Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim
Kegiatan Bontang Berzakat yang digelar Baznas Bontang di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota. (Foto: Kominfo Bontang)
Bontang - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Bontang mencatat tren positif dalam penghimpunan zakat di lingkungan Pemerintah Kota Bontang. Partisipasi aparatur sipil negara (ASN) dalam menyalurkan zakat melalui sistem potong gaji kini mencapai 80 hingga 85 persen.
Ketua BAZNAS Kota Bontang, Kuba Siga, menyampaikan bahwa dukungan dari ASN menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatnya pengumpulan zakat setiap tahun. Melalui sistem pemotongan gaji sebesar 2,5 persen, zakat ASN dapat dihimpun secara terorganisir dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Partisipasi ASN saat ini sudah mencapai sekitar 80 sampai 85 persen melalui sistem potong gaji 2,5 persen,” ujarnya.
Kuba menjelaskan, dari partisipasi tersebut BAZNAS Bontang mampu menghimpun dana zakat sekitar Rp8 miliar setiap tahun. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui berbagai program sosial dan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pada momentum Ramadan 1447 Hijriah tahun ini, BAZNAS Bontang juga meningkatkan jumlah bantuan yang disalurkan kepada masyarakat.
“Penyaluran bantuan Ramadan tahun ini mencapai sekitar 7.500 paket, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sekitar 5.000 paket,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menekan angka kemiskinan di daerah.
“Zakat bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga instrumen penting untuk membantu mengurangi kemiskinan dan memperkuat solidaritas sosial di masyarakat,” ujarnya saat membuka kegiatan Bontang Berzakat 2026 di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Rabu (11/3/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa capaian indikator sosial di Kota Bontang menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Kota Bontang terus menurun.
“Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan kita terus menurun di angka 3,2 persen, bahkan kemiskinan ekstrem di Kota Bontang telah mencapai nol persen. Ini membuktikan bahwa sinergi zakat dan kebijakan pemerintah berjalan beriringan,” kata Neni.
Ke depan, Neni mendorong agar penyaluran zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Targetnya zakat tidak hanya menjadi bantuan sementara, tetapi bisa menjadi modal usaha yang mengubah status penerima manfaat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzakki),” tambahnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim

Kegiatan Bontang Berzakat yang digelar Baznas Bontang di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota. (Foto: Kominfo Bontang)
Bontang - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Bontang mencatat tren positif dalam penghimpunan zakat di lingkungan Pemerintah Kota Bontang. Partisipasi aparatur sipil negara (ASN) dalam menyalurkan zakat melalui sistem potong gaji kini mencapai 80 hingga 85 persen.
Ketua BAZNAS Kota Bontang, Kuba Siga, menyampaikan bahwa dukungan dari ASN menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatnya pengumpulan zakat setiap tahun. Melalui sistem pemotongan gaji sebesar 2,5 persen, zakat ASN dapat dihimpun secara terorganisir dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Partisipasi ASN saat ini sudah mencapai sekitar 80 sampai 85 persen melalui sistem potong gaji 2,5 persen,” ujarnya.
Kuba menjelaskan, dari partisipasi tersebut BAZNAS Bontang mampu menghimpun dana zakat sekitar Rp8 miliar setiap tahun. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui berbagai program sosial dan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pada momentum Ramadan 1447 Hijriah tahun ini, BAZNAS Bontang juga meningkatkan jumlah bantuan yang disalurkan kepada masyarakat.
“Penyaluran bantuan Ramadan tahun ini mencapai sekitar 7.500 paket, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sekitar 5.000 paket,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menekan angka kemiskinan di daerah.
“Zakat bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga instrumen penting untuk membantu mengurangi kemiskinan dan memperkuat solidaritas sosial di masyarakat,” ujarnya saat membuka kegiatan Bontang Berzakat 2026 di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Rabu (11/3/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa capaian indikator sosial di Kota Bontang menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Kota Bontang terus menurun.
“Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan kita terus menurun di angka 3,2 persen, bahkan kemiskinan ekstrem di Kota Bontang telah mencapai nol persen. Ini membuktikan bahwa sinergi zakat dan kebijakan pemerintah berjalan beriringan,” kata Neni.
Ke depan, Neni mendorong agar penyaluran zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Targetnya zakat tidak hanya menjadi bantuan sementara, tetapi bisa menjadi modal usaha yang mengubah status penerima manfaat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzakki),” tambahnya.
(Sf/Rs)