Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahyuningsih. (Foto: dok/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Warga Balikpapan ke depan berpeluang memenuhi kebutuhan sayur hingga telur, tanpa harus selalu membeli di pasar. Melalui program Pekarangan Pangan Bergizi, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk bercocok tanam sekaligus beternak ayam petelur.
Program yang disiapkan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) itu mengusung konsep urban farming atau pertanian perkotaan.
“Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, hasil panen juga diharapkan dapat menambah pendapatan masyarakat,” ucap Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahyuningsih kepada media, Sabtu (27/6/2026).
Ia mengatakan, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung pengembangan urban farming di sejumlah kawasan permukiman, sebagai bagian dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Kami sudah menyiapkan anggaran untuk mendukung pengembangan urban farming yang akan diterapkan di beberapa kawasan permukiman. Desainnya juga sudah kami siapkan,” ujar Yuyun sapaan akrabnya.
Menurutnya, konsep tersebut dirancang agar tetap bisa diterapkan meski masyarakat hanya memiliki lahan terbatas. Pekarangan rumah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan pangan bergizi secara mandiri.
Program ini tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman, tetapi juga menggabungkan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan dalam skala rumah tangga.
“Beberapa kegiatan yang akan dikembangkan di antaranya budidaya sayuran dengan sistem hidroponik, budidaya terpadu, hingga pemeliharaan ayam petelur,” lanjutnya.
Setiap keluarga peserta nantinya direncanakan memelihara sekitar 24 ekor ayam petelur. Produksi telur tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan protein keluarga, bahkan dapat dijual apabila hasilnya melebihi kebutuhan rumah tangga.
“Telurnya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga maupun lingkungan sekitar. Kalau dikelola dengan baik, kegiatan ini bahkan bisa menjadi sumber tambahan penghasilan bagi masyarakat,” jelasnya.
Selain meningkatkan ketersediaan pangan bergizi, program ini juga diharapkan mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih produktif memanfaatkan lahan pekarangan. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah dapat berkurang.
DKP3 menargetkan pengembangan urban farming dimulai di dua lokasi pada 2027. Salah satu kawasan yang telah direncanakan berada di Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah, melalui dukungan anggaran pokok-pokok pikiran (pokir) anggota legislatif.
“Melalui program tersebut, Pemkot Balikpapan berharap semakin banyak keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, meningkatkan kualitas gizi, sekaligus memperoleh nilai ekonomi dari hasil pekarangan rumah,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahyuningsih. (Foto: dok/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Warga Balikpapan ke depan berpeluang memenuhi kebutuhan sayur hingga telur, tanpa harus selalu membeli di pasar. Melalui program Pekarangan Pangan Bergizi, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk bercocok tanam sekaligus beternak ayam petelur.
Program yang disiapkan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) itu mengusung konsep urban farming atau pertanian perkotaan.
“Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, hasil panen juga diharapkan dapat menambah pendapatan masyarakat,” ucap Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahyuningsih kepada media, Sabtu (27/6/2026).
Ia mengatakan, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung pengembangan urban farming di sejumlah kawasan permukiman, sebagai bagian dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Kami sudah menyiapkan anggaran untuk mendukung pengembangan urban farming yang akan diterapkan di beberapa kawasan permukiman. Desainnya juga sudah kami siapkan,” ujar Yuyun sapaan akrabnya.
Menurutnya, konsep tersebut dirancang agar tetap bisa diterapkan meski masyarakat hanya memiliki lahan terbatas. Pekarangan rumah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan pangan bergizi secara mandiri.
Program ini tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman, tetapi juga menggabungkan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan dalam skala rumah tangga.
“Beberapa kegiatan yang akan dikembangkan di antaranya budidaya sayuran dengan sistem hidroponik, budidaya terpadu, hingga pemeliharaan ayam petelur,” lanjutnya.
Setiap keluarga peserta nantinya direncanakan memelihara sekitar 24 ekor ayam petelur. Produksi telur tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan protein keluarga, bahkan dapat dijual apabila hasilnya melebihi kebutuhan rumah tangga.
“Telurnya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga maupun lingkungan sekitar. Kalau dikelola dengan baik, kegiatan ini bahkan bisa menjadi sumber tambahan penghasilan bagi masyarakat,” jelasnya.
Selain meningkatkan ketersediaan pangan bergizi, program ini juga diharapkan mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih produktif memanfaatkan lahan pekarangan. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah dapat berkurang.
DKP3 menargetkan pengembangan urban farming dimulai di dua lokasi pada 2027. Salah satu kawasan yang telah direncanakan berada di Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah, melalui dukungan anggaran pokok-pokok pikiran (pokir) anggota legislatif.
“Melalui program tersebut, Pemkot Balikpapan berharap semakin banyak keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, meningkatkan kualitas gizi, sekaligus memperoleh nilai ekonomi dari hasil pekarangan rumah,” pungkasnya.
(Sf/Lo)