Cari disini...
Seputar Kaltim
Transportasi udara yang menyebabkan inflasi. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat laju inflasi daerah pada bulan Juni 2026 menembus angka 0,70 persen secara bulanan.
Lonjakan harga ini secara mengejutkan didorong oleh melesatnya tarif angkutan udara dan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Tentu hal ini tidak selaras mengingat pemerintah pusat baru saja menggelontorkan paket stimulus diskon tiket dan pembebasan pajak transportasi untuk masyarakat jelang masa liburan.
Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, dalam pemaparan resminya menyampaikan bahwa tekanan harga pada bulan keenam tahun ini cukup terasa dan bergerak lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama di tahun lalu.
"Pada bulan Juni tahun 2026 di Kaltim mengalami inflasi bulan ke bulan sebesar 0,70 persen. Sedangkan untuk inflasi tahun ke tahun sebesar 3,2 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 2,36 persen," ungkap Mas'ud.
Sektor transportasi tampil dominan yang menarik gerbong inflasi Kaltim bulan ini. Mas'ud menyebutkan bahwa lonjakan pada sektor mobilitas ini sangat mencolok dan memberikan beban terbesar pada garis pengeluaran masyarakat.
Ia menjelaskan, berdasarkan kelompok pengeluarannya yang mengalami inflasi cukup tinggi adalah di kelompok transportasi yang meningkat sebesar 4,17 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,55 persen.
Tingginya angka pada sektor transportasi ini memperlihatkan celah dari kebijakan pemerintah pusat yang sejatinya telah meluncurkan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Untuk tiket pesawat kelas ekonomi pada rentang akhir Juni hingga awal Juli, serta diskon tiket kapal laut. Sayangnya, intervensi tersebut belum mampu melawan gelombang efek berantai dari ongkos operasional maskapai.
"Namun kebijakan tersebut belum sepenuhnya mampu menahan kenaikan harga tiket pesawat akibat kenaikan harga aftur pada April sampai Mei tahun 2026 sehingga harga tiket pesawat masih cenderung mengalami kenaikan atau tinggi," paparnya.
Pukulan terhadap biaya mobilitas warga ini diperparah dengan adanya penyesuaian harga BBM non-subsidi di awal Juni, seperti merangkaknya harga Pertamax dan Pertamax Turbo.
Mas'ud dengan tegas menyimpulkan bahwa kenaikan harga BBM menjadi salah satu pendorong utama terjadinya inflasi pada bulan Juni tahun 2026.
Komoditas bensin tercatat menyumbang andil inflasi tertinggi secara individual, yakni sebesar 0,41 persen.
Badai inflasi tidak hanya berhenti di urusan transportasi, melainkan langsung menerjang urusan dapur rumah tangga.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil tertinggi kedua akibat terganggunya rantai pasok.
Ketergantungan Kaltim pada bahan pangan dari luar daerah kembali menjadi titik lemah yang tereksploitasi oleh kondisi cuaca yang tak menentu.
Fenomena dapur yang memanas ini dijelaskan secara rinci oleh Mas'ud akibat cuaca buruk di daerah pemasok luar pulau.
"Harga bawang merah, beras, dan ikan layang atau ikan benggol meningkat akibat menurunnya produksi di daerah pemasok karena cuaca buruk serta meningkatnya biaya distribusi seiring kenaikan harga BBM," jelasnya.
Kejadian ini memberikan tekanan ganda bagi warga; pasokan langka di wilayah asal panen, ditambah ongkos angkut jalur distribusi yang menggemuk akibat naiknya harga BBM.
Meski diterpa lonjakan harga di berbagai lini, daya beli masyarakat masih sedikit tertolong oleh turunnya harga beberapa komoditas pasar tradisional.
Mas'ud mencatat komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, semangka, tomat, hingga kacang panjang masih mampu memberikan andil deflasi untuk mengerem laju inflasi Kaltim agar tidak melambung lebih liar.
Membedah peta sebaran inflasi antarwilayah di Kaltim, episentrum perputaran uang dan lonjakan harga berpusat di Kota Balikpapan dan Kota Samarinda.
Balikpapan mencatatkan inflasi bulanan tertinggi di Kaltim yang menyentuh angka 0,86 persen. Hal ini sejalan dengan status Balikpapan sebagai pintu gerbang jalur udara sekaligus tuan rumah bagi deretan ajang pariwisata masif sepanjang Mei hingga Juni.
Di sisi lain, secara inflasi tahunan, Kota Samarinda mencatatkan tingkat terpanas yang menembus angka 3,53 persen.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Transportasi udara yang menyebabkan inflasi. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat laju inflasi daerah pada bulan Juni 2026 menembus angka 0,70 persen secara bulanan.
Lonjakan harga ini secara mengejutkan didorong oleh melesatnya tarif angkutan udara dan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Tentu hal ini tidak selaras mengingat pemerintah pusat baru saja menggelontorkan paket stimulus diskon tiket dan pembebasan pajak transportasi untuk masyarakat jelang masa liburan.
Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, dalam pemaparan resminya menyampaikan bahwa tekanan harga pada bulan keenam tahun ini cukup terasa dan bergerak lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama di tahun lalu.
"Pada bulan Juni tahun 2026 di Kaltim mengalami inflasi bulan ke bulan sebesar 0,70 persen. Sedangkan untuk inflasi tahun ke tahun sebesar 3,2 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 2,36 persen," ungkap Mas'ud.
Sektor transportasi tampil dominan yang menarik gerbong inflasi Kaltim bulan ini. Mas'ud menyebutkan bahwa lonjakan pada sektor mobilitas ini sangat mencolok dan memberikan beban terbesar pada garis pengeluaran masyarakat.
Ia menjelaskan, berdasarkan kelompok pengeluarannya yang mengalami inflasi cukup tinggi adalah di kelompok transportasi yang meningkat sebesar 4,17 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,55 persen.
Tingginya angka pada sektor transportasi ini memperlihatkan celah dari kebijakan pemerintah pusat yang sejatinya telah meluncurkan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Untuk tiket pesawat kelas ekonomi pada rentang akhir Juni hingga awal Juli, serta diskon tiket kapal laut. Sayangnya, intervensi tersebut belum mampu melawan gelombang efek berantai dari ongkos operasional maskapai.
"Namun kebijakan tersebut belum sepenuhnya mampu menahan kenaikan harga tiket pesawat akibat kenaikan harga aftur pada April sampai Mei tahun 2026 sehingga harga tiket pesawat masih cenderung mengalami kenaikan atau tinggi," paparnya.
Pukulan terhadap biaya mobilitas warga ini diperparah dengan adanya penyesuaian harga BBM non-subsidi di awal Juni, seperti merangkaknya harga Pertamax dan Pertamax Turbo.
Mas'ud dengan tegas menyimpulkan bahwa kenaikan harga BBM menjadi salah satu pendorong utama terjadinya inflasi pada bulan Juni tahun 2026.
Komoditas bensin tercatat menyumbang andil inflasi tertinggi secara individual, yakni sebesar 0,41 persen.
Badai inflasi tidak hanya berhenti di urusan transportasi, melainkan langsung menerjang urusan dapur rumah tangga.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil tertinggi kedua akibat terganggunya rantai pasok.
Ketergantungan Kaltim pada bahan pangan dari luar daerah kembali menjadi titik lemah yang tereksploitasi oleh kondisi cuaca yang tak menentu.
Fenomena dapur yang memanas ini dijelaskan secara rinci oleh Mas'ud akibat cuaca buruk di daerah pemasok luar pulau.
"Harga bawang merah, beras, dan ikan layang atau ikan benggol meningkat akibat menurunnya produksi di daerah pemasok karena cuaca buruk serta meningkatnya biaya distribusi seiring kenaikan harga BBM," jelasnya.
Kejadian ini memberikan tekanan ganda bagi warga; pasokan langka di wilayah asal panen, ditambah ongkos angkut jalur distribusi yang menggemuk akibat naiknya harga BBM.
Meski diterpa lonjakan harga di berbagai lini, daya beli masyarakat masih sedikit tertolong oleh turunnya harga beberapa komoditas pasar tradisional.
Mas'ud mencatat komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, semangka, tomat, hingga kacang panjang masih mampu memberikan andil deflasi untuk mengerem laju inflasi Kaltim agar tidak melambung lebih liar.
Membedah peta sebaran inflasi antarwilayah di Kaltim, episentrum perputaran uang dan lonjakan harga berpusat di Kota Balikpapan dan Kota Samarinda.
Balikpapan mencatatkan inflasi bulanan tertinggi di Kaltim yang menyentuh angka 0,86 persen. Hal ini sejalan dengan status Balikpapan sebagai pintu gerbang jalur udara sekaligus tuan rumah bagi deretan ajang pariwisata masif sepanjang Mei hingga Juni.
Di sisi lain, secara inflasi tahunan, Kota Samarinda mencatatkan tingkat terpanas yang menembus angka 3,53 persen.
(Sf/Rs)