Balikpapan Siaga El Nino 2026, Warga Diminta Hemat Air dan Waspadai Karhutla

    Seputarfakta.com - Maya Sari -

    Seputar Kaltim

    14 Mei 2026 04:55 WIB

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan Balikpapan, Usman Ali. (Foto: dok/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada pertengahan hingga akhir 2026. Ancaman kekeringan, gangguan pasokan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi fokus utama perhatian.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan menilai kesiapsiagaan sejak dini penting dilakukan mengingat dampak El Nino diperkirakan dapat memicu musim kemarau lebih panjang dibanding biasanya.

    Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali mengatakan, pihaknya telah memperkuat koordinasi lintas sektor bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan kelurahan, hingga unsur masyarakat untuk menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.

    “Imbauan kepada masyarakat sudah kami lakukan, terutama terkait penghematan penggunaan air dan larangan membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar,” ucap Usman kepada media, Kamis (14/5/2026).

    Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak El Nino diperkirakan mulai dirasakan pada periode Juli hingga September 2026. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah daerah, termasuk Balikpapan.

    Salah satu dampak yang paling diwaspadai adalah terganggunya distribusi air bersih. Saat musim kemarau berlangsung panjang, kapasitas sumber air baku berpotensi menurun sehingga dapat memengaruhi suplai air kepada masyarakat.

    “Kekhawatiran kami jika terjadi kekeringan dan distribusi air tidak bisa maksimal,” ujarnya.

    Meski begitu, BPBD memastikan pasokan air di Balikpapan tidak hanya bergantung pada waduk. Pemerintah daerah juga memanfaatkan sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) berbasis air tanah milik Perumda Tirta Manuntung Balikpapan untuk membantu menjaga kebutuhan air warga tetap terpenuhi.

    Selain persoalan air bersih, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla yang kerap meningkat saat musim kemarau. Wilayah Balikpapan Barat dan Balikpapan Timur disebut menjadi kawasan yang paling rawan terjadi kebakaran lahan, terutama di kawasan Kariangau yang masih memiliki area hutan cukup luas.

    “Daerah yang sering terjadi kebakaran berada di wilayah Barat dan Timur, termasuk Kariangau yang masih memiliki kawasan hutan,” terangnya.

    BPBD turut mewaspadai kebakaran pada lahan yang mengandung batu bara karena lebih sulit ditangani. Api dapat muncul dan bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga proses pemadaman membutuhkan pendinginan dan penggalian secara intensif.

    Saat ini, BPBD Balikpapan mengandalkan enam sektor pemadam untuk menjangkau titik-titik rawan kebakaran di seluruh wilayah kota.

    Melalui langkah mitigasi sejak dini, pemerintah berharap masyarakat ikut berperan aktif dalam mencegah bencana dengan tidak melakukan pembakaran liar, menggunakan air secara bijak, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar maupun kawasan hutan.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Balikpapan Siaga El Nino 2026, Warga Diminta Hemat Air dan Waspadai Karhutla

    Seputarfakta.com - Maya Sari -

    Seputar Kaltim

    14 Mei 2026 04:55 WIB

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan Balikpapan, Usman Ali. (Foto: dok/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada pertengahan hingga akhir 2026. Ancaman kekeringan, gangguan pasokan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi fokus utama perhatian.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan menilai kesiapsiagaan sejak dini penting dilakukan mengingat dampak El Nino diperkirakan dapat memicu musim kemarau lebih panjang dibanding biasanya.

    Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali mengatakan, pihaknya telah memperkuat koordinasi lintas sektor bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan kelurahan, hingga unsur masyarakat untuk menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.

    “Imbauan kepada masyarakat sudah kami lakukan, terutama terkait penghematan penggunaan air dan larangan membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar,” ucap Usman kepada media, Kamis (14/5/2026).

    Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak El Nino diperkirakan mulai dirasakan pada periode Juli hingga September 2026. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah daerah, termasuk Balikpapan.

    Salah satu dampak yang paling diwaspadai adalah terganggunya distribusi air bersih. Saat musim kemarau berlangsung panjang, kapasitas sumber air baku berpotensi menurun sehingga dapat memengaruhi suplai air kepada masyarakat.

    “Kekhawatiran kami jika terjadi kekeringan dan distribusi air tidak bisa maksimal,” ujarnya.

    Meski begitu, BPBD memastikan pasokan air di Balikpapan tidak hanya bergantung pada waduk. Pemerintah daerah juga memanfaatkan sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) berbasis air tanah milik Perumda Tirta Manuntung Balikpapan untuk membantu menjaga kebutuhan air warga tetap terpenuhi.

    Selain persoalan air bersih, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla yang kerap meningkat saat musim kemarau. Wilayah Balikpapan Barat dan Balikpapan Timur disebut menjadi kawasan yang paling rawan terjadi kebakaran lahan, terutama di kawasan Kariangau yang masih memiliki area hutan cukup luas.

    “Daerah yang sering terjadi kebakaran berada di wilayah Barat dan Timur, termasuk Kariangau yang masih memiliki kawasan hutan,” terangnya.

    BPBD turut mewaspadai kebakaran pada lahan yang mengandung batu bara karena lebih sulit ditangani. Api dapat muncul dan bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga proses pemadaman membutuhkan pendinginan dan penggalian secara intensif.

    Saat ini, BPBD Balikpapan mengandalkan enam sektor pemadam untuk menjangkau titik-titik rawan kebakaran di seluruh wilayah kota.

    Melalui langkah mitigasi sejak dini, pemerintah berharap masyarakat ikut berperan aktif dalam mencegah bencana dengan tidak melakukan pembakaran liar, menggunakan air secara bijak, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar maupun kawasan hutan.

    (Sf/Rs)