Seputar Kaltim

    Balikpapan Raih Predikat Perunggu IKD 2026, Pemkot Dorong Pembangunan Berbasis Keahlian

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    31 Agustus 2026 pukul 11:30 WITA

    Balikpapan meraih predikat Perunggu dalam ajang Indeks Keinsinyuran Daerah (IKD) 2026. (Foto : Tangkapan layar/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan meraih predikat Perunggu dalam ajang Indeks Keinsinyuran Daerah (IKD) 2026 kategori pemerintah kota. 

    Capaian tersebut menjadi momentum bagi Pemkot Balikpapan untuk memperkuat kualitas pembangunan melalui perencanaan, penerapan standar teknis, teknologi, serta aspek keselamatan dan keberlanjutan.

    Penghargaan tersebut diserahkan dalam penganugerahan IKD 2026 yang berlangsung di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, Sabtu (29/8/2026) malam.

    Balikpapan menjadi salah satu dari 327 pemerintah daerah yang mengikuti asesmen IKD 2026. Penilaian tersebut dilakukan untuk melihat sejauh mana praktik keinsinyuran diterapkan dalam penyelenggaraan pembangunan di daerah.

    Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud mengatakan, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk apresiasi atas upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan.

    “Capaian ini menjadi apresiasi sekaligus motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan melalui perencanaan yang baik, keahlian profesional, penerapan teknologi, standar teknis, serta pembangunan yang aman dan berkelanjutan,” ucap Rahmad, Senin (31/8/2026).

    Menurut Rahmad, pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat sebuah proyek diselesaikan atau seberapa besar anggaran yang direalisasikan. Setiap pembangunan harus direncanakan dengan mempertimbangkan aspek teknis, keamanan, manfaat bagi masyarakat dan keberlanjutan.

    Hal tersebut dinilai penting seiring dengan semakin kompleksnya kebutuhan pembangunan di Balikpapan.“Pertumbuhan kawasan permukiman, pembangunan infrastruktur, penataan ruang, penyediaan utilitas dasar, hingga peningkatan fasilitas publik membutuhkan perencanaan yang matang dan didukung sumber daya manusia yang memiliki kompetensi,” jelasnya.

    Dalam proses tersebut, penerapan keinsinyuran memiliki peran penting sejak tahap perencanaan, perancangan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembangunan.

    Keputusan teknis yang tepat diharapkan dapat menekan potensi risiko, meningkatkan efisiensi pembangunan, serta memastikan infrastruktur yang dibangun dapat berfungsi secara optimal dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

    “Karena itu, peningkatan kualitas aparatur dan tenaga profesional juga menjadi bagian penting yang perlu terus diperkuat. Penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan seiring dengan penerapan standar teknis dan prinsip keselamatan,” imbuhnya.

    IKD merupakan instrumen yang dikembangkan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bersama Kementerian Dalam Negeri, untuk mengukur penerapan praktik keinsinyuran dalam penyelenggaraan pembangunan daerah.

    Pada asesmen perdana IKD 2026, sebanyak 327 pemerintah daerah mengikuti penilaian dari total 546 pemerintah daerah di Indonesia. 

    “Balikpapan menjadi salah satu pemerintah kota yang mendapatkan penghargaan dalam asesmen tersebut,” terangnya.

    Rahmad berharap capaian itu dapat menjadi penyemangat bagi seluruh jajaran Pemkot Balikpapan untuk terus melakukan perbaikan dalam proses pembangunan.

    “Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat untuk terus menghadirkan pembangunan yang nyata manfaatnya, bagi masyarakat dan membawa Balikpapan semakin maju dan nyaman,” ujarnya.

    Penghargaan IKD 2026 sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari banyaknya proyek yang dikerjakan. Kualitas pembangunan juga ditentukan oleh sejauh mana proyek tersebut mampu memberikan rasa aman, meningkatkan kenyamanan, memperbaiki pelayanan publik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Dengan capaian predikat Perunggu tersebut, Pemkot Balikpapan diharapkan tidak berhenti pada penghargaan.

    “Hasil asesmen IKD menjadi pijakan untuk memperkuat budaya pembangunan yang mengedepankan keahlian profesional, standar teknis, inovasi, keselamatan dan keberlanjutan,” ungkapnya.

    Pada akhirnya, pembangunan kota bukan sekadar menghadirkan gedung, jalan, maupun infrastruktur baru. Setiap keputusan teknis yang diambil harus bermuara pada tujuan yang lebih besar, yakni memastikan Balikpapan tumbuh menjadi kota yang aman, nyaman, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Balikpapan Raih Predikat Perunggu IKD 2026, Pemkot Dorong Pembangunan Berbasis Keahlian

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    31 Agustus 2026 pukul 11:30 WITA

    Balikpapan meraih predikat Perunggu dalam ajang Indeks Keinsinyuran Daerah (IKD) 2026. (Foto : Tangkapan layar/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan meraih predikat Perunggu dalam ajang Indeks Keinsinyuran Daerah (IKD) 2026 kategori pemerintah kota. 

    Capaian tersebut menjadi momentum bagi Pemkot Balikpapan untuk memperkuat kualitas pembangunan melalui perencanaan, penerapan standar teknis, teknologi, serta aspek keselamatan dan keberlanjutan.

    Penghargaan tersebut diserahkan dalam penganugerahan IKD 2026 yang berlangsung di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, Sabtu (29/8/2026) malam.

    Balikpapan menjadi salah satu dari 327 pemerintah daerah yang mengikuti asesmen IKD 2026. Penilaian tersebut dilakukan untuk melihat sejauh mana praktik keinsinyuran diterapkan dalam penyelenggaraan pembangunan di daerah.

    Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud mengatakan, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk apresiasi atas upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan.

    “Capaian ini menjadi apresiasi sekaligus motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan melalui perencanaan yang baik, keahlian profesional, penerapan teknologi, standar teknis, serta pembangunan yang aman dan berkelanjutan,” ucap Rahmad, Senin (31/8/2026).

    Menurut Rahmad, pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat sebuah proyek diselesaikan atau seberapa besar anggaran yang direalisasikan. Setiap pembangunan harus direncanakan dengan mempertimbangkan aspek teknis, keamanan, manfaat bagi masyarakat dan keberlanjutan.

    Hal tersebut dinilai penting seiring dengan semakin kompleksnya kebutuhan pembangunan di Balikpapan.“Pertumbuhan kawasan permukiman, pembangunan infrastruktur, penataan ruang, penyediaan utilitas dasar, hingga peningkatan fasilitas publik membutuhkan perencanaan yang matang dan didukung sumber daya manusia yang memiliki kompetensi,” jelasnya.

    Dalam proses tersebut, penerapan keinsinyuran memiliki peran penting sejak tahap perencanaan, perancangan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembangunan.

    Keputusan teknis yang tepat diharapkan dapat menekan potensi risiko, meningkatkan efisiensi pembangunan, serta memastikan infrastruktur yang dibangun dapat berfungsi secara optimal dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

    “Karena itu, peningkatan kualitas aparatur dan tenaga profesional juga menjadi bagian penting yang perlu terus diperkuat. Penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan seiring dengan penerapan standar teknis dan prinsip keselamatan,” imbuhnya.

    IKD merupakan instrumen yang dikembangkan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bersama Kementerian Dalam Negeri, untuk mengukur penerapan praktik keinsinyuran dalam penyelenggaraan pembangunan daerah.

    Pada asesmen perdana IKD 2026, sebanyak 327 pemerintah daerah mengikuti penilaian dari total 546 pemerintah daerah di Indonesia. 

    “Balikpapan menjadi salah satu pemerintah kota yang mendapatkan penghargaan dalam asesmen tersebut,” terangnya.

    Rahmad berharap capaian itu dapat menjadi penyemangat bagi seluruh jajaran Pemkot Balikpapan untuk terus melakukan perbaikan dalam proses pembangunan.

    “Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat untuk terus menghadirkan pembangunan yang nyata manfaatnya, bagi masyarakat dan membawa Balikpapan semakin maju dan nyaman,” ujarnya.

    Penghargaan IKD 2026 sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari banyaknya proyek yang dikerjakan. Kualitas pembangunan juga ditentukan oleh sejauh mana proyek tersebut mampu memberikan rasa aman, meningkatkan kenyamanan, memperbaiki pelayanan publik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Dengan capaian predikat Perunggu tersebut, Pemkot Balikpapan diharapkan tidak berhenti pada penghargaan.

    “Hasil asesmen IKD menjadi pijakan untuk memperkuat budaya pembangunan yang mengedepankan keahlian profesional, standar teknis, inovasi, keselamatan dan keberlanjutan,” ungkapnya.

    Pada akhirnya, pembangunan kota bukan sekadar menghadirkan gedung, jalan, maupun infrastruktur baru. Setiap keputusan teknis yang diambil harus bermuara pada tujuan yang lebih besar, yakni memastikan Balikpapan tumbuh menjadi kota yang aman, nyaman, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

    (Sf/Lo)