Seputar Kaltim

    Atasi Krisis Air Bersih, DLH Balikpapan Hadirkan Program Panen Air Hujan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan Sudirman Djayaleksana. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Sebagai upaya menghadapi kelangkaan air bersih, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan meluncurkan program Panen Air Hujan (PAH), yang kini sudah diterapkan di berbagai kelurahan.

    Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah kota untuk memanfaatkan potensi air hujan sebagai sumber alternatif, mengingat keterbatasan pasokan air baku di Balikpapan.

    Kepala DLH Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana mengatakan, program PAH sudah terintegrasi dengan Program Kampung Iklim (Porklim) yang mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

    "Program ini kami harapkan bisa menjadi solusi untuk mengatasi kesulitan akses air bersih di Balikpapan, dengan memanfaatkan air hujan sebagai cadangan," ucap Sudirman kepada media, Jumat (15/11/2024).

    Inisiatif PAH telah dimulai di Kantor DLH sebagai percontohan dengan sistem penampungan air hujan yang diharapkan bisa diperluas ke seluruh kota.

    Tahun depan, DLH bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim untuk menyediakan bantuan 100 unit tandon air bagi setiap kelurahan, dimulai dari Kelurahan Lamaru.

    “Yang menarik dari program ini adalah peran aktif masyarakat dalam pelaksanaannya. Warga diimbau untuk memiliki inisiatif sendiri dalam membangun sistem penampungan air hujan, baik dengan menanamkan tandon di tanah atau menggunakan tandon yang diletakkan di atas tanah,” jelasnya.

    Pihaknya mendorong masyarakat untuk memiliki cadangan air. Ini bukan program pemerintah yang sepenuhnya disiapkan, tetapi lebih kepada dorongan agar masyarakat bisa memanfaatkan potensi air hujan di sekitar mereka.

    Meski sudah ada sejumlah warga yang mulai mengimplementasikan sistem ini dengan memasang tandon air, program PAH diharapkan dapat diperluas di beberapa wilayah yang masih mengalami kekurangan air dan memiliki keterbatasan ekonomi.

    “DLH juga akan mengupayakan bantuan tandon melalui kerjasama dengan pihak lain, seperti pemerintah provinsi dan perusahaan melalui program CSR,” akunya.

    Lanjutnya, program PAH juga menjadi bagian dari penilaian dalam Program Kampung Iklim, di mana salah satu kriterianya adalah sejauh mana masyarakat memanfaatkan air hujan.

    “Melalui program ini, kami ingin mengubah pola pikir masyarakat agar air hujan yang selama ini terbuang percuma bisa dimanfaatkan secara maksimal," tutupnya. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Atasi Krisis Air Bersih, DLH Balikpapan Hadirkan Program Panen Air Hujan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan Sudirman Djayaleksana. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Sebagai upaya menghadapi kelangkaan air bersih, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan meluncurkan program Panen Air Hujan (PAH), yang kini sudah diterapkan di berbagai kelurahan.

    Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah kota untuk memanfaatkan potensi air hujan sebagai sumber alternatif, mengingat keterbatasan pasokan air baku di Balikpapan.

    Kepala DLH Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana mengatakan, program PAH sudah terintegrasi dengan Program Kampung Iklim (Porklim) yang mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

    "Program ini kami harapkan bisa menjadi solusi untuk mengatasi kesulitan akses air bersih di Balikpapan, dengan memanfaatkan air hujan sebagai cadangan," ucap Sudirman kepada media, Jumat (15/11/2024).

    Inisiatif PAH telah dimulai di Kantor DLH sebagai percontohan dengan sistem penampungan air hujan yang diharapkan bisa diperluas ke seluruh kota.

    Tahun depan, DLH bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim untuk menyediakan bantuan 100 unit tandon air bagi setiap kelurahan, dimulai dari Kelurahan Lamaru.

    “Yang menarik dari program ini adalah peran aktif masyarakat dalam pelaksanaannya. Warga diimbau untuk memiliki inisiatif sendiri dalam membangun sistem penampungan air hujan, baik dengan menanamkan tandon di tanah atau menggunakan tandon yang diletakkan di atas tanah,” jelasnya.

    Pihaknya mendorong masyarakat untuk memiliki cadangan air. Ini bukan program pemerintah yang sepenuhnya disiapkan, tetapi lebih kepada dorongan agar masyarakat bisa memanfaatkan potensi air hujan di sekitar mereka.

    Meski sudah ada sejumlah warga yang mulai mengimplementasikan sistem ini dengan memasang tandon air, program PAH diharapkan dapat diperluas di beberapa wilayah yang masih mengalami kekurangan air dan memiliki keterbatasan ekonomi.

    “DLH juga akan mengupayakan bantuan tandon melalui kerjasama dengan pihak lain, seperti pemerintah provinsi dan perusahaan melalui program CSR,” akunya.

    Lanjutnya, program PAH juga menjadi bagian dari penilaian dalam Program Kampung Iklim, di mana salah satu kriterianya adalah sejauh mana masyarakat memanfaatkan air hujan.

    “Melalui program ini, kami ingin mengubah pola pikir masyarakat agar air hujan yang selama ini terbuang percuma bisa dimanfaatkan secara maksimal," tutupnya. 

    (Sf/Rs)