Seputar Kaltim

    Berau Urutan ke-5 Terpanas di Indonesia, BPBD Ingatkan Risiko Karhutla

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    07 Agustus 2026 pukul 16:37 WITA

    Cuaca di Kabupaten Berau pada Jumat, (7/8/2026). (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terbaru periode 6-7 Agustus 2026, Berau menduduki urutan kelima sebagai wilayah terpanas di Indonesia dengan suhu maksimum harian mencapai 35,8 derajat Celsius (°C)

    Untuk diketahui berikut adalah daftar wilayah dengan suhu maksimum harian tertinggi berdasarkan stasiun pengamatan BMKG, Medan 37,8°C, Deli Serdang  37,2°C, Banjarbaru 36,0°C, Sumatera Utara (Stasiun Klimatologi) 35,8°C, Berau 35,8°C, Sintang 35,7°C, Melawi 35,5°C, Bulungan 35,5°C.

    Menanggapi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

    Imbauan tersebut disampaikan menyusul tingginya suhu udara dan bertambahnya jumlah titik panas (hotspot) selama musim kemarau 2026.

    Kepala BPBD Berau, Masyhadi Muhdi mengatakan Berau memasuki periode rawan karhutla. Dalam sepekan terakhir, jumlah hotspot yang terpantau berkisar antara 35 hingga 70 titik setiap hari, sedangkan pada hari-hari tertentu mencapai sekitar 30 titik. 

    Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi cuaca panas yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober dengan puncaknya pada Agustus dan September.

    "Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Saat musim kemarau seperti sekarang, vegetasi di lapangan sangat mudah terbakar sehingga sedikit percikan api saja bisa memicu kebakaran," kata Masyhadi.

    Untuk meminimalisir risiko karhutla, BPBD terus memperkuat koordinasi bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), serta perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan rawan. 

    Pelaku usaha juga telah diminta berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran di sekitar wilayah operasional masing-masing.

    "Wilayah yang menjadi fokus pengawasan atau masuk rawan adalah Kecamatan Teluk Bayur, Sambaliung, Tabalar, Pulau Derawan, Biatan dan Talisayan. Kalau, Kecamatan Segah dan Kelay masih memiliki curah hujan yang cukup jadi tingkat kerawanannya relatif lebih rendah dibanding wilayah lainnya," tuturnya.

    Sementara itu, Masyhadi menyebut di tengah meningkatnya ancaman karhutla, BPBD masih menghadapi keterbatasan personel dan anggaran operasional, terutama untuk kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM). 

    Oleh karena itu, setiap laporan kebakaran dikoordinasikan dengan petugas yang berada paling dekat dengan lokasi agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efisien.

    "Kami harus menyesuaikan pengerahan personel dengan kondisi di lapangan karena ada keterbatasan personel dan BBM. Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar penanganan tetap berjalan optimal," tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Berau Urutan ke-5 Terpanas di Indonesia, BPBD Ingatkan Risiko Karhutla

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    07 Agustus 2026 pukul 16:37 WITA

    Cuaca di Kabupaten Berau pada Jumat, (7/8/2026). (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terbaru periode 6-7 Agustus 2026, Berau menduduki urutan kelima sebagai wilayah terpanas di Indonesia dengan suhu maksimum harian mencapai 35,8 derajat Celsius (°C)

    Untuk diketahui berikut adalah daftar wilayah dengan suhu maksimum harian tertinggi berdasarkan stasiun pengamatan BMKG, Medan 37,8°C, Deli Serdang  37,2°C, Banjarbaru 36,0°C, Sumatera Utara (Stasiun Klimatologi) 35,8°C, Berau 35,8°C, Sintang 35,7°C, Melawi 35,5°C, Bulungan 35,5°C.

    Menanggapi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

    Imbauan tersebut disampaikan menyusul tingginya suhu udara dan bertambahnya jumlah titik panas (hotspot) selama musim kemarau 2026.

    Kepala BPBD Berau, Masyhadi Muhdi mengatakan Berau memasuki periode rawan karhutla. Dalam sepekan terakhir, jumlah hotspot yang terpantau berkisar antara 35 hingga 70 titik setiap hari, sedangkan pada hari-hari tertentu mencapai sekitar 30 titik. 

    Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi cuaca panas yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober dengan puncaknya pada Agustus dan September.

    "Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Saat musim kemarau seperti sekarang, vegetasi di lapangan sangat mudah terbakar sehingga sedikit percikan api saja bisa memicu kebakaran," kata Masyhadi.

    Untuk meminimalisir risiko karhutla, BPBD terus memperkuat koordinasi bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), serta perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan rawan. 

    Pelaku usaha juga telah diminta berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran di sekitar wilayah operasional masing-masing.

    "Wilayah yang menjadi fokus pengawasan atau masuk rawan adalah Kecamatan Teluk Bayur, Sambaliung, Tabalar, Pulau Derawan, Biatan dan Talisayan. Kalau, Kecamatan Segah dan Kelay masih memiliki curah hujan yang cukup jadi tingkat kerawanannya relatif lebih rendah dibanding wilayah lainnya," tuturnya.

    Sementara itu, Masyhadi menyebut di tengah meningkatnya ancaman karhutla, BPBD masih menghadapi keterbatasan personel dan anggaran operasional, terutama untuk kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM). 

    Oleh karena itu, setiap laporan kebakaran dikoordinasikan dengan petugas yang berada paling dekat dengan lokasi agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efisien.

    "Kami harus menyesuaikan pengerahan personel dengan kondisi di lapangan karena ada keterbatasan personel dan BBM. Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar penanganan tetap berjalan optimal," tutupnya.

    (Sf/Lo)