Cari disini...
Seputar Kaltim
Pemberian susu formula oleh seorang ibu. (Foto: Pexels.com)
Samarinda - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim), Sunarto, memberikan apresiasi atas keputusan pemerintah melarang produsen susu formula memberikan diskon dan melakukan promosi yang masif.
"Larangan ini sejalan dengan upaya kita untuk meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif," ujar Sunarto saat ditemui di Samarinda.
Seperti diketahui, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, pemerintah telah membatasi promosi susu formula, termasuk larangan memberikan sampel gratis, potongan harga, dan penggunaan tenaga medis untuk mempromosikan produk tersebut.
Sunarto menjelaskan bahwa keputusan ini diambil mengingat masih rendahnya angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Padahal, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi dan memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak.
"Dengan membatasi promosi susu formula, diharapkan para ibu lebih terdorong untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya," imbuhnya.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya peningkatan persentase bayi usia di bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia, termasuk di Kaltim. Meskipun demikian, Sunarto menegaskan bahwa masih perlu upaya lebih lanjut untuk mencapai target 100 persen pemberian ASI eksklusif.
"Di Kaltim sendiri, angka pemberian ASI eksklusif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kita harus terus berupaya untuk meningkatkannya lagi," kata Sunarto.
Untuk mendukung para ibu dalam memberikan ASI eksklusif, BKKBN Kaltim telah melakukan berbagai upaya, yakni melakukan peningkatan kapasitas petugas kesehatan di puskesmas yang telah dilatih untuk memberikan konseling dan dukungan kepada ibu menyusui, termasuk teknik pijat oksitosin untuk merangsang produksi ASI.
Selanjutnya, BKKBN Kaltim terus melakukan sosialisasi tentang pentingnya ASI eksklusif kepada masyarakat, terutama ibu hamil dan menyusui. Terakhir, menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti organisasi masyarakat dan media massa, untuk mempromosikan ASI eksklusif.
Selain untuk meningkatkan kesehatan bayi, pemberian ASI eksklusif juga dapat mencegah terjadinya penyakit kronis pada anak di kemudian hari, seperti diabetes.
"Peningkatan kasus diabetes pada anak menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan ini," ungkap Sunarto menutup percakapan.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pemberian susu formula oleh seorang ibu. (Foto: Pexels.com)
Samarinda - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim), Sunarto, memberikan apresiasi atas keputusan pemerintah melarang produsen susu formula memberikan diskon dan melakukan promosi yang masif.
"Larangan ini sejalan dengan upaya kita untuk meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif," ujar Sunarto saat ditemui di Samarinda.
Seperti diketahui, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, pemerintah telah membatasi promosi susu formula, termasuk larangan memberikan sampel gratis, potongan harga, dan penggunaan tenaga medis untuk mempromosikan produk tersebut.
Sunarto menjelaskan bahwa keputusan ini diambil mengingat masih rendahnya angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Padahal, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi dan memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak.
"Dengan membatasi promosi susu formula, diharapkan para ibu lebih terdorong untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya," imbuhnya.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya peningkatan persentase bayi usia di bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia, termasuk di Kaltim. Meskipun demikian, Sunarto menegaskan bahwa masih perlu upaya lebih lanjut untuk mencapai target 100 persen pemberian ASI eksklusif.
"Di Kaltim sendiri, angka pemberian ASI eksklusif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kita harus terus berupaya untuk meningkatkannya lagi," kata Sunarto.
Untuk mendukung para ibu dalam memberikan ASI eksklusif, BKKBN Kaltim telah melakukan berbagai upaya, yakni melakukan peningkatan kapasitas petugas kesehatan di puskesmas yang telah dilatih untuk memberikan konseling dan dukungan kepada ibu menyusui, termasuk teknik pijat oksitosin untuk merangsang produksi ASI.
Selanjutnya, BKKBN Kaltim terus melakukan sosialisasi tentang pentingnya ASI eksklusif kepada masyarakat, terutama ibu hamil dan menyusui. Terakhir, menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti organisasi masyarakat dan media massa, untuk mempromosikan ASI eksklusif.
Selain untuk meningkatkan kesehatan bayi, pemberian ASI eksklusif juga dapat mencegah terjadinya penyakit kronis pada anak di kemudian hari, seperti diabetes.
"Peningkatan kasus diabetes pada anak menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan ini," ungkap Sunarto menutup percakapan.
(Sf/Rs)