Seputar Kaltim

    Batik hingga Amplang Swarga Bara Tembus Pasar Luar Kutim, Pemasaran Masih Jadi Kendala

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    16 September 2026 pukul 13:35 WITA

    Sekretaris Desa Swarga Bara, Kutim, Rulliyanti. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Sejumlah produk UMKM dari Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim) sudah dipasarkan ke luar daerah. Di antaranya produk batik yang menembus pasar luar Kutim serta amplang yang telah dipasarkan hingga Samarinda dan Balikpapan.

    Sekretaris Desa Swarga Bara, Rulliyanti, menyebut sekitar 30 UMKM di Desa tersebut telah terdaftar dan mendapat pendampingan. Usahanya bergerak di berbagai bidang, mulai dari kuliner, batik, kerajinan hingga daur ulang.

    “Kurang lebih mungkin ada sekitar 30-an UMKM yang betul-betul terdaftar dan terdampingi dari teman-teman CSR perusahaan,” ujar Rulliyanti.

    Salah satu produk unggulan di Swarga Bara adalah batik. Beberapa workshop batik berada di desa tersebut, di antaranya Batik Panorama, Batik Juwita Wakaroros dan Batik Bumi Etam milik Bu Wises. Produknya juga telah dipasarkan ke luar Kutim.

    “Karena kami punya beberapa workshop, jadi kami dinobatkan oleh Ibu Camat sebagai Desa Membatik. Jadi salah satunya yang sekarang sudah mendobrak di luar daripada Kutim,” katanya.

    Selain batik, produk kuliner berupa amplang juga telah memiliki pasar di luar daerah. Rulliyanti menyebut Amplang Batubara dan Amplang Raos sudah berizin, dengan pemasaran hingga Samarinda dan Balikpapan.

    “Amplang Batu Bara, Amplang Raos yang sudah berizin, pasarnya sudah sampai dengan di luar kota kayak Samarinda, sudah sampai ke Balikpapan juga,” tambahnya.

    Meski sudah dipasarkan ke luar daerah, pemasaran masih menjadi kendala bagi pelaku UMKM, terutama produk batik yang memiliki pasar lebih khusus.

    “Kalau pemasaran memang sedikit ya, ada sedikit kendala, maksudnya dalam artian kalau kayak membatik itu kan pasarnya pasar khusus. Ketika ada pasar baru bisa diperkenalkan dan lain sebagainya,” jelasnya.

    Rulliyanti berharap dukungan terhadap UMKM tidak hanya berupa pendampingan, tetapi juga bantuan untuk branding dan pemasaran.

    “Kami berharapnya mungkin nanti akan ada selain pendampingan dari teman-teman CSR dan juga perhatian daripada pemerintah Kabupaten, mungkin bisa nanti terkait bantu branding dan lain sebagainya ataupun terkait pemasarannya,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Batik hingga Amplang Swarga Bara Tembus Pasar Luar Kutim, Pemasaran Masih Jadi Kendala

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    16 September 2026 pukul 13:35 WITA

    Sekretaris Desa Swarga Bara, Kutim, Rulliyanti. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Sejumlah produk UMKM dari Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim) sudah dipasarkan ke luar daerah. Di antaranya produk batik yang menembus pasar luar Kutim serta amplang yang telah dipasarkan hingga Samarinda dan Balikpapan.

    Sekretaris Desa Swarga Bara, Rulliyanti, menyebut sekitar 30 UMKM di Desa tersebut telah terdaftar dan mendapat pendampingan. Usahanya bergerak di berbagai bidang, mulai dari kuliner, batik, kerajinan hingga daur ulang.

    “Kurang lebih mungkin ada sekitar 30-an UMKM yang betul-betul terdaftar dan terdampingi dari teman-teman CSR perusahaan,” ujar Rulliyanti.

    Salah satu produk unggulan di Swarga Bara adalah batik. Beberapa workshop batik berada di desa tersebut, di antaranya Batik Panorama, Batik Juwita Wakaroros dan Batik Bumi Etam milik Bu Wises. Produknya juga telah dipasarkan ke luar Kutim.

    “Karena kami punya beberapa workshop, jadi kami dinobatkan oleh Ibu Camat sebagai Desa Membatik. Jadi salah satunya yang sekarang sudah mendobrak di luar daripada Kutim,” katanya.

    Selain batik, produk kuliner berupa amplang juga telah memiliki pasar di luar daerah. Rulliyanti menyebut Amplang Batubara dan Amplang Raos sudah berizin, dengan pemasaran hingga Samarinda dan Balikpapan.

    “Amplang Batu Bara, Amplang Raos yang sudah berizin, pasarnya sudah sampai dengan di luar kota kayak Samarinda, sudah sampai ke Balikpapan juga,” tambahnya.

    Meski sudah dipasarkan ke luar daerah, pemasaran masih menjadi kendala bagi pelaku UMKM, terutama produk batik yang memiliki pasar lebih khusus.

    “Kalau pemasaran memang sedikit ya, ada sedikit kendala, maksudnya dalam artian kalau kayak membatik itu kan pasarnya pasar khusus. Ketika ada pasar baru bisa diperkenalkan dan lain sebagainya,” jelasnya.

    Rulliyanti berharap dukungan terhadap UMKM tidak hanya berupa pendampingan, tetapi juga bantuan untuk branding dan pemasaran.

    “Kami berharapnya mungkin nanti akan ada selain pendampingan dari teman-teman CSR dan juga perhatian daripada pemerintah Kabupaten, mungkin bisa nanti terkait bantu branding dan lain sebagainya ataupun terkait pemasarannya,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)