Brigade Pangan Buka Peluang, Petani Muda Kaltim Bisa Raup Rp10 Juta per Bulan

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    07 Januari 2026 12:47 WIB

    Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Kaltim, Ahmad Hamdan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Image petani yang identik dengan kotor-kotoran dan lumpur mulai dikikis habis oleh Kementerian Pertanian (Kementan). 

    Di Kalimantan Timur (Kaltim), peluang besar kini terbuka bagi generasi muda untuk menjadi pengusaha padi modern melalui program Brigade Pangan.

    Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Kaltim, Ahmad Hamdan mengungkap pemerintah menargetkan cetak sawah seluas 20.000 hektare (Ha) di Kaltim untuk periode 2025-2026.

    "Ini peluang besar bagi kaum muda untuk berkiprah menjadi pengusaha beras atau pengusaha padi. Kita membuka peluang usaha baru untuk anak-anak muda, termasuk lulusan SMK Pertanian," ujar Ahmad Hamdan di Samarinda, Rabu (7/1/2026).

    Salah satu hal yang menarik dari program ini adalah skema pendapatan yang menggiurkan. Hamdan menjelaskan setiap 200 Ha lahan akan dikelola oleh satu kelompok Brigade Pangan yang terdiri dari 15 orang.

    Dalam kelompok tersebut, terdapat manajer dan direktur yang mengelola manajemen pertanian layaknya sebuah perusahaan. Dengan target produktivitas yang tinggi, penghasilan para pemuda ini diprediksi sangat kompetitif dibanding bekerja di kota.

    "Harapannya petani muda kita bukan lagi petani biasa. Manajer satu brigade dengan mengelola 200 Ha, logikanya dia bisa punya penghasilan di atas Rp10 juta per bulan. Ini bukan janji kosong, tapi perhitungan logis dari hasil panen dikurangi biaya produksi," tegasnya.

    Hamdan menyadari hambatan terbesar anak muda terjun ke sawah adalah masalah mindset. Banyak yang enggan karena melihat cara bertani tradisional yang melelahkan.

    Kementan menyiapkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) lengkap, mulai dari traktor roda empat hingga drone untuk penyemprotan lahan.

    "Anak muda sekarang melek IT. Dengan teknologi, kita tidak lagi menyentuh langsung dengan tanah. Naik di atas mesin kita bisa olah tanah, bisa tanam dan nyemprot pakai drone. Jadi tidak ada lagi cerita kotor-kotoran lumpur," jelasnya.

    Menjawab kekhawatiran mengenai daya tampung Bulog yang sempat penuh, Hamdan memastikan pemerintah sudah memiliki strategi baru. Bulog kini bermitra langsung dengan penggilingan padi di desa-desa.

    "Bulog sekarang berkolaborasi dengan penggilingan di desa untuk menghasilkan beras, bukan lagi sekadar menampung gabah. Jadi biaya pengeringan dan penggilingan dikelola di desa, lalu berasnya diambil Bulog. Ini memastikan hasil panen petani tetap terserap maksimal," tuturnya.

    Melalui program ini, pemerintah berharap anak muda tidak perlu lagi merantau mencari kerja ke luar daerah, melainkan cukup mengolah kekayaan alam yang ada di desa masing-masing dengan sentuhan teknologi modern.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Brigade Pangan Buka Peluang, Petani Muda Kaltim Bisa Raup Rp10 Juta per Bulan

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    07 Januari 2026 12:47 WIB

    Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Kaltim, Ahmad Hamdan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Image petani yang identik dengan kotor-kotoran dan lumpur mulai dikikis habis oleh Kementerian Pertanian (Kementan). 

    Di Kalimantan Timur (Kaltim), peluang besar kini terbuka bagi generasi muda untuk menjadi pengusaha padi modern melalui program Brigade Pangan.

    Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Kaltim, Ahmad Hamdan mengungkap pemerintah menargetkan cetak sawah seluas 20.000 hektare (Ha) di Kaltim untuk periode 2025-2026.

    "Ini peluang besar bagi kaum muda untuk berkiprah menjadi pengusaha beras atau pengusaha padi. Kita membuka peluang usaha baru untuk anak-anak muda, termasuk lulusan SMK Pertanian," ujar Ahmad Hamdan di Samarinda, Rabu (7/1/2026).

    Salah satu hal yang menarik dari program ini adalah skema pendapatan yang menggiurkan. Hamdan menjelaskan setiap 200 Ha lahan akan dikelola oleh satu kelompok Brigade Pangan yang terdiri dari 15 orang.

    Dalam kelompok tersebut, terdapat manajer dan direktur yang mengelola manajemen pertanian layaknya sebuah perusahaan. Dengan target produktivitas yang tinggi, penghasilan para pemuda ini diprediksi sangat kompetitif dibanding bekerja di kota.

    "Harapannya petani muda kita bukan lagi petani biasa. Manajer satu brigade dengan mengelola 200 Ha, logikanya dia bisa punya penghasilan di atas Rp10 juta per bulan. Ini bukan janji kosong, tapi perhitungan logis dari hasil panen dikurangi biaya produksi," tegasnya.

    Hamdan menyadari hambatan terbesar anak muda terjun ke sawah adalah masalah mindset. Banyak yang enggan karena melihat cara bertani tradisional yang melelahkan.

    Kementan menyiapkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) lengkap, mulai dari traktor roda empat hingga drone untuk penyemprotan lahan.

    "Anak muda sekarang melek IT. Dengan teknologi, kita tidak lagi menyentuh langsung dengan tanah. Naik di atas mesin kita bisa olah tanah, bisa tanam dan nyemprot pakai drone. Jadi tidak ada lagi cerita kotor-kotoran lumpur," jelasnya.

    Menjawab kekhawatiran mengenai daya tampung Bulog yang sempat penuh, Hamdan memastikan pemerintah sudah memiliki strategi baru. Bulog kini bermitra langsung dengan penggilingan padi di desa-desa.

    "Bulog sekarang berkolaborasi dengan penggilingan di desa untuk menghasilkan beras, bukan lagi sekadar menampung gabah. Jadi biaya pengeringan dan penggilingan dikelola di desa, lalu berasnya diambil Bulog. Ini memastikan hasil panen petani tetap terserap maksimal," tuturnya.

    Melalui program ini, pemerintah berharap anak muda tidak perlu lagi merantau mencari kerja ke luar daerah, melainkan cukup mengolah kekayaan alam yang ada di desa masing-masing dengan sentuhan teknologi modern.

    (Sf/Lo)