu ke pintu, BPS mengimplementasikan metode mutakhir.

    Pengukuran ini dilakukan dengan cara melacak mobilitas perangkat seluler pintar atau handphone milik masyarakat yang disebut Mobile Positioning Data (MPD).

    "Nah, ini yang kita hitung melalui pergerakan mobile positioning-nya," ungkapnya.

    Sistem akan secara otomatis memotret dan merekam perpindahan penduduk ketika pergerakan tersebut melewati batas wilayah administrasi suatu kabupaten.

    Teknologi big data ini memungkinkan BPS mendeteksi mobilitas penduduk secara presisi dan efisien. Dengan penerapan algoritma khusus terkait durasi dan jarak tempuh, sistem MPD mampu menyaring secara akurat mana pergerakan yang sekadar aktivitas komuter harian, dan mana yang benar-benar sah tercatat sebagai pergerakan wisata.

    Meskipun ada fluktuasi karena faktor musim liburan, penggunaan teknologi ini berhasil memotret tren pergerakan masyarakat secara real-time.

    "Kalau dari metodologi yang kita pakai itu kecenderungannya orang itu jalannya masih gitu (stabil), masih bergerak," pungkasnya.

    (Sf/Lo)