Seputar Kaltim

    BayamBayam Brasil jadi Sumber Cuan Baru Warga Muara Rapak, Balikpapan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    03 April 2026 pukul 12:03 WITA

    Keterbatasan lahan tidak membuat warga RT 49, Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara kehilangan akal untuk membantu perekonomian keluarga. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Siapa sangka, tanaman sederhana seperti Bayam Brasil kini menjadi sumber penghasilan baru bagi warga RT 49, Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara.

    Sejak mulai dibudidayakan pada 2022, tanaman ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

    Ketua Kelompok Toga RT 49, Rusminingsih mengatakan, Bayam Brasil dipilih karena mudah ditanam dan memiliki nilai jual tinggi. Selain itu, kandungan gizinya juga lebih unggul dibanding bayam biasa.

    “Bayam Brasil kaya vitamin A, C, dan K. Ini bagus untuk daya tahan tubuh, kesehatan mata, tulang, dan juga membantu mencegah anemia,” ucap Rusminingsih kepada awak media, Jumat (3/4/2026).

    Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, warga menyiasatinya dengan metode hidroponik dan urban farming. Cara ini dinilai efektif untuk memaksimalkan produksi tanpa membutuhkan lahan luas.

    Hasilnya pun cukup menjanjikan. Dalam kondisi normal, kelompok ini mampu memproduksi 100 hingga 200 pack setiap bulan. Saat permintaan meningkat, jumlahnya bisa melonjak hingga 500–700 pack.

    “Produk tersebut dijual dengan harga Rp20 ribu per pack berisi 100 gram, dan telah dipasarkan ke berbagai tempat, mulai dari outlet lokal, perkantoran, hingga bazar dan penjualan online,” terangnya.

    Tak hanya Bayam Brasil, warga juga mengembangkan tanaman lain seperti selada, sawi, dan kangkung. Bahkan, jahe dan kunyit turut dibudidayakan untuk diolah menjadi minuman herbal.

    Kegiatan ini tidak sekadar bercocok tanam. Budidaya tersebut juga melibatkan banyak warga, sehingga ikut menciptakan peluang kerja dan memperkuat ekonomi lingkungan.

    “Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri, sekarang sudah bisa membantu menambah penghasilan warga,” tambah ketua kelompok toga.

    Dengan perkembangan yang terus meningkat, budidaya Bayam Brasil di Muara Rapak menjadi contoh nyata bagaimana pertanian urban dapat menjadi solusi ekonomi sekaligus gaya hidup sehat di perkotaan.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    BayamBayam Brasil jadi Sumber Cuan Baru Warga Muara Rapak, Balikpapan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    03 April 2026 pukul 12:03 WITA

    Keterbatasan lahan tidak membuat warga RT 49, Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara kehilangan akal untuk membantu perekonomian keluarga. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Siapa sangka, tanaman sederhana seperti Bayam Brasil kini menjadi sumber penghasilan baru bagi warga RT 49, Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara.

    Sejak mulai dibudidayakan pada 2022, tanaman ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

    Ketua Kelompok Toga RT 49, Rusminingsih mengatakan, Bayam Brasil dipilih karena mudah ditanam dan memiliki nilai jual tinggi. Selain itu, kandungan gizinya juga lebih unggul dibanding bayam biasa.

    “Bayam Brasil kaya vitamin A, C, dan K. Ini bagus untuk daya tahan tubuh, kesehatan mata, tulang, dan juga membantu mencegah anemia,” ucap Rusminingsih kepada awak media, Jumat (3/4/2026).

    Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, warga menyiasatinya dengan metode hidroponik dan urban farming. Cara ini dinilai efektif untuk memaksimalkan produksi tanpa membutuhkan lahan luas.

    Hasilnya pun cukup menjanjikan. Dalam kondisi normal, kelompok ini mampu memproduksi 100 hingga 200 pack setiap bulan. Saat permintaan meningkat, jumlahnya bisa melonjak hingga 500–700 pack.

    “Produk tersebut dijual dengan harga Rp20 ribu per pack berisi 100 gram, dan telah dipasarkan ke berbagai tempat, mulai dari outlet lokal, perkantoran, hingga bazar dan penjualan online,” terangnya.

    Tak hanya Bayam Brasil, warga juga mengembangkan tanaman lain seperti selada, sawi, dan kangkung. Bahkan, jahe dan kunyit turut dibudidayakan untuk diolah menjadi minuman herbal.

    Kegiatan ini tidak sekadar bercocok tanam. Budidaya tersebut juga melibatkan banyak warga, sehingga ikut menciptakan peluang kerja dan memperkuat ekonomi lingkungan.

    “Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri, sekarang sudah bisa membantu menambah penghasilan warga,” tambah ketua kelompok toga.

    Dengan perkembangan yang terus meningkat, budidaya Bayam Brasil di Muara Rapak menjadi contoh nyata bagaimana pertanian urban dapat menjadi solusi ekonomi sekaligus gaya hidup sehat di perkotaan.

    (Sf/Rs)