Berada di Peringkat Dua Nasional, Kaltim Perkuat Ketahanan Pangan di Lahan Marginal

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    22 Desember 2025 01:53 WIB

    Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji. (Foto: Biro Adpim Setdaprov Kaltim)

    Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatatkan pencapaian strategis dalam peta ketahanan pangan nasional tahun 2025. 

    Berdasarkan data Indeks Ketahanan Pangan (IKP), Kaltim sukses menduduki peringkat dua besar nasional dengan skor 80,82. 

    Angka ini menempatkan Bumi Etam dalam kategori Sangat Tahan, yang berarti kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi dengan stabil, baik dalam kondisi normal maupun situasi bencana.

    Dalam sebuah dialog bersama Diana Dwika, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengungkapkan bahwa prestasi ini dicapai di tengah tantangan lingkungan yang cukup berat, terutama terkait keterbatasan lahan subur.

    Intervensi Teknologi di Lahan Marginal Untuk mengatasi hambatan geografis, Pemerintah Provinsi Kaltim melakukan transformasi melalui rekayasa lahan. 

    Fokus utama diarahkan pada optimalisasi lahan marginal agar memiliki produktivitas setara lahan subur di pulau Jawa.

    “Melalui rekayasa lahan seperti penambahan kapur dan dolomit, serta penerapan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), kita berhasil meningkatkan produktivitas secara signifikan. Padi yang dulunya hanya menghasilkan 3–4 ton, kini melonjak menjadi 6–7 ton per hektare dalam sekali panen,” papar Seno Aji.

    Keberhasilan teknis di lapangan ini berdampak langsung pada data kemandirian pangan daerah. Kaltim mencatatkan tren positif dalam pemenuhan kebutuhan beras domestik, dari sebelumnya hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan, kini telah mencapai angka 60 persen.

    Per November 2025, produksi beras Kaltim tercatat mencapai 160.000 ton. Pemerintah menargetkan perluasan lahan pertanian dari 33.000 hektare menjadi 46.000 hingga 50.000 hektare melalui program cetak sawah baru.

    Selain faktor lahan, pemerintah memberikan perhatian khusus pada keberlanjutan sektor ini melalui aspek sosial-lingkungan. Upaya memperkuat ketahanan pangan juga dilakukan dengan mendorong regenerasi petani melalui Brigade Pangan dan kelompok Petani Milenial yang didukung oleh alat pertanian modern.

    Langkah komprehensif ini diharapkan mampu menutup sisa defisit kebutuhan beras sehingga Kaltim dapat segera mencapai swasembada 100 persen, bahkan surplus, guna mewujudkan visi Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Berada di Peringkat Dua Nasional, Kaltim Perkuat Ketahanan Pangan di Lahan Marginal

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    22 Desember 2025 01:53 WIB

    Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji. (Foto: Biro Adpim Setdaprov Kaltim)

    Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatatkan pencapaian strategis dalam peta ketahanan pangan nasional tahun 2025. 

    Berdasarkan data Indeks Ketahanan Pangan (IKP), Kaltim sukses menduduki peringkat dua besar nasional dengan skor 80,82. 

    Angka ini menempatkan Bumi Etam dalam kategori Sangat Tahan, yang berarti kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi dengan stabil, baik dalam kondisi normal maupun situasi bencana.

    Dalam sebuah dialog bersama Diana Dwika, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengungkapkan bahwa prestasi ini dicapai di tengah tantangan lingkungan yang cukup berat, terutama terkait keterbatasan lahan subur.

    Intervensi Teknologi di Lahan Marginal Untuk mengatasi hambatan geografis, Pemerintah Provinsi Kaltim melakukan transformasi melalui rekayasa lahan. 

    Fokus utama diarahkan pada optimalisasi lahan marginal agar memiliki produktivitas setara lahan subur di pulau Jawa.

    “Melalui rekayasa lahan seperti penambahan kapur dan dolomit, serta penerapan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), kita berhasil meningkatkan produktivitas secara signifikan. Padi yang dulunya hanya menghasilkan 3–4 ton, kini melonjak menjadi 6–7 ton per hektare dalam sekali panen,” papar Seno Aji.

    Keberhasilan teknis di lapangan ini berdampak langsung pada data kemandirian pangan daerah. Kaltim mencatatkan tren positif dalam pemenuhan kebutuhan beras domestik, dari sebelumnya hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan, kini telah mencapai angka 60 persen.

    Per November 2025, produksi beras Kaltim tercatat mencapai 160.000 ton. Pemerintah menargetkan perluasan lahan pertanian dari 33.000 hektare menjadi 46.000 hingga 50.000 hektare melalui program cetak sawah baru.

    Selain faktor lahan, pemerintah memberikan perhatian khusus pada keberlanjutan sektor ini melalui aspek sosial-lingkungan. Upaya memperkuat ketahanan pangan juga dilakukan dengan mendorong regenerasi petani melalui Brigade Pangan dan kelompok Petani Milenial yang didukung oleh alat pertanian modern.

    Langkah komprehensif ini diharapkan mampu menutup sisa defisit kebutuhan beras sehingga Kaltim dapat segera mencapai swasembada 100 persen, bahkan surplus, guna mewujudkan visi Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas.

    (Sf/Rs)