Seputar Kaltim

    Atuk Sembelung, Ikan Endemik Kalimantan Terancam Punah

    Penulis:Maulana|Redaktur:Ruasdianto
    07 Mei 2024 pukul 18:57 WITA

    Peniliti dari Universitas Gadjah Mada sosialisasikan hasil penelitian potensi keanekagaraman hayati biota perairan di Muara Siran dan Muara Kelay, yang dilaksanakan di hotel Mercure, Samarinda, Selasa (7/5/2024). (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) telah mengungkap penemuan signifikan. Ikan endemik Kalimantan, Atuk sembelung (Pangio alternans), ditemukan di Sungai Kelay, Kabupaten Berau,  yang mana kini berstatus terancam punah.

    Penemuan ini diumumkan oleh Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha,  dalam sosialisasi hasil penelitian yang digelar di Samarinda, Selasa (7/5/2024). "Jenis ikan Atuk sembelung, yang merupakan spesies endemik Kalimantan dan masuk dalam kategori terancam punah," ungkap Donan.

    Riset yang dilakukan sepanjang tahun 2023 ini mengeksplorasi keanekaragaman hayati biota air tawar di Muara Siran dan Sungai Kelay. Metode purposive sampling menjadi pilihan dalam pengambilan sampel, yang meliputi penangkapan pasif dengan perangkap dan penangkapan aktif menggunakan alat tangkap.

    Penelitian ini berangkat dari kesadaran bahwa ekosistem air tawar memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, mencakup sepertiga dari spesies vertebrata. Namun, secara global, terjadi penurunan populasi biota air tawar sebesar 83 persen sejak tahun 1970, lebih cepat dibanding biota darat atau laut. "Di Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, penelitian mengenai biota air tawar masih sangat terbatas," tambah Donan.

    Hasil penelitian menunjukkan Sungai Kelay, yang berada dalam kawasan PT Wana Bakti Persada Utama (PT WBPU), menjadi habitat bagi 39 spesies ikan dan 5 spesies krustasea. Selain Atuk sembelung, peneliti juga menemukan ikan Atuk bensong (Barbodes bunau) yang berstatus rentan. Temuan ini menandakan kondisi perairan di sekitar PT WBPU masih alami dan menjadi habitat yang sesuai bagi biota perairan.

    Informasi dari warga setempat menunjukkan adanya spesies ikan lain yang belum teridentifikasi selama penelitian, seperti patin (Pangasius) dan sidat (Anguilla), menandakan potensi penambahan daftar spesies ikan dan krustasea di habitat tersebut.

    Di Desa Muara Siran, tim peneliti menemukan 57 spesies ikan dan 5 spesies krustasea, dengan mayoritas merupakan spesies asli Indonesia. Namun, keberadaan spesies invasif seperti ikan nila, sapu-sapu, dan mas, serta spesies asing seperti ikan patin, sepat siam, dan hudang, menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekosistem dan kelestarian spesies asli.

    Donan menyarankan pelarangan pelepasliaran spesies asing di wilayah Muara Siran untuk melindungi danau dan rawa gambut yang masih terjaga di desa tersebut. 

    Sementara itu, Susilo Irwan Jasmono, Wakil Ketua Yayasan Wahana Gerakan Lestari Indonesia, menekankan potensi ikan hias dan wisata minat khusus di Kalimantan Timur, yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi daripada ikan konsumsi.

    Ia berharap penelitian ini menjadi langkah awal dalam mendokumentasikan kekayaan biota ekosistem air tawar di Kalimantan Timur dan menjadi rekomendasi kebijakan untuk menyelamatkan spesies endemik serta memperkuat implementasi Pembangunan Hijau Kaltim (Green Growth Compact – GGC). "Mari mengawali pelestarian keanekaragaman hayati dengan mengenali apa saja yang masih ada di Kalimantan Timur,"  pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Atuk Sembelung, Ikan Endemik Kalimantan Terancam Punah

    Penulis:Maulana|Redaktur:Ruasdianto
    07 Mei 2024 pukul 18:57 WITA

    Peniliti dari Universitas Gadjah Mada sosialisasikan hasil penelitian potensi keanekagaraman hayati biota perairan di Muara Siran dan Muara Kelay, yang dilaksanakan di hotel Mercure, Samarinda, Selasa (7/5/2024). (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) telah mengungkap penemuan signifikan. Ikan endemik Kalimantan, Atuk sembelung (Pangio alternans), ditemukan di Sungai Kelay, Kabupaten Berau,  yang mana kini berstatus terancam punah.

    Penemuan ini diumumkan oleh Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha,  dalam sosialisasi hasil penelitian yang digelar di Samarinda, Selasa (7/5/2024). "Jenis ikan Atuk sembelung, yang merupakan spesies endemik Kalimantan dan masuk dalam kategori terancam punah," ungkap Donan.

    Riset yang dilakukan sepanjang tahun 2023 ini mengeksplorasi keanekaragaman hayati biota air tawar di Muara Siran dan Sungai Kelay. Metode purposive sampling menjadi pilihan dalam pengambilan sampel, yang meliputi penangkapan pasif dengan perangkap dan penangkapan aktif menggunakan alat tangkap.

    Penelitian ini berangkat dari kesadaran bahwa ekosistem air tawar memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, mencakup sepertiga dari spesies vertebrata. Namun, secara global, terjadi penurunan populasi biota air tawar sebesar 83 persen sejak tahun 1970, lebih cepat dibanding biota darat atau laut. "Di Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, penelitian mengenai biota air tawar masih sangat terbatas," tambah Donan.

    Hasil penelitian menunjukkan Sungai Kelay, yang berada dalam kawasan PT Wana Bakti Persada Utama (PT WBPU), menjadi habitat bagi 39 spesies ikan dan 5 spesies krustasea. Selain Atuk sembelung, peneliti juga menemukan ikan Atuk bensong (Barbodes bunau) yang berstatus rentan. Temuan ini menandakan kondisi perairan di sekitar PT WBPU masih alami dan menjadi habitat yang sesuai bagi biota perairan.

    Informasi dari warga setempat menunjukkan adanya spesies ikan lain yang belum teridentifikasi selama penelitian, seperti patin (Pangasius) dan sidat (Anguilla), menandakan potensi penambahan daftar spesies ikan dan krustasea di habitat tersebut.

    Di Desa Muara Siran, tim peneliti menemukan 57 spesies ikan dan 5 spesies krustasea, dengan mayoritas merupakan spesies asli Indonesia. Namun, keberadaan spesies invasif seperti ikan nila, sapu-sapu, dan mas, serta spesies asing seperti ikan patin, sepat siam, dan hudang, menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekosistem dan kelestarian spesies asli.

    Donan menyarankan pelarangan pelepasliaran spesies asing di wilayah Muara Siran untuk melindungi danau dan rawa gambut yang masih terjaga di desa tersebut. 

    Sementara itu, Susilo Irwan Jasmono, Wakil Ketua Yayasan Wahana Gerakan Lestari Indonesia, menekankan potensi ikan hias dan wisata minat khusus di Kalimantan Timur, yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi daripada ikan konsumsi.

    Ia berharap penelitian ini menjadi langkah awal dalam mendokumentasikan kekayaan biota ekosistem air tawar di Kalimantan Timur dan menjadi rekomendasi kebijakan untuk menyelamatkan spesies endemik serta memperkuat implementasi Pembangunan Hijau Kaltim (Green Growth Compact – GGC). "Mari mengawali pelestarian keanekaragaman hayati dengan mengenali apa saja yang masih ada di Kalimantan Timur,"  pungkasnya.

    (Sf/Rs)