Seputar Kaltim

    Belum Diproduksi Massal, Pemkab Kutim Mulai Kembangkan Tepung Pisang dari Kaliorang

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    02 November 2025 pukul 19:51 WITA

    Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengembangkan tepung pisang sebagai salah satu produk olahan unggulan daerah. 

    Langkah ini diambil untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pisang lokal serta membuka peluang ekonomi baru bagi petani.

    Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan, meski masih dalam tahap awal, tepung pisang memiliki potensi besar untuk dikembangkan hingga skala industri.

    Ia menjelaskan, saat ini tepung pisang belum diproduksi secara massal. Upaya yang dilakukan baru sebatas pelatihan kepada kelompok tani skala rumah tangga agar mereka memahami dasar-dasar pengolahan pisang menjadi tepung.

    “Tepung pisang ini memang belum diproduksi secara besar-besaran. Saat ini kita baru melakukan pelatihan untuk kelompok tani skala rumah tangga, jadi mereka baru belajar cara membuatnya,” ujar Dyah.

    Ia menambahkan, masih dibutuhkan sejumlah persiapan sebelum produksi dapat ditingkatkan, mulai dari ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, hingga sistem pengendalian mutu (quality control).

    “Kalau mau memenuhi kebutuhan perusahaan, tentu harus ada kontinuitas produksi dan kapasitas yang memadai. Kita belum sampai ke tahap itu,” tambahnya.

    Untuk mempercepat pengembangan, DTPHP Kutim juga menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), guna memperkuat riset dan teknologi pengolahan tepung pisang.

    “Kami berharap kerja sama dengan ITS bisa membantu membawa produksi tepung pisang Kutim ke tahap industri,” kata Dyah.

    Lebih lanjut, Dyah menyoroti potensi besar pisang kepok grecek, varietas lokal yang berasal dari Kecamatan Kaliorang, dan telah memiliki Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Pertanian sebagai varietas asli Kutim. Varietas ini dinilai sangat cocok dijadikan bahan utama pembuatan tepung pisang karena produksinya melimpah dan sudah dikenal luas di kalangan petani.

    “Pisang kepok grecek ini sudah diakui sebagai varietas asli Kutim. Produksinya paling luas di Kaliorang, jadi sangat potensial untuk dijadikan bahan utama,” ungkapnya.

    Dyah juga menyebutkan, dari sisi ekonomi, budidaya pisang bahkan bisa lebih menguntungkan dibandingkan kelapa sawit, asalkan dikelola dengan baik.

    “Kalau dihitung-hitung, skala ekonominya bisa lebih besar. Ada petani yang sudah tanam pisang dan tidak mau beralih ke sawit karena hasilnya cukup menjanjikan,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Belum Diproduksi Massal, Pemkab Kutim Mulai Kembangkan Tepung Pisang dari Kaliorang

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    02 November 2025 pukul 19:51 WITA

    Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengembangkan tepung pisang sebagai salah satu produk olahan unggulan daerah. 

    Langkah ini diambil untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pisang lokal serta membuka peluang ekonomi baru bagi petani.

    Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan, meski masih dalam tahap awal, tepung pisang memiliki potensi besar untuk dikembangkan hingga skala industri.

    Ia menjelaskan, saat ini tepung pisang belum diproduksi secara massal. Upaya yang dilakukan baru sebatas pelatihan kepada kelompok tani skala rumah tangga agar mereka memahami dasar-dasar pengolahan pisang menjadi tepung.

    “Tepung pisang ini memang belum diproduksi secara besar-besaran. Saat ini kita baru melakukan pelatihan untuk kelompok tani skala rumah tangga, jadi mereka baru belajar cara membuatnya,” ujar Dyah.

    Ia menambahkan, masih dibutuhkan sejumlah persiapan sebelum produksi dapat ditingkatkan, mulai dari ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, hingga sistem pengendalian mutu (quality control).

    “Kalau mau memenuhi kebutuhan perusahaan, tentu harus ada kontinuitas produksi dan kapasitas yang memadai. Kita belum sampai ke tahap itu,” tambahnya.

    Untuk mempercepat pengembangan, DTPHP Kutim juga menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), guna memperkuat riset dan teknologi pengolahan tepung pisang.

    “Kami berharap kerja sama dengan ITS bisa membantu membawa produksi tepung pisang Kutim ke tahap industri,” kata Dyah.

    Lebih lanjut, Dyah menyoroti potensi besar pisang kepok grecek, varietas lokal yang berasal dari Kecamatan Kaliorang, dan telah memiliki Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Pertanian sebagai varietas asli Kutim. Varietas ini dinilai sangat cocok dijadikan bahan utama pembuatan tepung pisang karena produksinya melimpah dan sudah dikenal luas di kalangan petani.

    “Pisang kepok grecek ini sudah diakui sebagai varietas asli Kutim. Produksinya paling luas di Kaliorang, jadi sangat potensial untuk dijadikan bahan utama,” ungkapnya.

    Dyah juga menyebutkan, dari sisi ekonomi, budidaya pisang bahkan bisa lebih menguntungkan dibandingkan kelapa sawit, asalkan dikelola dengan baik.

    “Kalau dihitung-hitung, skala ekonominya bisa lebih besar. Ada petani yang sudah tanam pisang dan tidak mau beralih ke sawit karena hasilnya cukup menjanjikan,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)