Seputar Kaltim

    Bukan Lagi Batu Bara, Masa Depan Ekonomi Kaltim Ada di Ekowisata

    Redaktur:Rusdianto
    17 Juli 2025 pukul 17:24 WITA

    Pembina Yayasan Mitra Hijau Dicky Edwin saat menyampaikan paparan. (HO YMH untuk Seputar Fakta)

    Samarinda - Ketergantungan Kalimantan Timur (Kaltim) pada batu bara mulai menghadapi tantangan. Di tengah tren global menuju energi bersih, pemerintah daerah dan sejumlah pihak kini menatap masa depan pada sektor yang lebih hijau: ekowisata.

    Sinyal perubahan mulai terlihat. Kontribusi sektor tambang terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim menurun dari 43,19 persen pada 2023 menjadi 38,38 persen pada 2024. Di sisi lain, sektor pariwisata mulai menunjukkan geliat, meski masih kecil. Pada 2023, kontribusinya baru 1,74 persen, naik tipis dari 1,61 persen tahun sebelumnya.

    Sebagai respons atas tantangan ini, Yayasan Mitra Hijau (YMH) menggelar diskusi terpumpun bertajuk “Membangun Ekowisata Berkelanjutan untuk Menurunkan Emisi dan Jejak Karbon di Kalimantan Timur”, di Hotel Aston Samarinda, Kamis (17/7/2025). 

    Ketua Dewan Pembina YMH, Dicky Edwin Hiendarto, menegaskan bahwa saat ini Kaltim perlu memperluas basis ekonomi agar tak terus bergantung pada satu sektor yang rentan terhadap tekanan global. Ia menyebut fenomena Dutch Disease, di mana kekayaan sumber daya alam justru menumpulkan kreativitas ekonomi.

    “Variasi ekonomi penting. Ekowisata adalah salah satu peluang yang selama ini kurang dimaksimalkan,” kata Dicky. 

    Menurutnya, potensi Kaltim untuk mengembangkan wisata berbasis alam dan budaya sangat besar. Hal ini didukung pula oleh program Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET) yang mendapat pendanaan dari pemerintah Jerman dan Uni Eropa melalui GIZ.

    Akademisi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Fajar Alam, menambahkan bahwa model ekonomi Kaltim selama ini masih seperti zaman purba: mengambil langsung dari alam, bukan mengolah. “Model seperti ini menghasilkan emisi besar. Kita perlu ekonomi yang memproses, yang berkelanjutan,” tegas Fajar.

    Ekowisata, lanjut Fajar, tak hanya memberi nilai ekonomi, tapi juga fungsi konservasi dan edukasi. Ini juga diamini oleh pegiat wisata lokal Syafruddin Pernyata, yang mendorong penggunaan panel surya dan sistem pengelolaan sampah di destinasi wisata terpencil.

    Contoh sukses datang dari Desa Sangkuliman, Kutai Kartanegara, lewat Pokdarwis Berani Menata Tertata (BMT). Mereka mengembangkan wisata Pesut Mahakam, mendaur ulang sampah botol plastik jadi pagar keramba, dan mulai memetakan pohon serta ekosistem desa sebagai bagian dari rencana jangka panjang.

    Namun, Rozali, ketua Pokdarwis, menyebut tantangan energi masih jadi masalah. Ketika air sungai pasang, aliran listrik PLN kerap mati. Solusinya? Energi surya. “Kalau ada bantuan panel surya, 220 rumah bisa tetap hidup meski sungai pasang,” ujar Rozali. 

    Sementara itu, Imam Rusdi Hidayat dari Dinas Pariwisata Kaltim menjelaskan bahwa strategi pemerintah mengarah pada penguatan akses, fasilitas pendukung, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata.

    “Potensi kita luar biasa. Tapi harus diikuti dengan akses jalan, infrastruktur, dan pengelolaan yang berkelanjutan,” kata Imam.

    Dari Gunung Boga di Paser, karst Sangkulirang, hingga wisata sungai di Hulu Mahakam dan wisata bahari pesisir timur, Kaltim memiliki sumber daya ekowisata yang belum tergarap optimal.

    Kini, saat dominasi batu bara mulai surut, Kalimantan Timur harus mengambil keputusan penting: berinvestasi pada sektor yang tak hanya menguntungkan, tapi juga menyelamatkan masa depan.(Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Bukan Lagi Batu Bara, Masa Depan Ekonomi Kaltim Ada di Ekowisata

    Redaktur:Rusdianto
    17 Juli 2025 pukul 17:24 WITA

    Pembina Yayasan Mitra Hijau Dicky Edwin saat menyampaikan paparan. (HO YMH untuk Seputar Fakta)

    Samarinda - Ketergantungan Kalimantan Timur (Kaltim) pada batu bara mulai menghadapi tantangan. Di tengah tren global menuju energi bersih, pemerintah daerah dan sejumlah pihak kini menatap masa depan pada sektor yang lebih hijau: ekowisata.

    Sinyal perubahan mulai terlihat. Kontribusi sektor tambang terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim menurun dari 43,19 persen pada 2023 menjadi 38,38 persen pada 2024. Di sisi lain, sektor pariwisata mulai menunjukkan geliat, meski masih kecil. Pada 2023, kontribusinya baru 1,74 persen, naik tipis dari 1,61 persen tahun sebelumnya.

    Sebagai respons atas tantangan ini, Yayasan Mitra Hijau (YMH) menggelar diskusi terpumpun bertajuk “Membangun Ekowisata Berkelanjutan untuk Menurunkan Emisi dan Jejak Karbon di Kalimantan Timur”, di Hotel Aston Samarinda, Kamis (17/7/2025). 

    Ketua Dewan Pembina YMH, Dicky Edwin Hiendarto, menegaskan bahwa saat ini Kaltim perlu memperluas basis ekonomi agar tak terus bergantung pada satu sektor yang rentan terhadap tekanan global. Ia menyebut fenomena Dutch Disease, di mana kekayaan sumber daya alam justru menumpulkan kreativitas ekonomi.

    “Variasi ekonomi penting. Ekowisata adalah salah satu peluang yang selama ini kurang dimaksimalkan,” kata Dicky. 

    Menurutnya, potensi Kaltim untuk mengembangkan wisata berbasis alam dan budaya sangat besar. Hal ini didukung pula oleh program Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET) yang mendapat pendanaan dari pemerintah Jerman dan Uni Eropa melalui GIZ.

    Akademisi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Fajar Alam, menambahkan bahwa model ekonomi Kaltim selama ini masih seperti zaman purba: mengambil langsung dari alam, bukan mengolah. “Model seperti ini menghasilkan emisi besar. Kita perlu ekonomi yang memproses, yang berkelanjutan,” tegas Fajar.

    Ekowisata, lanjut Fajar, tak hanya memberi nilai ekonomi, tapi juga fungsi konservasi dan edukasi. Ini juga diamini oleh pegiat wisata lokal Syafruddin Pernyata, yang mendorong penggunaan panel surya dan sistem pengelolaan sampah di destinasi wisata terpencil.

    Contoh sukses datang dari Desa Sangkuliman, Kutai Kartanegara, lewat Pokdarwis Berani Menata Tertata (BMT). Mereka mengembangkan wisata Pesut Mahakam, mendaur ulang sampah botol plastik jadi pagar keramba, dan mulai memetakan pohon serta ekosistem desa sebagai bagian dari rencana jangka panjang.

    Namun, Rozali, ketua Pokdarwis, menyebut tantangan energi masih jadi masalah. Ketika air sungai pasang, aliran listrik PLN kerap mati. Solusinya? Energi surya. “Kalau ada bantuan panel surya, 220 rumah bisa tetap hidup meski sungai pasang,” ujar Rozali. 

    Sementara itu, Imam Rusdi Hidayat dari Dinas Pariwisata Kaltim menjelaskan bahwa strategi pemerintah mengarah pada penguatan akses, fasilitas pendukung, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata.

    “Potensi kita luar biasa. Tapi harus diikuti dengan akses jalan, infrastruktur, dan pengelolaan yang berkelanjutan,” kata Imam.

    Dari Gunung Boga di Paser, karst Sangkulirang, hingga wisata sungai di Hulu Mahakam dan wisata bahari pesisir timur, Kaltim memiliki sumber daya ekowisata yang belum tergarap optimal.

    Kini, saat dominasi batu bara mulai surut, Kalimantan Timur harus mengambil keputusan penting: berinvestasi pada sektor yang tak hanya menguntungkan, tapi juga menyelamatkan masa depan.(Sf/Rs)