Seputar Kaltim

    Bukan karena Karhutla, Dinkes Samarinda Ungkap Hasil Penelusuran Medis Kematian Balita di Bukuan

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    16 Oktober 2026 pukul 15:03 WITA

    Ilustrasi. (Dok: istock)

    Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menegaskan kematian balita berinisial YS, berusia satu tahun di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, tidak dinyatakan disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Klarifikasi ini disampaikan setelah keluarga korban sebelumnya menduga paparan asap karhutla berkaitan dengan sesak napas yang dialami balita tersebut sebelum meninggal dunia pada Kamis (15/10/2026).

    Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran dan surveilans terkait kasus tersebut, termasuk ke rumah sakit tempat balita itu terakhir dirawat.

    Berdasarkan penelusuran tersebut, diagnosis terakhir dokter yang merawat tidak menyebut karhutla sebagai penyebab kematian.

    “Penyebab kematian itu adalah berdasarkan diagnosa terakhir dokter yang merawat,” ujar Ismed dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

    Sebelumnya, balita tersebut dilaporkan mengalami sesak napas mendadak pada Rabu (14/10/2026). Keluarga sempat membawanya ke puskesmas sebelum dirujuk ke RS Mulya Medika untuk mendapatkan perawatan intensif.

    Namun, nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Kamis pagi. Kakek korban, Sarno, sebelumnya menduga kondisi asap karhutla di sekitar tempat tinggal mereka berkaitan dengan gangguan pernapasan yang dialami cucunya.

    Dugaan itu muncul di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan Samarinda. Menanggapi hal tersebut, Ismed menegaskan Dinkes mengacu pada diagnosis medis dari dokter yang terakhir merawat pasien dalam menjelaskan penyebab kematian.

    “Diagnosis dari dokter yang terakhir merawat tidak disebutkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena karhutla,” tegasnya.

    Ismed menyampaikan klarifikasi itu menyusul banyaknya permintaan konfirmasi terkait kematian balita di Bukuan.

    Ia menekankan bahwa berdasarkan hasil penelusuran Dinkes, tidak ada keterangan dalam diagnosis terakhir yang menyatakan korban meninggal akibat karhutla.

    Dengan klarifikasi tersebut, Dinkes meminta informasi mengenai kasus ini dipahami berdasarkan hasil penelusuran medis, bukan hanya dugaan yang berkembang setelah korban mengalami sesak napas di tengah kondisi asap karhutla.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Bukan karena Karhutla, Dinkes Samarinda Ungkap Hasil Penelusuran Medis Kematian Balita di Bukuan

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    16 Oktober 2026 pukul 15:03 WITA

    Ilustrasi. (Dok: istock)

    Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menegaskan kematian balita berinisial YS, berusia satu tahun di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, tidak dinyatakan disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Klarifikasi ini disampaikan setelah keluarga korban sebelumnya menduga paparan asap karhutla berkaitan dengan sesak napas yang dialami balita tersebut sebelum meninggal dunia pada Kamis (15/10/2026).

    Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran dan surveilans terkait kasus tersebut, termasuk ke rumah sakit tempat balita itu terakhir dirawat.

    Berdasarkan penelusuran tersebut, diagnosis terakhir dokter yang merawat tidak menyebut karhutla sebagai penyebab kematian.

    “Penyebab kematian itu adalah berdasarkan diagnosa terakhir dokter yang merawat,” ujar Ismed dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

    Sebelumnya, balita tersebut dilaporkan mengalami sesak napas mendadak pada Rabu (14/10/2026). Keluarga sempat membawanya ke puskesmas sebelum dirujuk ke RS Mulya Medika untuk mendapatkan perawatan intensif.

    Namun, nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Kamis pagi. Kakek korban, Sarno, sebelumnya menduga kondisi asap karhutla di sekitar tempat tinggal mereka berkaitan dengan gangguan pernapasan yang dialami cucunya.

    Dugaan itu muncul di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan Samarinda. Menanggapi hal tersebut, Ismed menegaskan Dinkes mengacu pada diagnosis medis dari dokter yang terakhir merawat pasien dalam menjelaskan penyebab kematian.

    “Diagnosis dari dokter yang terakhir merawat tidak disebutkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena karhutla,” tegasnya.

    Ismed menyampaikan klarifikasi itu menyusul banyaknya permintaan konfirmasi terkait kematian balita di Bukuan.

    Ia menekankan bahwa berdasarkan hasil penelusuran Dinkes, tidak ada keterangan dalam diagnosis terakhir yang menyatakan korban meninggal akibat karhutla.

    Dengan klarifikasi tersebut, Dinkes meminta informasi mengenai kasus ini dipahami berdasarkan hasil penelusuran medis, bukan hanya dugaan yang berkembang setelah korban mengalami sesak napas di tengah kondisi asap karhutla.

    (Sf/Lo)