Cari disini...
Seputar Kaltim
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) baru memiliki empat warisan budaya tak benda yang telah mendapat penetapan resmi. Keempatnya adalah Hudoq pada 2013, Lom Plai pada 2015, Bekenjong pada 2021, serta Belian Kutai Semega pada 2026.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman mengatakan, jumlah tersebut bukan alasan untuk pesimistis. Menurutnya, memahami dan menggali kekayaan budaya membutuhkan proses.
“Kita bukan pesimis, karena memang memahami, menggali budaya itu memang tidak mudah,” ujar Ardiansyah saat penutupan Erau Adat Pelas Benua 2026.
Selain adat dan budaya, Ardiansyah mengingatkan pentingnya menjaga kawasan yang memiliki nilai sejarah, salah satunya Taman Nasional Kutai.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut mengalami perubahan status dari cagar alam, suaka margasatwa, hingga menjadi taman nasional. Perjalanan itu menjadi bagian dari sejarah daerah yang tidak boleh dilupakan.
“Ini juga warisan yang tidak bisa kita dan tidak boleh kita lupakan. Karena daerah ini sejarahnya begitu cukup kuat,” katanya.
Ardiansyah menegaskan pentingnya menjaga adat dan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Menurutnya, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari keduanya.
“Sebab tidak mungkin manusia hidup tanpa budaya. Tidak mungkin manusia hidup tanpa adat,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) baru memiliki empat warisan budaya tak benda yang telah mendapat penetapan resmi. Keempatnya adalah Hudoq pada 2013, Lom Plai pada 2015, Bekenjong pada 2021, serta Belian Kutai Semega pada 2026.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman mengatakan, jumlah tersebut bukan alasan untuk pesimistis. Menurutnya, memahami dan menggali kekayaan budaya membutuhkan proses.
“Kita bukan pesimis, karena memang memahami, menggali budaya itu memang tidak mudah,” ujar Ardiansyah saat penutupan Erau Adat Pelas Benua 2026.
Selain adat dan budaya, Ardiansyah mengingatkan pentingnya menjaga kawasan yang memiliki nilai sejarah, salah satunya Taman Nasional Kutai.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut mengalami perubahan status dari cagar alam, suaka margasatwa, hingga menjadi taman nasional. Perjalanan itu menjadi bagian dari sejarah daerah yang tidak boleh dilupakan.
“Ini juga warisan yang tidak bisa kita dan tidak boleh kita lupakan. Karena daerah ini sejarahnya begitu cukup kuat,” katanya.
Ardiansyah menegaskan pentingnya menjaga adat dan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Menurutnya, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari keduanya.
“Sebab tidak mungkin manusia hidup tanpa budaya. Tidak mungkin manusia hidup tanpa adat,” pungkasnya.
(Sf/Lo)