Cari disini...
Seputar Kaltim
Puluhan anak korban kebakaran di Melayu saat mendapat pendampingan pemulihan trauma yang dilaksanakan DP3A Kukar (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Kartanegara (Kukar) memberikan pendampingan kepada anak-anak korban kebakaran di RT 033, kawasan Jalan Danau Aji, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kamis (8/10/2026).
Pendampingan tersebut dilakukan sebagai respons DP3A Kukar terhadap dampak psikologis yang mungkin dialami anak-anak setelah peristiwa kebakaran yang terjadi pada 5 Oktober 2026 lalu.
Kepala DP3A Kukar, Syafliansyah mengaku telah meminta jajarannya untuk menyisir lokasi pascakebakaran guna memastikan kondisi anak-anak yang terdampak dan membutuhkan pendampingan.
"Memang pada saat selesai kebakaran, saya minta teman-teman untuk menyisir karena biasanya ada anak-anak yang perlu kita dampingi," ujar Syafliansyah.
Dalam kegiatan pendampingan tersebut, sekitar 50 anak diajak bermain dan menggambar dengan perlengkapan yang telah disiapkan DP3A Kukar.
“Ada sekitar 50 anak yang mengikuti kegiatan ini. Bahkan, ada yang sempat keluar juga tadi, ada yang pulang. Justru tadi malah nggak muat tempatnya,” tuturnya.
Syafliansyah menyampaikan kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk membantu anak-anak mengurangi trauma sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk kembali beraktivitas dan bermain.
Ia menilai trauma pada anak perlu mendapat perhatian sejak dini karena apabila tidak ditangani dengan baik, maka dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang.
"Makanya hari ini saya saksikan ada kegiatan seperti ini untuk membantu menghilangkan trauma anak-anak. Dengan bermain dan menggambar, kita harapkan traumanya bisa berkurang," jelasnya.
Selain memberikan pendampingan kepada anak, DP3A Kukar juga mengedukasi para orang tua agar lebih memperhatikan perubahan perilaku anak setelah mengalami peristiwa kebakaran.
Orang tua diminta mencermati apabila terjadi perubahan sikap, seperti anak yang sebelumnya ceria kemudian menjadi lebih banyak diam atau menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya.
“Kalau kita lihat hari ini, sepertinya anak-anak terlihat senang semua,” ungkapnya.
Ia menambahkan pihaknya masih akan mengevaluasi kondisi anak-anak setelah kegiatan tersebut.
DP3A Kukar juga membuka kemungkinan untuk kembali menggelar pendampingan serupa, menyusul adanya permintaan dari para orang tua.
"Sementara kita hari ini dulu melaksanakan kegiatan ini, nanti kita lihat kondisinya. Karena tadi ada permintaan juga dari ibu-ibunya, mereka ingin didampingi dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Nanti kita jadwalkan lagi kegiatan seperti ini, sambil kita evaluasi prosesnya," terangnya.
Syafliansyah berharap kegiatan tersebut dapat membantu anak-anak korban kebakaran kembali ceria dan tidak mengalami trauma berkepanjangan akibat peristiwa yang mereka alami.
"Kita siapkan alat tulis untuk mereka menggambar karena ini bagian dari mereka melepaskan ingatan-ingatan yang kemarin,” harapnya.
“Melalui kegiatan ini, mudah-mudahan anak-anak hilang traumanya. Sehingga kita ingin anak-anak kita ceria kembali, ketawa kembali dan bisa melupakan peristiwa yang kemarin," tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Puluhan anak korban kebakaran di Melayu saat mendapat pendampingan pemulihan trauma yang dilaksanakan DP3A Kukar (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Kartanegara (Kukar) memberikan pendampingan kepada anak-anak korban kebakaran di RT 033, kawasan Jalan Danau Aji, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kamis (8/10/2026).
Pendampingan tersebut dilakukan sebagai respons DP3A Kukar terhadap dampak psikologis yang mungkin dialami anak-anak setelah peristiwa kebakaran yang terjadi pada 5 Oktober 2026 lalu.
Kepala DP3A Kukar, Syafliansyah mengaku telah meminta jajarannya untuk menyisir lokasi pascakebakaran guna memastikan kondisi anak-anak yang terdampak dan membutuhkan pendampingan.
"Memang pada saat selesai kebakaran, saya minta teman-teman untuk menyisir karena biasanya ada anak-anak yang perlu kita dampingi," ujar Syafliansyah.
Dalam kegiatan pendampingan tersebut, sekitar 50 anak diajak bermain dan menggambar dengan perlengkapan yang telah disiapkan DP3A Kukar.
“Ada sekitar 50 anak yang mengikuti kegiatan ini. Bahkan, ada yang sempat keluar juga tadi, ada yang pulang. Justru tadi malah nggak muat tempatnya,” tuturnya.
Syafliansyah menyampaikan kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk membantu anak-anak mengurangi trauma sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk kembali beraktivitas dan bermain.
Ia menilai trauma pada anak perlu mendapat perhatian sejak dini karena apabila tidak ditangani dengan baik, maka dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang.
"Makanya hari ini saya saksikan ada kegiatan seperti ini untuk membantu menghilangkan trauma anak-anak. Dengan bermain dan menggambar, kita harapkan traumanya bisa berkurang," jelasnya.
Selain memberikan pendampingan kepada anak, DP3A Kukar juga mengedukasi para orang tua agar lebih memperhatikan perubahan perilaku anak setelah mengalami peristiwa kebakaran.
Orang tua diminta mencermati apabila terjadi perubahan sikap, seperti anak yang sebelumnya ceria kemudian menjadi lebih banyak diam atau menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya.
“Kalau kita lihat hari ini, sepertinya anak-anak terlihat senang semua,” ungkapnya.
Ia menambahkan pihaknya masih akan mengevaluasi kondisi anak-anak setelah kegiatan tersebut.
DP3A Kukar juga membuka kemungkinan untuk kembali menggelar pendampingan serupa, menyusul adanya permintaan dari para orang tua.
"Sementara kita hari ini dulu melaksanakan kegiatan ini, nanti kita lihat kondisinya. Karena tadi ada permintaan juga dari ibu-ibunya, mereka ingin didampingi dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Nanti kita jadwalkan lagi kegiatan seperti ini, sambil kita evaluasi prosesnya," terangnya.
Syafliansyah berharap kegiatan tersebut dapat membantu anak-anak korban kebakaran kembali ceria dan tidak mengalami trauma berkepanjangan akibat peristiwa yang mereka alami.
"Kita siapkan alat tulis untuk mereka menggambar karena ini bagian dari mereka melepaskan ingatan-ingatan yang kemarin,” harapnya.
“Melalui kegiatan ini, mudah-mudahan anak-anak hilang traumanya. Sehingga kita ingin anak-anak kita ceria kembali, ketawa kembali dan bisa melupakan peristiwa yang kemarin," tandasnya.
(Sf/Lo)