Cari disini...
Seputar Kaltim
Expo pameran desain bertajuk “Revitalizing The Chinatown Samarinda” di Atrium Mall Samarinda Central Plaza (SCP), Minggu (25/8/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda bakal mendirikan kawasan dengan nuansa Tionghoa di area Pecinan Samarinda.
Untuk itu Pemkot Samarinda menggelar expo desain bertema "Revitalizing The Chinatown Samarinda" di Atrium Mal Samarinda Central Plaza (SCP) selama dua hari. Dimulai pada tanggal 24 hingga 25 Agustus 2024.
Dalam expo ini diperlihatkan desain-desain yang telah dibuat oleh para mahasiswa dari berbagai universitas. Diperlihatkan detail-detail bangunan dan kawasan yang akan tercipta di masa depan.
Salah satu penyumbang desain dari Universitas Mulawarman, Muhammad Reza, mengungkapkan kepuasan dirinya atas hasil kerjanya sendiri.
Pada detail desain yang dibuat, ia memadukan budaya luar, dalam hal ini yang berhubungan dengan kultur Tionghoa, dengan budaya lokal sehingga terjadi perpaduan yang seimbang.
"Saya buat dua desain yakni bangunan ruko dengan dua lantai di Jalan Nahkoda dan Yos Sudarso," ungkap Reza, Minggu (25/8/2024).
Ia menjabarkan, dalam bangunan yang digambarnya itu memasukan kebudayaan lokal dari kutai, yang mengadopsi lengkungan-lengkungan pada tipologi rumah kerajaan Kutai.
"Di bagian kolongnya itu ada ornamen pesutnya, jadi ada perpaduan," bebernya.
Lebih lanjut, ruko ini nantinya akan bersambung dengan wilayah selanjutnya, di mana pada Jalan Nahkoda akan dibangun pasar malam yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki.
Wisatawan dari Penang, Malaysia, Lie Ong Chong, mengaku sangat terkesan dengan konsep yang dibuat oleh Pemkot Samarinda ini.
Terlebih ia melihat ada sebuah desain bangunan yang mirip dengan sebuah kuil terkenal di Beijing yakni Temple of Heaven.
"Konsep ini sangat menarik karena di tengah halaman yang besar ada struktur yang sangat menginspirasi, mewakili filosofi dari Temple of Heaven," ungkap Lie dalam bahasa inggris yang sudah terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia saat ditemui di tempat expo.
Ia menuturkan, perpaduan budaya Tionghoa dengan elemen budaya lokal seperti Kutai dan Dayak menjadikan konsep tersebut terlihat menarik dan istimewa.
"Saya yakin banyak orang yang ingin berkunjung karena tempat ini kaya akan sejarah dan budaya. Saya tidak sabar melihat hasil akhirnya nanti," ungkapnya.
Beberapa waktu lalu, Wali Kota Samarinda, Andi Harun (AH) menyatakan bahwa Kampung Pecinan, yang ada di Kelurahan Pelabuhan, Samarinda merupakan salah satu kampung tertua yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan.
Menurutnya, menghidupkan kembali kawasan ini tidak hanya akan menambah daya tarik wisata, tetapi juga akan menciptakan landmark baru bagi kota Samarinda.
"Kita harus punya diferensiasi, untuk itu kita tidak boleh tanpa dasar. Harus punya akar sejarah, salah satunya kampung Pecinan," kata Andi Harun saat diwawancara di Five Premier Hotel, Selasa (20/8/2024) lalu.
AH menyebut pameran ini bertujuan untuk menggali lebih dalam literatur dan manuskrip yang telah ada, guna dijadikan dasar dalam merancang program revitalisasi Kampung Pecinan.
Pantauan lapangan Seputar Fakta, terdapat banyak komentar dan ucapan dari masyarakat dalam expo itu di samping desain yang tertera. Komentar itu ditulis dalam berbagai macam bahasa, seperti Inggris, China, dan Thailand.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Expo pameran desain bertajuk “Revitalizing The Chinatown Samarinda” di Atrium Mall Samarinda Central Plaza (SCP), Minggu (25/8/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda bakal mendirikan kawasan dengan nuansa Tionghoa di area Pecinan Samarinda.
Untuk itu Pemkot Samarinda menggelar expo desain bertema "Revitalizing The Chinatown Samarinda" di Atrium Mal Samarinda Central Plaza (SCP) selama dua hari. Dimulai pada tanggal 24 hingga 25 Agustus 2024.
Dalam expo ini diperlihatkan desain-desain yang telah dibuat oleh para mahasiswa dari berbagai universitas. Diperlihatkan detail-detail bangunan dan kawasan yang akan tercipta di masa depan.
Salah satu penyumbang desain dari Universitas Mulawarman, Muhammad Reza, mengungkapkan kepuasan dirinya atas hasil kerjanya sendiri.
Pada detail desain yang dibuat, ia memadukan budaya luar, dalam hal ini yang berhubungan dengan kultur Tionghoa, dengan budaya lokal sehingga terjadi perpaduan yang seimbang.
"Saya buat dua desain yakni bangunan ruko dengan dua lantai di Jalan Nahkoda dan Yos Sudarso," ungkap Reza, Minggu (25/8/2024).
Ia menjabarkan, dalam bangunan yang digambarnya itu memasukan kebudayaan lokal dari kutai, yang mengadopsi lengkungan-lengkungan pada tipologi rumah kerajaan Kutai.
"Di bagian kolongnya itu ada ornamen pesutnya, jadi ada perpaduan," bebernya.
Lebih lanjut, ruko ini nantinya akan bersambung dengan wilayah selanjutnya, di mana pada Jalan Nahkoda akan dibangun pasar malam yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki.
Wisatawan dari Penang, Malaysia, Lie Ong Chong, mengaku sangat terkesan dengan konsep yang dibuat oleh Pemkot Samarinda ini.
Terlebih ia melihat ada sebuah desain bangunan yang mirip dengan sebuah kuil terkenal di Beijing yakni Temple of Heaven.
"Konsep ini sangat menarik karena di tengah halaman yang besar ada struktur yang sangat menginspirasi, mewakili filosofi dari Temple of Heaven," ungkap Lie dalam bahasa inggris yang sudah terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia saat ditemui di tempat expo.
Ia menuturkan, perpaduan budaya Tionghoa dengan elemen budaya lokal seperti Kutai dan Dayak menjadikan konsep tersebut terlihat menarik dan istimewa.
"Saya yakin banyak orang yang ingin berkunjung karena tempat ini kaya akan sejarah dan budaya. Saya tidak sabar melihat hasil akhirnya nanti," ungkapnya.
Beberapa waktu lalu, Wali Kota Samarinda, Andi Harun (AH) menyatakan bahwa Kampung Pecinan, yang ada di Kelurahan Pelabuhan, Samarinda merupakan salah satu kampung tertua yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan.
Menurutnya, menghidupkan kembali kawasan ini tidak hanya akan menambah daya tarik wisata, tetapi juga akan menciptakan landmark baru bagi kota Samarinda.
"Kita harus punya diferensiasi, untuk itu kita tidak boleh tanpa dasar. Harus punya akar sejarah, salah satunya kampung Pecinan," kata Andi Harun saat diwawancara di Five Premier Hotel, Selasa (20/8/2024) lalu.
AH menyebut pameran ini bertujuan untuk menggali lebih dalam literatur dan manuskrip yang telah ada, guna dijadikan dasar dalam merancang program revitalisasi Kampung Pecinan.
Pantauan lapangan Seputar Fakta, terdapat banyak komentar dan ucapan dari masyarakat dalam expo itu di samping desain yang tertera. Komentar itu ditulis dalam berbagai macam bahasa, seperti Inggris, China, dan Thailand.
(Sf/Rs)