Cari disini...
Seputar Kaltim
Postingan Aurelie Moeremans yang menjelaskan terkait child grooming. (Foto: Instagram @Aurelie Moeremans Bigenho)
Bontang - Aktris dan kreator Aurelie Moeremans mengumumkan bahwa karya ceritanya Broken Strings akan diadaptasi menjadi film layar lebar. Kabar ini disampaikan langsung melalui kanal komunitasnya yang telah memiliki ratusan ribu anggota.
Dalam pernyataannya, Aurelie mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui banyak pertimbangan matang, termasuk diskusi dan pertemuan dengan berbagai production house serta sutradara. Ia menegaskan bahwa proses pemilihan pihak yang akan menggarap film ini tidak didasarkan pada faktor popularitas, potensi viral, atau nilai penawaran tertinggi.
Sebaliknya, Aurelie memilih berdasarkan kedekatan visi dan perasaan pribadi. Ia ingin bekerja sama dengan tim yang benar-benar memahami cerita yang ia tulis serta mampu menyampaikan pesan secara jujur dan penuh empati, bukan sekadar mengikuti tren atau hype semata.
Aurelie juga mengaku merasa sangat antusias dengan perjalanan baru ini. Ia berharap adaptasi film Broken Strings dapat menjangkau lebih banyak orang dan memperluas dampak dari cerita yang ia bagikan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan agar film ini nantinya bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya child grooming. Selain itu, ia juga ingin karya ini dapat membantu para korban merasa tidak sendirian dalam menghadapi pengalaman mereka.
“Dan aku berharap, dengan adanya film ini nanti, semakin banyak orang yang sadar akan bahaya child grooming, dan mungkin bisa membantu seseorang merasa tidak sendirian,” tulis Aurelie dalam postingannya.
Sebagai informasi, Broken Strings merupakan kisah yang diangkat dari pengalaman personal dan realitas sosial yang sensitif. Cerita ini menyoroti dinamika relasi yang tidak sehat, khususnya praktik child grooming yang kerap terjadi secara tersembunyi dan manipulatif. Dalam alurnya, tokoh utama digambarkan mengalami tekanan emosional, kebingungan, hingga trauma akibat relasi yang tidak setara. Melalui narasi yang intim dan jujur, cerita ini berupaya membuka mata publik bahwa kasus seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, sekaligus mendorong keberanian korban untuk bersuara dan mencari bantuan.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Postingan Aurelie Moeremans yang menjelaskan terkait child grooming. (Foto: Instagram @Aurelie Moeremans Bigenho)
Bontang - Aktris dan kreator Aurelie Moeremans mengumumkan bahwa karya ceritanya Broken Strings akan diadaptasi menjadi film layar lebar. Kabar ini disampaikan langsung melalui kanal komunitasnya yang telah memiliki ratusan ribu anggota.
Dalam pernyataannya, Aurelie mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui banyak pertimbangan matang, termasuk diskusi dan pertemuan dengan berbagai production house serta sutradara. Ia menegaskan bahwa proses pemilihan pihak yang akan menggarap film ini tidak didasarkan pada faktor popularitas, potensi viral, atau nilai penawaran tertinggi.
Sebaliknya, Aurelie memilih berdasarkan kedekatan visi dan perasaan pribadi. Ia ingin bekerja sama dengan tim yang benar-benar memahami cerita yang ia tulis serta mampu menyampaikan pesan secara jujur dan penuh empati, bukan sekadar mengikuti tren atau hype semata.
Aurelie juga mengaku merasa sangat antusias dengan perjalanan baru ini. Ia berharap adaptasi film Broken Strings dapat menjangkau lebih banyak orang dan memperluas dampak dari cerita yang ia bagikan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan agar film ini nantinya bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya child grooming. Selain itu, ia juga ingin karya ini dapat membantu para korban merasa tidak sendirian dalam menghadapi pengalaman mereka.
“Dan aku berharap, dengan adanya film ini nanti, semakin banyak orang yang sadar akan bahaya child grooming, dan mungkin bisa membantu seseorang merasa tidak sendirian,” tulis Aurelie dalam postingannya.
Sebagai informasi, Broken Strings merupakan kisah yang diangkat dari pengalaman personal dan realitas sosial yang sensitif. Cerita ini menyoroti dinamika relasi yang tidak sehat, khususnya praktik child grooming yang kerap terjadi secara tersembunyi dan manipulatif. Dalam alurnya, tokoh utama digambarkan mengalami tekanan emosional, kebingungan, hingga trauma akibat relasi yang tidak setara. Melalui narasi yang intim dan jujur, cerita ini berupaya membuka mata publik bahwa kasus seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, sekaligus mendorong keberanian korban untuk bersuara dan mencari bantuan.
(Sf/Rs)