Bukan Labubu, Tapi Kerajinan Bubu: Ladang Uang Warga Penajam 

    Seputarfakta.com - Agus Saputra  -

    Seputar Kaltim

    08 Desember 2024 11:35 WIB

    Salah seorang pengrajin bubu di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU) terlihat sedang menganyam bambu untuk dibentuk menjadi kerucut.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Penajam - Sekilas, nama alat yang terbuat dari anyaman bambu ini mirip boneka viral asal negeri Tirai Bambu; Labubu. Dengan menghilangkan kata; La, kerajinan yang menjadi alat tangkap ikan tradisional ini bernama bubu. Alat ini, lazim digunakan di kawasan nelayan. Untuk itu, tak heran kerajinan ini kini merupa  salah satu sumber mata pencaharian bagi sebagian masyarakat Penajam Paser Utara (PPU), terutama warga di wilayah RT 7 dan 13 Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam.

    Untuk membuatnya, dibutuhkan tenaga ekstra. Pasalnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh salah satu pengrajin bubu di Nenang, bernama Muhammad, yang telah puluhan tahun  menekuni kerajinan bubu. Proses pembuatan bubu harus melalui sejumlah tahapan-tahapan. 

    Langkah pertama, jelas pria berusia 64 tahun itu, yaitu menyiapkan batang bambu. Kemudian,  bambu dibelah dan diiris menggunakan pisau hingga menjadi halus dan tipis. Saat diiris, harus dilakukan dengan ekstra hati-hati agar bambu tidak patah. Setelah diiris, tahapan selanjutnya adalah dianyam hingga berbentuk kerucut.

    “Untuk alat-alatnya, hanya menggunakan parang, pisau, tali rafia untuk mengikat anyaman,” ucap Muhammad, Minggu (8/12/2024).

    Untuk membuat satu kerajinan bubu, kata dia, setidaknya membutuhkan waktu selama dua hari. Ini dikarenakan, pembuatan satu bubu setidaknya membutuhkan 15 batang bambu, sehingga memakan waktu yang lama untuk mengiris bambu satu per satu.

    Meski begitu, permintaan pembeli terhadap hasil kerajinan tangan ini cukup tinggi. Dalam sehari, Muhammad bersama pengrajin lainnya terkadang menerima permintaan hingga puluhan bubu. Namun, puluhan permintaan itu mereka selesaikan dalam kurun waktu sebulan.
     
    “Kerajinan ini tidak hanya diminati oleh nelayan setempat saja, tapi juga dari luar daerah seperti Kota Balikpapan hingga Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara),” ungkap Muhammad.

    Untuk harganya cukup bervariasi, satu bubu berukuran besar dikenakan harga Rp170 ribu, sedangkan bubu berukuran kecil dihargai Rp250 ribu.

    Ia menjelaskan mengapa harga bubu yang berukuran kecil lebih mahal dibandingkan bubu yang berukuran besar.

    Ini dikarenakan semakin kecil ukurannya, semakin susah pula untuk dibentuk. Sebab, potensi patahnya bambu cukup tinggi.

    "Kalau bubu ukuran kecil, proses pembuatannya lebih rumit dan memerlukan ketelitian ekstra," jelasnya.

    Meski harga bahan-bahan untuk membuat bubu meningkat, warga Nenang akan tetap menekuni kerajinan ini karena sudah menjadi turun temurun dari nenek moyang dan merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka.

    Muhammad berharap permintaan terhadap kerajinan bubu terus meningkat setiap tahunnya. Apalagi mengetahui fakta bahwa sebagian penduduk PPU berprofesi sebagai nelayan, sehingga dirinya pun bisa melihat adanya peluang pundi-pundi uang di bidang ini.

    "Bubu buatan kami sudah menjadi pilihan utama bagi nelayan yang ingin menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap yang efektif," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Bukan Labubu, Tapi Kerajinan Bubu: Ladang Uang Warga Penajam 

    Seputarfakta.com - Agus Saputra  -

    Seputar Kaltim

    08 Desember 2024 11:35 WIB

    Salah seorang pengrajin bubu di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU) terlihat sedang menganyam bambu untuk dibentuk menjadi kerucut.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Penajam - Sekilas, nama alat yang terbuat dari anyaman bambu ini mirip boneka viral asal negeri Tirai Bambu; Labubu. Dengan menghilangkan kata; La, kerajinan yang menjadi alat tangkap ikan tradisional ini bernama bubu. Alat ini, lazim digunakan di kawasan nelayan. Untuk itu, tak heran kerajinan ini kini merupa  salah satu sumber mata pencaharian bagi sebagian masyarakat Penajam Paser Utara (PPU), terutama warga di wilayah RT 7 dan 13 Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam.

    Untuk membuatnya, dibutuhkan tenaga ekstra. Pasalnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh salah satu pengrajin bubu di Nenang, bernama Muhammad, yang telah puluhan tahun  menekuni kerajinan bubu. Proses pembuatan bubu harus melalui sejumlah tahapan-tahapan. 

    Langkah pertama, jelas pria berusia 64 tahun itu, yaitu menyiapkan batang bambu. Kemudian,  bambu dibelah dan diiris menggunakan pisau hingga menjadi halus dan tipis. Saat diiris, harus dilakukan dengan ekstra hati-hati agar bambu tidak patah. Setelah diiris, tahapan selanjutnya adalah dianyam hingga berbentuk kerucut.

    “Untuk alat-alatnya, hanya menggunakan parang, pisau, tali rafia untuk mengikat anyaman,” ucap Muhammad, Minggu (8/12/2024).

    Untuk membuat satu kerajinan bubu, kata dia, setidaknya membutuhkan waktu selama dua hari. Ini dikarenakan, pembuatan satu bubu setidaknya membutuhkan 15 batang bambu, sehingga memakan waktu yang lama untuk mengiris bambu satu per satu.

    Meski begitu, permintaan pembeli terhadap hasil kerajinan tangan ini cukup tinggi. Dalam sehari, Muhammad bersama pengrajin lainnya terkadang menerima permintaan hingga puluhan bubu. Namun, puluhan permintaan itu mereka selesaikan dalam kurun waktu sebulan.
     
    “Kerajinan ini tidak hanya diminati oleh nelayan setempat saja, tapi juga dari luar daerah seperti Kota Balikpapan hingga Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara),” ungkap Muhammad.

    Untuk harganya cukup bervariasi, satu bubu berukuran besar dikenakan harga Rp170 ribu, sedangkan bubu berukuran kecil dihargai Rp250 ribu.

    Ia menjelaskan mengapa harga bubu yang berukuran kecil lebih mahal dibandingkan bubu yang berukuran besar.

    Ini dikarenakan semakin kecil ukurannya, semakin susah pula untuk dibentuk. Sebab, potensi patahnya bambu cukup tinggi.

    "Kalau bubu ukuran kecil, proses pembuatannya lebih rumit dan memerlukan ketelitian ekstra," jelasnya.

    Meski harga bahan-bahan untuk membuat bubu meningkat, warga Nenang akan tetap menekuni kerajinan ini karena sudah menjadi turun temurun dari nenek moyang dan merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka.

    Muhammad berharap permintaan terhadap kerajinan bubu terus meningkat setiap tahunnya. Apalagi mengetahui fakta bahwa sebagian penduduk PPU berprofesi sebagai nelayan, sehingga dirinya pun bisa melihat adanya peluang pundi-pundi uang di bidang ini.

    "Bubu buatan kami sudah menjadi pilihan utama bagi nelayan yang ingin menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap yang efektif," pungkasnya.

    (Sf/Rs)