Seputar Kaltim

    Begini Respons Anggota DPRD Samarinda Soal Uji Coba Program Makan Bergizi Gratis

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    11 Desember 2024 pukul 08:14 WITA

    Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, Selasa (10/12/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti menekankan ketersediaan bahan makanan yang cukup dalam melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG). Menurutnya ketersediaan bahan makanan menjadi indikator dalam kelancaran implementasi program. 

    Pagi tadi, Pemerintah Kota Samarinda telah melakukan uji coba dengan melibatkan sekitar 300 siswa sebagai penerima, dari tiga tingkatan sekolah, mulai dari TK, SD, hingga SMP di Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu. 

    "Ini kan baru uji coba dan semoga nanti berhasil di 2025 pelaksanaanya, yang paling penting itu bagaimana ketersediaan bahan makanan karena siswa kita banyak di tingkat TK sampai SMP ada sekitar 134 ribu," kata Puji, Selasa (10/12/2024). 

    Selain itu, ia juga menyoroti sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menjalankan program ini, seperti dapur, termasuk petunjuk teknis dan regulasi yang masih dibahas hingga saat ini. 

    Politisi Partai Demokrat ini berpendapat, dengan harga Rp15 ribu seperti yang diberikan oleh pemerintah kota masih terbilang kecil untuk mencukupi kebutuhan para siswa. 

    "Dengan angka Rp15 ribu rasanya kecil sekali ya, apa bisa cukup jumlah kalorinya, berarti anak-anak ini di rumah juga orang tuanya harus menyediakan sarapan," ungkapnya. 

    Lebih lanjut, ia pun menyinggung soal edukasi pentingnya makanan bergizi yang diperoleh dari ragam jenis makanan, seperti sayur, dan protein nabati juga hewani yang harus tercukupi. Menurutnya, pemahaman tentang gizi yang dikandung dalam bahan makanan, juga kebutuhan yang diperlukan tubuh menjadi salah satu faktor para siswa agar tidak pilih-pilih makanan. 

    "Kemudian pendidikan mengenai sanitasi tentang kebersihan, lalu bagaimana fungsi tentang makanan itu jadi semacam edukasi juga untuk orangtua dan siswa," tuturnya.  

    Ia meyakini, program ini juga bisa menghindarkan masyarakat dari stunting akibat kemiskinan. Sehingga, dengan pemerintah terlibat langsung dalam menjalankan program ini bisa mencerahkan terwujudnya generasi emas di 2045. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Begini Respons Anggota DPRD Samarinda Soal Uji Coba Program Makan Bergizi Gratis

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    11 Desember 2024 pukul 08:14 WITA

    Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, Selasa (10/12/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti menekankan ketersediaan bahan makanan yang cukup dalam melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG). Menurutnya ketersediaan bahan makanan menjadi indikator dalam kelancaran implementasi program. 

    Pagi tadi, Pemerintah Kota Samarinda telah melakukan uji coba dengan melibatkan sekitar 300 siswa sebagai penerima, dari tiga tingkatan sekolah, mulai dari TK, SD, hingga SMP di Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu. 

    "Ini kan baru uji coba dan semoga nanti berhasil di 2025 pelaksanaanya, yang paling penting itu bagaimana ketersediaan bahan makanan karena siswa kita banyak di tingkat TK sampai SMP ada sekitar 134 ribu," kata Puji, Selasa (10/12/2024). 

    Selain itu, ia juga menyoroti sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menjalankan program ini, seperti dapur, termasuk petunjuk teknis dan regulasi yang masih dibahas hingga saat ini. 

    Politisi Partai Demokrat ini berpendapat, dengan harga Rp15 ribu seperti yang diberikan oleh pemerintah kota masih terbilang kecil untuk mencukupi kebutuhan para siswa. 

    "Dengan angka Rp15 ribu rasanya kecil sekali ya, apa bisa cukup jumlah kalorinya, berarti anak-anak ini di rumah juga orang tuanya harus menyediakan sarapan," ungkapnya. 

    Lebih lanjut, ia pun menyinggung soal edukasi pentingnya makanan bergizi yang diperoleh dari ragam jenis makanan, seperti sayur, dan protein nabati juga hewani yang harus tercukupi. Menurutnya, pemahaman tentang gizi yang dikandung dalam bahan makanan, juga kebutuhan yang diperlukan tubuh menjadi salah satu faktor para siswa agar tidak pilih-pilih makanan. 

    "Kemudian pendidikan mengenai sanitasi tentang kebersihan, lalu bagaimana fungsi tentang makanan itu jadi semacam edukasi juga untuk orangtua dan siswa," tuturnya.  

    Ia meyakini, program ini juga bisa menghindarkan masyarakat dari stunting akibat kemiskinan. Sehingga, dengan pemerintah terlibat langsung dalam menjalankan program ini bisa mencerahkan terwujudnya generasi emas di 2045. 

    (Sf/Rs)