Baru Masuki Pekan Kedua Januari 2026, Wilayah Tabang Sudah Dilanda Banjir 2 Kali

    Seputarfakta.com - Agus Saputra  -

    Seputar Kaltim

    13 Januari 2026 02:05 WIB

    Ketinggian air banjir saat merendam kawasan Tabang (Dok: istimewa)

    Tenggarong - Warga Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar) dihantui rasa gelisah dan khawatir terhadap ancaman bencana alam, terutama banjir yang belakangan ini merendam sebagian besar kawasan tersebut.

    Memasuki pekan ke-2 Januari 2026, tercatat belasan desa di Kecamatan Tabang telah dilanda banjir sebanyak dua kali dengan ketinggian air mencapai 150 cm atau setinggi dada orang dewasa.

    Banjir ini dipicu curah hujan yang tinggi mengguyur kawasan tersebut, sehingga membuat debit air Sungai Belayan meluap hingga ke pemukiman warga.

    “Sudah dua kali (dilanda banjir. Pertama saat Kamis, kemudian yang kedua pada Minggu karena sempat diguyur hujan sejak malam hingga menjelang subuh. Tercatat 18 desa terendam banjir, cuma Desa Bila Talang yang tidak terdampak,” ujar Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat, Selasa (13/1/2026).

    Ia mengungkapkan bahwa insiden banjir di wilayah Tabang sudah menjadi kejadian rutin yang kerap terjadi setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

    Kondisi ini tentu dapat menghambat aktivitas dan perekonomian masyarakat, terutama sektor pertanian karena sebagian besar lahan persawahan di Tabang ikut terendam banjir.

    Bahkan aktivitas belajar-mengajar di sejumlah sekolah turut terganggu akibat banjir.

    “Banjir rutinan ini yang paling parah pernah setinggi 170 cm pada tahun lalu, biasanya teras kantor camat tidak pernah tersentuh air banjir, namun kala itu tersentuh saking tingginya air banjir,” jelas Rakhmadani.

    Meski kondisi banjir di Tabang sudah surut, tapi wilayah tersebut membutuhkan penanganan serius dari pemerintah daerah agar insiden serupa tidak terjadi di masa mendatang.

    Sementara Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kukar, Edy Haryadi mengatakan pihaknya bersama salah satu perusahaan di kawasan tersebut sempat membahas rencana normalisasi Sungai Belayan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan banjir, tapi hingga kini  rencana tersebut tidak kunjung terealisasi.

    Ia menjelaskan BPBD Kukar tidak memiliki kewenangan sebagai pelaksana dalam kegiatan normalisasi sungai.

    Menurutnya, kewenangan itu berada di Balai Sungai Wilayah (BWS) Kalimantan Timur (Kaltim) yang secara khusus menangani pengelolaan dan normalisasi sungai.

    “Semoga apa yang sempat kita bahas bersama itu dapat segera ditindaklanjuti agar permasalahan banjir di wilayah Tabang ini bisa teratasi,” tandasnya.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Baru Masuki Pekan Kedua Januari 2026, Wilayah Tabang Sudah Dilanda Banjir 2 Kali

    Seputarfakta.com - Agus Saputra  -

    Seputar Kaltim

    13 Januari 2026 02:05 WIB

    Ketinggian air banjir saat merendam kawasan Tabang (Dok: istimewa)

    Tenggarong - Warga Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar) dihantui rasa gelisah dan khawatir terhadap ancaman bencana alam, terutama banjir yang belakangan ini merendam sebagian besar kawasan tersebut.

    Memasuki pekan ke-2 Januari 2026, tercatat belasan desa di Kecamatan Tabang telah dilanda banjir sebanyak dua kali dengan ketinggian air mencapai 150 cm atau setinggi dada orang dewasa.

    Banjir ini dipicu curah hujan yang tinggi mengguyur kawasan tersebut, sehingga membuat debit air Sungai Belayan meluap hingga ke pemukiman warga.

    “Sudah dua kali (dilanda banjir. Pertama saat Kamis, kemudian yang kedua pada Minggu karena sempat diguyur hujan sejak malam hingga menjelang subuh. Tercatat 18 desa terendam banjir, cuma Desa Bila Talang yang tidak terdampak,” ujar Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat, Selasa (13/1/2026).

    Ia mengungkapkan bahwa insiden banjir di wilayah Tabang sudah menjadi kejadian rutin yang kerap terjadi setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

    Kondisi ini tentu dapat menghambat aktivitas dan perekonomian masyarakat, terutama sektor pertanian karena sebagian besar lahan persawahan di Tabang ikut terendam banjir.

    Bahkan aktivitas belajar-mengajar di sejumlah sekolah turut terganggu akibat banjir.

    “Banjir rutinan ini yang paling parah pernah setinggi 170 cm pada tahun lalu, biasanya teras kantor camat tidak pernah tersentuh air banjir, namun kala itu tersentuh saking tingginya air banjir,” jelas Rakhmadani.

    Meski kondisi banjir di Tabang sudah surut, tapi wilayah tersebut membutuhkan penanganan serius dari pemerintah daerah agar insiden serupa tidak terjadi di masa mendatang.

    Sementara Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kukar, Edy Haryadi mengatakan pihaknya bersama salah satu perusahaan di kawasan tersebut sempat membahas rencana normalisasi Sungai Belayan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan banjir, tapi hingga kini  rencana tersebut tidak kunjung terealisasi.

    Ia menjelaskan BPBD Kukar tidak memiliki kewenangan sebagai pelaksana dalam kegiatan normalisasi sungai.

    Menurutnya, kewenangan itu berada di Balai Sungai Wilayah (BWS) Kalimantan Timur (Kaltim) yang secara khusus menangani pengelolaan dan normalisasi sungai.

    “Semoga apa yang sempat kita bahas bersama itu dapat segera ditindaklanjuti agar permasalahan banjir di wilayah Tabang ini bisa teratasi,” tandasnya.

    (Sf/Rs)