Seputar Kaltim

    Breeding Farm Sapi di Kutim Belum Terealisasi, Anggaran dan Tenaga Ahli Jadi Kendala

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    04 Juni 2026 pukul 14:04 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Rencana pembangunan breeding farm atau pusat pembibitan sapi di Kecamatan Rantau Pulung, Kutai Timur (Kutim) belum dapat direalisasikan. 

    Keterbatasan anggaran dan belum tersedianya tenaga ahli menjadi dua kendala utama yang dihadapi pemerintah daerah.

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi mengatakan gagasan pembangunan breeding farm muncul setelah dirinya melakukan studi banding ke Malang, Jawa Timur (Jatim). Dari kunjungan tersebut, ia melihat pengembangan sapi BX yang didatangkan dari Jawa Barat.

    Namun, menurutnya pasokan sapi BX dari Jawa Barat (Jabar) masih terbatas dan distribusinya ke Kalimantan Timur (Kaltim) juga tidak mudah.

    “Kalau kita ambil juga di Jawa Barat, sapi BX-nya masih kurang dipenuhi. Yang kedua ada batas jangkauan distribusi sapi dari Jawa Barat ke sini,” ujar Mahyunadi.

    Karena itu, pihaknya bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim mempertimbangkan pembangunan breeding farm sendiri. Bahkan, terdapat lahan sekitar enam hektare di Rantau Pulung yang dipertimbangkan sebagai lokasi pengembangan pusat pembibitan sapi tersebut.

    Meski demikian, Mahyunadi mengakui rencana tersebut masih terkendala kemampuan anggaran daerah. “Kendala yang pertama karena memang turbulensi anggaran kita kemarin agak berat,” katanya.

    Selain anggaran, Pemkab Kutim juga belum memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berpengalaman dalam mengelola breeding farm.

    “Yang kedua kita belum punya ahlinya. Gimana kita cari ahlinya? Kalau kita mau bikin, kan kita harus lihat dulu bagaimana yang sudah punya. Secara resmi pun kami menyurat kepada beberapa farm untuk studi banding, tetapi belum ada yang menerima,” tambahnya.

    Untuk itu, ia berharap perguruan tinggi, khususnya Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) dapat berperan dalam pengembangan sektor peternakan daerah sekaligus membantu menyiapkan tenaga ahli yang dibutuhkan.

    “Kalau bisa peran STIPER ini yang mengembangkan. Kalau kami enggak bisa, minimal mahasiswa kita yang kita mantapkan di sana,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Breeding Farm Sapi di Kutim Belum Terealisasi, Anggaran dan Tenaga Ahli Jadi Kendala

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    04 Juni 2026 pukul 14:04 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Rencana pembangunan breeding farm atau pusat pembibitan sapi di Kecamatan Rantau Pulung, Kutai Timur (Kutim) belum dapat direalisasikan. 

    Keterbatasan anggaran dan belum tersedianya tenaga ahli menjadi dua kendala utama yang dihadapi pemerintah daerah.

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi mengatakan gagasan pembangunan breeding farm muncul setelah dirinya melakukan studi banding ke Malang, Jawa Timur (Jatim). Dari kunjungan tersebut, ia melihat pengembangan sapi BX yang didatangkan dari Jawa Barat.

    Namun, menurutnya pasokan sapi BX dari Jawa Barat (Jabar) masih terbatas dan distribusinya ke Kalimantan Timur (Kaltim) juga tidak mudah.

    “Kalau kita ambil juga di Jawa Barat, sapi BX-nya masih kurang dipenuhi. Yang kedua ada batas jangkauan distribusi sapi dari Jawa Barat ke sini,” ujar Mahyunadi.

    Karena itu, pihaknya bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim mempertimbangkan pembangunan breeding farm sendiri. Bahkan, terdapat lahan sekitar enam hektare di Rantau Pulung yang dipertimbangkan sebagai lokasi pengembangan pusat pembibitan sapi tersebut.

    Meski demikian, Mahyunadi mengakui rencana tersebut masih terkendala kemampuan anggaran daerah. “Kendala yang pertama karena memang turbulensi anggaran kita kemarin agak berat,” katanya.

    Selain anggaran, Pemkab Kutim juga belum memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berpengalaman dalam mengelola breeding farm.

    “Yang kedua kita belum punya ahlinya. Gimana kita cari ahlinya? Kalau kita mau bikin, kan kita harus lihat dulu bagaimana yang sudah punya. Secara resmi pun kami menyurat kepada beberapa farm untuk studi banding, tetapi belum ada yang menerima,” tambahnya.

    Untuk itu, ia berharap perguruan tinggi, khususnya Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) dapat berperan dalam pengembangan sektor peternakan daerah sekaligus membantu menyiapkan tenaga ahli yang dibutuhkan.

    “Kalau bisa peran STIPER ini yang mengembangkan. Kalau kami enggak bisa, minimal mahasiswa kita yang kita mantapkan di sana,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)