Seputar Kaltim

    BKKBN Kaltim Optimis TFR Menurun, Samarinda jadi yang Terendah

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    21 Agustus 2024 pukul 16:29 WITA

    Kepala BKKBN Perwakilan Kaltim, Sunarto. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim) optimistis angka Total Fertility Rate (TFR) di provinsi ini akan terus menurun. 

    Kepala BKKBN Kaltim, Sunarto, mengungkapkan target TFR Kaltim pada tahun 2024 adalah 2,13. "Angka ini merupakan hasil dari upaya kita dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas keluarga," ujar Sunaryo saat ditemui di Samarinda.

    TFR sendiri merupakan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan selama masa suburnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan bahwa TFR Kaltim saat ini berada di angka 2,18, mengalami penurunan signifikan dari angka 5,41 pada tahun 1971.

    "Penurunan ini menunjukkan keberhasilan program keluarga berencana yang telah kita laksanakan selama ini," tambah Sunarto.

    Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, Samarinda mencatatkan TFR terendah yakni 2,06, sementara Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) memiliki TFR tertinggi sebesar 2,42. Meskipun demikian, seluruh kabupaten/kota di Kaltim telah berhasil menekan TFR di bawah angka tiga.

    "Ini merupakan pencapaian yang baik, mengingat pentingnya menjaga keseimbangan pertumbuhan penduduk," ungkapnya.

    Sunarto mengingatkan pentingnya menjaga agar TFR tidak turun di bawah angka dua. "Jika TFR terlalu rendah, maka akan terjadi pertumbuhan penduduk negatif atau minus growth," jelasnya.

    Angka TFR sebesar 2,1 dianggap sebagai tingkat penggantian (replacement level) yang ideal, di mana setiap perempuan akan digantikan oleh satu anak perempuan.

    "Untuk mencapai target tersebut, kita perlu terus meningkatkan kualitas pelayanan keluarga berencana dan memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama remaja, tentang pentingnya menunda pernikahan dan merencanakan kehamilan," pungkas Sunarto.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    BKKBN Kaltim Optimis TFR Menurun, Samarinda jadi yang Terendah

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    21 Agustus 2024 pukul 16:29 WITA

    Kepala BKKBN Perwakilan Kaltim, Sunarto. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim) optimistis angka Total Fertility Rate (TFR) di provinsi ini akan terus menurun. 

    Kepala BKKBN Kaltim, Sunarto, mengungkapkan target TFR Kaltim pada tahun 2024 adalah 2,13. "Angka ini merupakan hasil dari upaya kita dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas keluarga," ujar Sunaryo saat ditemui di Samarinda.

    TFR sendiri merupakan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan selama masa suburnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan bahwa TFR Kaltim saat ini berada di angka 2,18, mengalami penurunan signifikan dari angka 5,41 pada tahun 1971.

    "Penurunan ini menunjukkan keberhasilan program keluarga berencana yang telah kita laksanakan selama ini," tambah Sunarto.

    Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, Samarinda mencatatkan TFR terendah yakni 2,06, sementara Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) memiliki TFR tertinggi sebesar 2,42. Meskipun demikian, seluruh kabupaten/kota di Kaltim telah berhasil menekan TFR di bawah angka tiga.

    "Ini merupakan pencapaian yang baik, mengingat pentingnya menjaga keseimbangan pertumbuhan penduduk," ungkapnya.

    Sunarto mengingatkan pentingnya menjaga agar TFR tidak turun di bawah angka dua. "Jika TFR terlalu rendah, maka akan terjadi pertumbuhan penduduk negatif atau minus growth," jelasnya.

    Angka TFR sebesar 2,1 dianggap sebagai tingkat penggantian (replacement level) yang ideal, di mana setiap perempuan akan digantikan oleh satu anak perempuan.

    "Untuk mencapai target tersebut, kita perlu terus meningkatkan kualitas pelayanan keluarga berencana dan memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama remaja, tentang pentingnya menunda pernikahan dan merencanakan kehamilan," pungkas Sunarto.

    (Sf/Rs)