Seputar Kaltim

    Banjir Rendam 18 Hektare Sawah di Rantau Pulung, Air Belum Surut 5 Hari

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    26 Mei 2026 pukul 10:37 WITA

    Banjir merendam area persawahan di SP2 Desa Margomulyo, Rantau Pulung. (Dok: Camat Rantau Pulung)

    Sangatta - Sedikitnya 18 hektare sawah di SP2 Desa Margomulyo, Kecamatan Rantau Pulung, Kutai Timur, terendam banjir sejak Jumat lalu. Lambatnya surut air dipicu sedimentasi sungai dan kerusakan gorong-gorong jembatan.

    Camat Rantau Pulung, Vita Nurhasanah, mengatakan banjir merendam lahan persawahan yang baru ditanami warga. Wilayah tersebut menjadi perhatian karena merupakan salah satu area ketahanan pangan di Rantau Pulung.

    “Untuk saat ini yang paling urgen itu di titik lokasi persawahan, karena menjadi salah satu lokasi ketahanan pangan yang ada di Rantau Pulung, tepatnya di Desa Margomulyo SP2,” ujar Vita saat dikonfirmasi wartawan, Senin (25/5/2026).

    Menurutnya, banjir di kawasan tersebut sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Namun biasanya air surut dalam waktu sekitar dua hari, sedangkan kali ini genangan masih bertahan 4 hingga 5 hari.

    “Kalau tahun-tahun sebelumnya biasanya dua hari sudah mengalami penurunan debit air dan mulai kering. Tetapi sekarang penurunannya cenderung lambat,” katanya.

    Setelah meninjau langsung lokasi bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan kepala desa setempat, pihak kecamatan menemukan beberapa faktor penyebab lambatnya air surut.

    Ia menjelaskan, sedimentasi di sungai yang menjadi saluran pembuangan air dari persawahan menjadi salah satu penyebab utama air lambat surut. Selain itu, gorong-gorong di jembatan penghubung SP2 dan SP3 juga mengalami penurunan dan longsor sehingga aliran air tidak lancar.

    “Air yang menggenangi sawah itu lambat surut karena adanya sedimentasi sungai. Selain itu, kondisi gorong-gorong di jembatan juga mengalami penurunan dan longsor,” jelasnya.

    Masyarakat berharap adanya normalisasi sungai agar aliran air lebih lancar sehingga genangan di area persawahan lebih cepat surut.

    Selain itu, masyarakat juga meminta perbaikan infrastruktur jembatan yang berada di antara Desa Margomulyo dan Desa Muktijaya. Saat ini, jembatan tersebut masih menggunakan gorong-gorong bundar dengan kapasitas pembuangan air yang dinilai kecil sehingga membutuhkan penanganan serius dari dinas terkait agar banjir tidak terus berulang.

    “Harapannya gorong-gorong itu bisa ditingkatkan menjadi jembatan dengan dimensi yang lebih besar sehingga aliran air lebih lancar,” tambahnya.

    Meski banjir merendam area persawahan, Vita memastikan rumah warga tidak terdampak parah. Air hanya sempat melintas di kawasan permukiman saat hujan deras dan biasanya surut dalam waktu satu hingga dua jam.

    “Kalau rumah warga tidak terlalu terdampak. Biasanya hanya dilewati air saat hujan deras dan satu sampai dua jam sudah surut kembali,” ucapnya.

    Terkait kerugian petani, Vita menyebut kerusakan masih sebatas bibit padi dan tenaga kerja karena sawah baru memasuki tahap awal penanaman dan belum memasuki masa panen.

    “Karena ini baru tahap penanaman, kerugiannya lebih ke bibit padi dan tenaga yang sudah dikeluarkan petani,” pungkasnya.

    (Sf/RS)

    Seputar Kaltim

    Banjir Rendam 18 Hektare Sawah di Rantau Pulung, Air Belum Surut 5 Hari

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    26 Mei 2026 pukul 10:37 WITA

    Banjir merendam area persawahan di SP2 Desa Margomulyo, Rantau Pulung. (Dok: Camat Rantau Pulung)

    Sangatta - Sedikitnya 18 hektare sawah di SP2 Desa Margomulyo, Kecamatan Rantau Pulung, Kutai Timur, terendam banjir sejak Jumat lalu. Lambatnya surut air dipicu sedimentasi sungai dan kerusakan gorong-gorong jembatan.

    Camat Rantau Pulung, Vita Nurhasanah, mengatakan banjir merendam lahan persawahan yang baru ditanami warga. Wilayah tersebut menjadi perhatian karena merupakan salah satu area ketahanan pangan di Rantau Pulung.

    “Untuk saat ini yang paling urgen itu di titik lokasi persawahan, karena menjadi salah satu lokasi ketahanan pangan yang ada di Rantau Pulung, tepatnya di Desa Margomulyo SP2,” ujar Vita saat dikonfirmasi wartawan, Senin (25/5/2026).

    Menurutnya, banjir di kawasan tersebut sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Namun biasanya air surut dalam waktu sekitar dua hari, sedangkan kali ini genangan masih bertahan 4 hingga 5 hari.

    “Kalau tahun-tahun sebelumnya biasanya dua hari sudah mengalami penurunan debit air dan mulai kering. Tetapi sekarang penurunannya cenderung lambat,” katanya.

    Setelah meninjau langsung lokasi bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan kepala desa setempat, pihak kecamatan menemukan beberapa faktor penyebab lambatnya air surut.

    Ia menjelaskan, sedimentasi di sungai yang menjadi saluran pembuangan air dari persawahan menjadi salah satu penyebab utama air lambat surut. Selain itu, gorong-gorong di jembatan penghubung SP2 dan SP3 juga mengalami penurunan dan longsor sehingga aliran air tidak lancar.

    “Air yang menggenangi sawah itu lambat surut karena adanya sedimentasi sungai. Selain itu, kondisi gorong-gorong di jembatan juga mengalami penurunan dan longsor,” jelasnya.

    Masyarakat berharap adanya normalisasi sungai agar aliran air lebih lancar sehingga genangan di area persawahan lebih cepat surut.

    Selain itu, masyarakat juga meminta perbaikan infrastruktur jembatan yang berada di antara Desa Margomulyo dan Desa Muktijaya. Saat ini, jembatan tersebut masih menggunakan gorong-gorong bundar dengan kapasitas pembuangan air yang dinilai kecil sehingga membutuhkan penanganan serius dari dinas terkait agar banjir tidak terus berulang.

    “Harapannya gorong-gorong itu bisa ditingkatkan menjadi jembatan dengan dimensi yang lebih besar sehingga aliran air lebih lancar,” tambahnya.

    Meski banjir merendam area persawahan, Vita memastikan rumah warga tidak terdampak parah. Air hanya sempat melintas di kawasan permukiman saat hujan deras dan biasanya surut dalam waktu satu hingga dua jam.

    “Kalau rumah warga tidak terlalu terdampak. Biasanya hanya dilewati air saat hujan deras dan satu sampai dua jam sudah surut kembali,” ucapnya.

    Terkait kerugian petani, Vita menyebut kerusakan masih sebatas bibit padi dan tenaga kerja karena sawah baru memasuki tahap awal penanaman dan belum memasuki masa panen.

    “Karena ini baru tahap penanaman, kerugiannya lebih ke bibit padi dan tenaga yang sudah dikeluarkan petani,” pungkasnya.

    (Sf/RS)