Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi bidan memeriksa ibu hamil sebagai upaya menekan AKI-AKB dan mencegah stunting. (Foto: Ilustrasi AI)
Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi meminta para bidan mengoptimalkan pelayanan kesehatan ibu dan anak, guna menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), serta mempercepat penanganan stunting sejak masa kehamilan.
Ia mengatakan, bidan memiliki peran penting dalam mendampingi masyarakat sejak pelayanan kesehatan reproduksi, masa kehamilan, persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Menurut Mahyunadi, upaya menekan angka kematian ibu dan bayi harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pelayanan antenatal yang berkualitas, deteksi dini risiko kehamilan, pendampingan persalinan yang aman, hingga pelayanan bagi ibu dan bayi setelah persalinan.
"Tidak boleh ada ibu yang kehilangan hak memperoleh pelayanan kesehatan hanya karena keterbatasan akses maupun informasi," ujar Mahyunadi saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-75.
Ia juga mengajak para bidan mengintensifkan pencegahan stunting sejak masa kehamilan melalui edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang anak, pemberian ASI eksklusif, serta pendampingan keluarga.
Selain itu, Mahyunadi mendorong seluruh bidan terus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan. Pemerintah daerah juga akan membuka peluang kolaborasi beasiswa dari pemerintah maupun perusahaan guna mendukung peningkatan kompetensi bidan.
"Silakan yang ingin meningkatkan ilmu. Nanti kita coba kolaborasikan dengan beasiswa pemerintah maupun perusahaan," katanya.
Di sisi lain, ia menilai transformasi layanan kesehatan juga harus diikuti pemanfaatan teknologi, seperti sistem informasi kesehatan dan rekam medis elektronik. Meski demikian, Mahyunadi mengingatkan pelayanan yang humanis tetap menjadi kekuatan utama profesi bidan.
"Secanggih apa pun teknologi yang digunakan, sentuhan empati dan komunikasi yang baik tidak boleh ditinggalkan," katanya.
Ia menegaskan, upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat memerlukan kolaborasi lintas sektor, tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan.
"Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak mungkin dicapai oleh satu pihak saja. Kolaborasi seluruh tenaga kesehatan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus terus diperkuat agar setiap program benar-benar memberi dampak bagi masyarakat," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi bidan memeriksa ibu hamil sebagai upaya menekan AKI-AKB dan mencegah stunting. (Foto: Ilustrasi AI)
Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi meminta para bidan mengoptimalkan pelayanan kesehatan ibu dan anak, guna menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), serta mempercepat penanganan stunting sejak masa kehamilan.
Ia mengatakan, bidan memiliki peran penting dalam mendampingi masyarakat sejak pelayanan kesehatan reproduksi, masa kehamilan, persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Menurut Mahyunadi, upaya menekan angka kematian ibu dan bayi harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pelayanan antenatal yang berkualitas, deteksi dini risiko kehamilan, pendampingan persalinan yang aman, hingga pelayanan bagi ibu dan bayi setelah persalinan.
"Tidak boleh ada ibu yang kehilangan hak memperoleh pelayanan kesehatan hanya karena keterbatasan akses maupun informasi," ujar Mahyunadi saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-75.
Ia juga mengajak para bidan mengintensifkan pencegahan stunting sejak masa kehamilan melalui edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang anak, pemberian ASI eksklusif, serta pendampingan keluarga.
Selain itu, Mahyunadi mendorong seluruh bidan terus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan. Pemerintah daerah juga akan membuka peluang kolaborasi beasiswa dari pemerintah maupun perusahaan guna mendukung peningkatan kompetensi bidan.
"Silakan yang ingin meningkatkan ilmu. Nanti kita coba kolaborasikan dengan beasiswa pemerintah maupun perusahaan," katanya.
Di sisi lain, ia menilai transformasi layanan kesehatan juga harus diikuti pemanfaatan teknologi, seperti sistem informasi kesehatan dan rekam medis elektronik. Meski demikian, Mahyunadi mengingatkan pelayanan yang humanis tetap menjadi kekuatan utama profesi bidan.
"Secanggih apa pun teknologi yang digunakan, sentuhan empati dan komunikasi yang baik tidak boleh ditinggalkan," katanya.
Ia menegaskan, upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat memerlukan kolaborasi lintas sektor, tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan.
"Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak mungkin dicapai oleh satu pihak saja. Kolaborasi seluruh tenaga kesehatan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus terus diperkuat agar setiap program benar-benar memberi dampak bagi masyarakat," pungkasnya.
(Sf/Lo)