Seputar Kaltim

    Balikpapan Alami Deflasi, PPU Catat Inflasi Tertinggi di Kaltim

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Kota Balikpapan mencatat penurunan harga (deflasi) sebesar 0,01 persen pada Juli 2025. Data ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Meski terjadi deflasi bulanan, secara tahunan inflasi Balikpapan mencapai 1,85 persen lebih rendah dari angka nasional 2,37 persen dan rata-rata empat kota di Kaltim 2,08 persen.

    Penurunan harga di Balikpapan paling banyak disumbang oleh sektor transportasi, terutama tarif angkutan udara. Komoditas lain yang ikut turun harga yaitu air kemasan, kacang panjang, bayam, dan sawi hijau.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi menjelaskan, deflasi ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah berupa diskon tiket pesawat melalui skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), serta lancarnya pasokan bahan pangan.

    “Namun, beberapa komoditas justru mengalami kenaikan harga dan menyebabkan inflasi, terutama di kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” ucap Robi kepada media, Rabu (13/8/2025).

    Sementara komoditas penyumbang inflasi tertinggi yaitu tomat, cabai rawit, beras, bawang merah, dan mobil. Kenaikan ini dipicu oleh cuaca buruk yang mengganggu produksi, serta naiknya harga bahan bakar yang berdampak pada biaya distribusi.

    Berbeda dengan Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi tertinggi di Kaltim. Pada Juli 2025, inflasi PPU mencapai 0,88 persen, dan secara tahunan sebesar 3,26 persen, melebihi rata-rata nasional.

    “Inflasi di PPU sebagian besar berasal dari naiknya harga tomat, cabai rawit, semangka, daging ayam ras, dan beras. Kenaikan harga terjadi karena pasokan dari daerah produksi seperti Sulawesi dan Jawa berkurang, sementara permintaan tetap tinggi,” jelasnya.

    Meski begitu, beberapa harga barang di PPU juga turun, seperti ikan layang, sawi hijau, buncis, kangkung, dan ketimun. Penurunan harga ini terjadi karena stok barang cukup dan distribusi berjalan lancar.

    Bank Indonesia mengingatkan bahwa potensi inflasi tetap harus diwaspadai, terutama karena prakiraan cuaca ekstrem dan gelombang laut tinggi bisa mengganggu distribusi bahan pangan ke depan.

    “Meski begitu, survei konsumen menunjukkan warga Balikpapan masih optimis terhadap kondisi ekonomi. Indeks keyakinan konsumen pada Juli 2025 tercatat 134,5 masih tinggi meski sedikit turun dari bulan sebelumnya,” imbuhnya.

    Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan pemantauan harga, operasi pasar, kerja sama antar daerah, serta menggalakkan pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam kebutuhan pangan.

    “Langkah ini bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk menjaga daya beli masyarakat,” tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Balikpapan Alami Deflasi, PPU Catat Inflasi Tertinggi di Kaltim

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Kota Balikpapan mencatat penurunan harga (deflasi) sebesar 0,01 persen pada Juli 2025. Data ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Meski terjadi deflasi bulanan, secara tahunan inflasi Balikpapan mencapai 1,85 persen lebih rendah dari angka nasional 2,37 persen dan rata-rata empat kota di Kaltim 2,08 persen.

    Penurunan harga di Balikpapan paling banyak disumbang oleh sektor transportasi, terutama tarif angkutan udara. Komoditas lain yang ikut turun harga yaitu air kemasan, kacang panjang, bayam, dan sawi hijau.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi menjelaskan, deflasi ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah berupa diskon tiket pesawat melalui skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), serta lancarnya pasokan bahan pangan.

    “Namun, beberapa komoditas justru mengalami kenaikan harga dan menyebabkan inflasi, terutama di kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” ucap Robi kepada media, Rabu (13/8/2025).

    Sementara komoditas penyumbang inflasi tertinggi yaitu tomat, cabai rawit, beras, bawang merah, dan mobil. Kenaikan ini dipicu oleh cuaca buruk yang mengganggu produksi, serta naiknya harga bahan bakar yang berdampak pada biaya distribusi.

    Berbeda dengan Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi tertinggi di Kaltim. Pada Juli 2025, inflasi PPU mencapai 0,88 persen, dan secara tahunan sebesar 3,26 persen, melebihi rata-rata nasional.

    “Inflasi di PPU sebagian besar berasal dari naiknya harga tomat, cabai rawit, semangka, daging ayam ras, dan beras. Kenaikan harga terjadi karena pasokan dari daerah produksi seperti Sulawesi dan Jawa berkurang, sementara permintaan tetap tinggi,” jelasnya.

    Meski begitu, beberapa harga barang di PPU juga turun, seperti ikan layang, sawi hijau, buncis, kangkung, dan ketimun. Penurunan harga ini terjadi karena stok barang cukup dan distribusi berjalan lancar.

    Bank Indonesia mengingatkan bahwa potensi inflasi tetap harus diwaspadai, terutama karena prakiraan cuaca ekstrem dan gelombang laut tinggi bisa mengganggu distribusi bahan pangan ke depan.

    “Meski begitu, survei konsumen menunjukkan warga Balikpapan masih optimis terhadap kondisi ekonomi. Indeks keyakinan konsumen pada Juli 2025 tercatat 134,5 masih tinggi meski sedikit turun dari bulan sebelumnya,” imbuhnya.

    Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan pemantauan harga, operasi pasar, kerja sama antar daerah, serta menggalakkan pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam kebutuhan pangan.

    “Langkah ini bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk menjaga daya beli masyarakat,” tutupnya.

    (Sf/Rs)